Regional

Ojol di Malang Beralih ke Motor Listrik, Tekan Biaya di Tengah Lonjakan BBM Nonsubsidi

Advertisement

MALANG, KOMPAS.com – Di tengah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, sejumlah pengemudi ojek online (ojol) di Kota Malang mulai melirik dan beralih ke penggunaan motor listrik sebagai kendaraan operasional. Keputusan ini didorong oleh pertimbangan efisiensi biaya yang signifikan.

Rendy Eka Putra, seorang pengemudi ojol yang telah beroperasi sejak 2019, menjadi salah satu yang mencoba peruntungan dengan motor listrik sejak dua pekan terakhir. Ia mengaku mulai merasa terbebani oleh biaya operasional motor konvensional yang terus membengkak.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi, ditambah dengan isu kelangkaan yang sempat merebak di beberapa daerah, menjadi pemicu utama Rendy untuk mencari alternatif kendaraan yang lebih ekonomis.

“Awalnya cuma pengen coba-coba nyewa motor listrik untuk ojek online, pengen tahu apa perbedaannya. Tapi kok ternyata jatuhnya lebih hemat,” ujar Rendy kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Sebelum beralih, Rendy merinci bahwa pengeluarannya untuk bahan bakar motor konvensional bisa mencapai Rp 50.000 per hari, bahkan lebih, untuk mengakomodasi aktivitasnya dari pagi hingga malam.

Namun, setelah mengadopsi motor listrik, biaya operasional hariannya mengalami penurunan drastis.

“Kalau pakai motor listrik hanya butuh dua kali charger. Itu pun kalau di rumah gratis, kalau berbayar infonya cuma Rp 5.000 sampai Rp 10.000. Jadi paling Rp 10.000 hingga Rp 20.000 sehari,” jelasnya.

Rendy menambahkan, meskipun harus merogoh kocek sebesar Rp 200.000 per bulan untuk biaya sewa motor listrik, total pengeluaran bulanannya tetap lebih hemat dibandingkan jika ia terus menggunakan motor berbahan bakar bensin.

Advertisement

Keputusan untuk menyewa motor listrik, bukan membeli, juga didasari oleh pertimbangan risiko kerusakan, terutama pada komponen baterai. Selain itu, harga motor listrik yang masih relatif tinggi juga menjadi faktor penentu.

“Saya ini sewa, karena tidak ada risiko misal ada kerusakan baterai atau lainnya. Beli juga masih mahal, di atas Rp 15 juta untuk jenis terbaru, belum lagi baterainya,” tuturnya.

Meski demikian, Rendy mengakui bahwa penggunaan motor listrik masih memiliki beberapa kekurangan, salah satunya adalah waktu pengisian daya yang lebih lama dibandingkan mengisi bahan bakar konvensional.

“Satu kali charger bisa dua hingga tiga jam menggunakan fast charge. Kalau full bisa dipakai sampai 100 kilometer. Tapi biasanya sebelum habis saya sudah pulang untuk charger, takut kehabisan di jalan,” ungkapnya.

Pengalaman selama dua pekan ini telah memantapkan keyakinan Rendy untuk sepenuhnya beralih ke motor listrik sebagai kendaraan operasional utamanya.

Ia menilai, efisiensi biaya yang ditawarkan oleh motor listrik menjadi pertimbangan krusial di tengah kondisi harga BBM yang terus merangkak naik.

“Ke depan kemungkinan akan menggunakan motor listrik saja karena jauh lebih hemat, motor konvensional tetap pakai tapi untuk kebutuhan istri di rumah,” pungkasnya.

Advertisement