— Hubungan asmara yang langgeng memang menjadi dambaan banyak orang. Namun, dalam upaya mempertahankan hubungan, beberapa pasangan justru menerapkan cara-cara yang tidak sehat, termasuk memanipulasi pasangannya hingga mengubah karakter diri. Menurut terapis keluarga dan pakar hubungan di JustAnswer, Jennifer Kelman, LCSW, fenomena ini cukup marak terjadi. Banyak pasangan yang diam-diam memaksakan kehendak mereka, membuat pasangannya meragukan kewarasan dan nilai diri sendiri.

Lantas, apa saja indikator yang perlu diwaspadai jika Anda merasa dimanipulasi oleh pasangan? Berdasarkan rangkuman dari Best Life, Kamis (23/4/2026), berikut adalah beberapa tanda yang patut diperhatikan.

Tanda-tanda Manipulasi dalam Hubungan

1. Suka Mempermalukan

Bercanda dalam sebuah hubungan adalah hal yang wajar dan dapat mempererat ikatan. Namun, situasi berubah menjadi tidak sehat ketika candaan tersebut berkembang menjadi kebiasaan untuk menyudutkan atau secara sengaja mempermalukan tindakan sehari-hari pasangan.

“Jika Anda cukup dipermalukan, maka Anda mungkin akan mencoba mengubah dan menyesuaikan diri agar sesuai dengan apa yang mereka inginkan,” ujar Kelman.

Ia menambahkan, “Ini adalah red flag yang berbahaya karena orang yang dipermalukan mungkin mulai mempertanyakan diri mereka sendiri, dan kehilangan kepercayaan pada apa yang mereka ketahui tentang diri mereka sendiri.” Tindakan ini dapat menggerus harga diri secara perlahan, membuat Anda terus-menerus merasa serba salah dan kehilangan identitas demi memenuhi ekspektasi yang tidak masuk akal.

2. Membandingkan dengan Orang Lain

Sikap membanding-bandingkan secara terus-menerus menjadi peringatan keras yang tidak boleh diabaikan. Psikoterapis Kaytee Gillis, LCSW, mengungkapkan bahwa manipulator sering kali sengaja membandingkan pasangannya dengan orang lain, bahkan dengan mantan kekasih.

“Ini sering dilakukan untuk mencoba membuatmu merasa seolah-olah kamu tidak memenuhi standar, atau mencoba membuatmu bekerja lebih keras untuk memberi mereka sesuatu yang mereka inginkan,” ungkap Gillis.

Taktik emosional ini dirancang untuk memicu rasa ketidakamanan yang mendalam. Ketika perasaan tidak berharga menguasai, seseorang cenderung akan menggandakan pengorbanan demi kebahagiaan sang pasangan.

3. Mengawasi Setiap Aktivitas

Keinginan untuk terlibat dalam kehidupan pasangan adalah hal yang normal, seperti berbagi cerita tentang rutinitas harian. Namun, psikoterapis dan pendiri Holistic Wisdom, Lisa Lawless, PhD, menekankan adanya batasan antara perhatian tulus dan perilaku posesif ekstrem yang mengekang kebebasan.

“Ketika pasangan perlu mengetahui detail yang luar biasa tentang ke mana Anda dan dengan siapa Anda pergi, serta menjadi kesal karena tidak memiliki informasi itu atau bahkan bertindak lebih jauh dengan memberi tahu Anda apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, itu adalah bentuk manipulasi,” kata Lawless.

Ia melanjutkan, pengawasan berlebihan semacam ini bukan dilandasi rasa kasih sayang, melainkan cara untuk menegaskan kekuasaan dan mempertahankan dominasi atas pasangan.

4. Selalu Menyalahkan Orang Lain

Menerima kenyataan dan mengakui kesalahan bukanlah hal mudah bagi setiap orang. Namun, Anda patut waspada jika pasangan selalu menolak introspeksi diri dan sibuk mencari kambing hitam atas setiap insiden.

“Alih-alih sekadar mengatakan ‘Oke, kamu benar, saya tidak menanganinya sebaik yang saya bisa’, banyak orang yang manipulatif justru akan mencoba membenarkan perilaku mereka, dan bahkan mungkin mencoba meyakinkanmu bahwa mereka benar dan orang lain salah,” terang Gillis.

Pola pikir defensif ini mencerminkan keengganan mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya. “Tujuan berbohong dan menyalahkan adalah untuk menyesatkan dan menyebabkan seseorang mempertanyakan diri mereka sendiri,” tegas Kelman.

5. Melibatkan Pihak Ketiga

Perdebatan dan selisih paham adalah bagian wajar dari sebuah komitmen. Namun, situasi menjadi rumit ketika manipulator gemar menggunakan taktik penyudutan untuk memutarbalikkan fakta, seolah seluruh pertengkaran adalah kesalahan Anda.

“Ini adalah ketika seseorang membawa orang lain ke dalam argumen dalam upaya untuk membuat mereka berada di ‘pihak’ mereka untuk membantu membuktikan bahwa mereka benar,” sebut Gillis.

Mereka tidak ragu untuk menarik opini teman, keluarga, bahkan terapis ke dalam arena konflik pribadi demi mendominasi perdebatan.