— Keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi anak adalah naluri alami orang tua. Namun, dorongan perfeksionisme yang berlebihan dalam pola asuh justru berpotensi memicu gangguan makan pada anak, bahkan merusak kesehatan mental mereka.

Psikolog klinis dan Chief Clinical Officer di Equip, Erin Parks, PhD, menjelaskan bahwa orang tua yang perfeksionis kerap menunjukkan keinginan yang kaku untuk melakukan segala sesuatu tanpa cela dalam membesarkan anak. “Orang tua seperti itu sering kali menunjukkan keinginan kaku untuk melakukan segalanya tanpa cela dalam membesarkan anak-anak mereka,” ujar Parks, mengutip Parents.

Dorongan ini sering kali didasari keyakinan bahwa jika orang tua bisa melakukan segalanya dengan sempurna, maka anak-anak mereka akan baik-baik saja. Namun, realitasnya bisa berbeda, terutama ketika standar tinggi tersebut diterapkan di meja makan.

Beban Ekspektasi di Meja Makan

Ketika orang tua menetapkan standar yang terlalu tinggi terkait pola makan anak, beban ekspektasi tersebut mau tidak mau ditanggung oleh anak. Manifestasi paling nyata dari sifat perfeksionis ini sering kali terlihat dalam bentuk aturan makan yang terlalu mengekang.

“Orang tua bermaksud baik, tetapi membuat aturan ketat seperti ‘Kamu tidak boleh makan gula sama sekali’ atau ‘Kamu harus menghabiskan semua yang ada di piringmu,’ dapat berkontribusi pada hubungan yang tidak sehat dengan makan,” papar pendiri dan CEO Pediatric Health Coaching Academy, Thea Runyan.

Menurut Runyan, anak-anak bisa mulai merasa bersalah atas pilihan makanan mereka, atau bahkan cenderung menyelinap mengambil makanan yang dilarang. Pemberian stigma negatif pada jenis makanan tertentu juga dapat merusak kepercayaan diri anak.

“Mereka juga akan mulai melabeli diri mereka sendiri sebagai baik atau buruk berdasarkan apa yang mereka makan,” jelas Parks. Ia menambahkan, anak-anak sangat cepat menangkap stres orang tua terkait makanan, bahkan ketika orang tua merasa sudah berusaha menyembunyikannya.

Tanda Peringatan Dini yang Perlu Diwaspadai

Meskipun tidak semua anak dari keluarga perfeksionis akan mengalami masalah ini, kewaspadaan tetaplah penting. Salah satu indikator dini adalah ketika anak mulai menghindari acara sosial karena cemas dengan sajian hidangan yang mungkin tidak sesuai dengan aturan ketat orang tua.

“Jika anak berusia 8 tahun menyebut diri mereka ‘buruk’ karena makan sepotong kue, itu adalah waktu yang tepat untuk evaluasi kembali,” saran Runyan.

Parks menambahkan, jika seorang anak menunjukkan kecemasan atau bahkan rasa jijik sebelum makan, ini juga merupakan tanda peringatan yang perlu diperhatikan. “Stres akibat perfeksionisme orang tua dan keinginan untuk menjadi sempurna bagi anak dan orang tua terkadang bisa sangat melelahkan. Hal ini dapat menyebabkan perasaan internal kehilangan kendali,” tutur psikiater anak dan remaja dr. Asha Patton-Smith, MD.

Menghindari Kritik Kaku dan Menerapkan Pendekatan Positif

Menurut Patton-Smith, larangan yang terlalu kaku justru dapat memicu rasa penasaran berlebih pada anak. Mengatakan “tidak” pada makanan tertentu justru berpotensi membuat anak semakin menginginkannya.

“Komunikasi semacam itu telah dikaitkan dengan peningkatan risiko ketidakpuasan tubuh, perilaku pengendalian berat badan yang tidak sehat, serta berkurangnya kesejahteraan psikologis pada anak-anak dan remaja,” terang dia.

Sebagai alternatif, orang tua disarankan untuk menawarkan pengganti makanan dengan tekstur serupa. Contohnya, mengganti keripik dengan irisan apel yang sangat tipis untuk memberikan sensasi kerenyahan yang sama.

Lebih lanjut, proses perencanaan gizi sebaiknya dijadikan kegiatan komunal. Melibatkan anak dalam merencanakan makanan, mengajak mereka berbelanja, atau bahkan memasak bersama dapat meningkatkan kemungkinan mereka mau mengonsumsi makanan yang disiapkan.

“Ketika mereka menjadi bagian dari proses tersebut, mereka jauh lebih mungkin memakan apa yang telah kamu siapkan,” kata Runyan.

Cara lain yang efektif adalah dengan mengubah cara pandang orang tua terhadap makanan. Misalnya, jika sebelumnya sebuah kue dianggap sebagai makanan yang “buruk” untuk dimakan, kini dapat disampaikan bahwa makanan tersebut aman dikonsumsi asalkan dalam jumlah yang wajar.