SAMARINDA – Sehari pasca-aksi unjuk rasa yang berujung ricuh di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur, suasana di pusat pemerintahan tersebut masih diselimuti ketegangan dan penjagaan ketat. Akses awak media untuk mendapatkan keterangan langsung dari Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, tertutup rapat, sementara fasilitas fisik kantor dilaporkan mengalami kerusakan.
Pantauan Kompas.com pada Rabu (22/4/2026) siang, area kantor gubernur ditetapkan sebagai “area steril”. Petugas keamanan membatasi pergerakan wartawan dan melarang pengambilan gambar di dalam kompleks perkantoran, mengutip instruksi pimpinan. Upaya konfirmasi kepada Rudy Mas’ud pun tidak membuahkan hasil. Meskipun sempat diketahui berada di lingkungan kantor untuk beribadah, gubernur memilih bergeser menuju rumah jabatannya tanpa memberikan pernyataan apa pun kepada media yang telah menunggu sejak pagi.
Fasilitas Rusak dan Jejak Kericuhan
Hingga kini, pemulihan di kawasan depan kantor gubernur belum sepenuhnya tuntas. Jejak-jejak ketegangan dari aksi sebelumnya masih terlihat jelas di beberapa titik. Pagar kawat berduri masih mengelilingi area tersebut hingga ke rumah jabatan, sementara videotron di bagian depan kantor ditutup papan tripleks sebagai langkah perlindungan. Kondisi lingkungan pun tak luput dari dampak kerusakan. Tanaman di area taman rusak dan tercabut, trotoar serta badan jalan dilumuri oli, diduga sisa dari dinamika aksi massa. Gulungan kawat berduri yang masih berserakan di trotoar juga menghambat akses pejalan kaki.
Aliansi Masyarakat: Fokus Kami di DPRD, Bukan Gubernur
Dikonfirmasi terpisah, Koordinator Lapangan Aliansi Perjuangan Masyarakat Kaltim, Erly Sopiansyah, menegaskan bahwa sejak awal pihaknya tidak menargetkan pertemuan dengan gubernur. Fokus utama massa adalah mendesak fungsi pengawasan legislatif.
“Goal kami ada di DPR Provinsi Kalimantan Timur. Alhamdulillah, tuntutan kami sudah diterima pimpinan tujuh fraksi dan disepakati. Tinggal kami mengawal prosesnya,” ujar Erly, Rabu (22/4/2026).
Advertisement
Terkait kerusakan yang terjadi, Erly menyebut komitmen awal aliansi adalah aksi damai hingga pukul 17.00 WITA. Ia menyatakan bahwa dinamika kericuhan yang terjadi setelah jam tersebut berada di luar kendali kelompoknya. Erly juga mengungkapkan apresiasi atas dukungan masyarakat yang memberikan donasi logistik dan dana mencapai Rp 26 juta untuk mendukung aksi tersebut.
Respons Gubernur Melalui Media Sosial
Meskipun enggan ditemui secara langsung di kantornya, Gubernur Rudy Mas’ud memberikan tanggapan melalui unggahan di akun Instagram resminya. Ia menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa dan masyarakat yang menjalankan fungsi kontrol sosial.
“Masukan hari ini sangat berarti dan berkelas. Kami berharap masyarakat bisa menjadi mata dan telinga dalam melakukan perbaikan dan evaluasi kinerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur,” tulis Rudy dalam unggahannya.
Hingga kini, publik masih menanti respons konkret pemerintah provinsi terkait tuntutan evaluasi anggaran rumah jabatan senilai Rp 25 miliar dan pengadaan mobil mewah Range Rover seharga Rp 8,5 miliar yang menjadi pemicu utama kemarahan massa.






