Akses.co.id — Orang tua korban dugaan kekerasan di daycare Little Aresha, Yogyakarta, menyuarakan kepedihan mendalam atas perlakuan yang diterima anak-anak mereka. Perlakuan tersebut bahkan disamakan dengan kekejaman kamp konsentrasi.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, telah menemui beberapa orang tua yang anaknya menjadi korban di rumah dinasnya. Pertemuan tersebut berlangsung pada Minggu (26/4/2026) dari pukul 14.07 WIB hingga 16.46 WIB.
Salah satu orang tua korban, Noorman Windarto, menceritakan pengalamannya menitipkan kedua anaknya di daycare Little Aresha dalam rentang waktu yang berbeda. Anak pertamanya dititipkan sejak 2022 hingga 2025, sementara anak keduanya sejak 2024 hingga 2026.
Noorman mengaku tidak pernah mendapati kejanggalan pada anak pertamanya saat diantar atau dijemput. Namun, situasi berbeda terjadi pada anak keduanya yang selalu menangis setiap kali diantar ke daycare.
“Hampir setiap pagi kalau mandiin itu menangis, itu tanda awal yang saya tidak ketahui. Senin sampai Jumat itu pasti menangis, tapi kalau Sabtu Minggu seperti hari ini itu natural tidak ada nangis atau ketakutan mandi ya mandi, itu dampak-dampak yang baru ngeh,” ujar Noorman, Minggu (26/4/2026).
Kecurigaan Noorman semakin bertambah ketika ia menemukan luka pada tubuh anak keduanya, seperti di punggung, bibir, dan selangkangan.
“Itu pasti ya (ditemukan luka), sudah dikonfirmasi apakah adik terjedot sesuatu, jawabannya ya diplomatif ‘Nanti saya tanyakan ke miss yang mengasuh’. Kalau punggung dan bibir itu saya konsen saya kadang mandiin tidak ada luka goresan. Sampai daycare langsung difoto adik luka dari rumah lho, kedua juga sama bibir sampai ngelopek,” ungkapnya.
Noorman sempat melihat video rekaman dari kepolisian yang menampilkan kondisi anak-anak di daycare tersebut. Dalam video itu, beberapa anak terlihat diikat, tidak mengenakan pakaian lengkap, atau hanya menggunakan popok. Ada pula seorang anak yang lebih besar tampak diikat berdiri di tiang, sementara anak lainnya dibedong di lantai, kontras dengan janji fasilitas tidur di kasur yang ditawarkan.
“Video dari kepolisian, kita mau pastikan pengen lihat lagi mungkin dalam proses penyidikan kita juga paham. Saya trauma kalau lihat itu lagi, saya percayakan ke polisi,” kata Noorman.
Tergiur Fasilitas, Tak Sadar Bahaya
Keputusan Noorman untuk menitipkan anaknya di Little Aresha didasari oleh tawaran fasilitas yang menarik, termasuk jaminan kesehatan dan jam jemput yang fleksibel tanpa biaya tambahan. Sikap ramah para pengasuh dan pencantuman nama serta gelar studi mereka di bagian depan daycare turut menambah rasa percaya orang tua.
Namun, kenyataan yang dihadapi jauh dari harapan. “Ternyata fasilitas kesehatan tidak ada, enggak ada yang dijanjikan itu. Yang nomor dua hampir tiap bulan ke rumah sakit, dan divonis pneumonia,” keluh Noorman.
Ia merasa kecolongan karena tidak sempat menanyakan jumlah pasti anak yang dititipkan di daycare tersebut. Baru setelah kasus ini mencuat, Noorman mengetahui bahwa ada lebih dari 50 anak usia bayi hingga balita yang dititipkan di Little Aresha.
“Ternyata begitu pas tahu di sana ada 50 lebih ya anak yang usia bayi sampai balita tuh wah luar biasa ternyata nggak manusiawi kalau sama Kamp Guantanamo katanya lebih sadis kamp ini (Little Aresha),” tegas Noorman, menyuarakan keprihatinannya atas kondisi yang dialami para korban.
Ikuti Akses.co.id
