Akses.co.id — Momen kekuatan menengah atau middle powers kini semakin mencuat dalam lanskap hubungan internasional yang dinamis. Fenomena ini ditandai dengan pergeseran tatanan dunia yang dampaknya belum dapat diprediksi sepenuhnya.
“Kita sedang menyaksikan momen kekuatan menengah saat ini. Dunia sedang bergeser, bertransformasi, dan kita tidak tahu bagaimana transformasi ini akan berakhir,” ujar Dino Patti Djalal, pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), dalam forum diskusi internasional Middle Power Conference di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Dino menjelaskan bahwa middle powers bukan sekadar merujuk pada ukuran negara, melainkan mencakup beberapa indikator utama. Indikator tersebut meliputi jumlah penduduk, luas wilayah, kekuatan ekonomi, kapasitas militer dan teknologi, serta ambisi politik luar negeri. Lebih lanjut, ia menambahkan, “apakah mereka memiliki kebijakan luar negeri atau ambisi diplomatik tertentu yang membuat mereka mampu melampaui kemampuan mereka.”
Peran Pakistan sebagai Mediator
Tren peningkatan pengaruh middle powers terlihat jelas dalam berbagai dinamika global, salah satunya dalam ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Dino menyoroti peran Pakistan sebagai negara middle power yang berhasil menengahi kedua negara tersebut.
“Dan kami menyebut kekuatan-kekuatan ini sebagai middle powers (kekuatan menengah),” ungkapnya. “Yang kita ketahui adalah bahwa sekelompok kekuatan menengah dari utara dan selatan, sekitar 20 negara, akan memainkan peran penting dalam membentuk masa depan tatanan dunia berikutnya. Kita melihat hal itu, misalnya, dalam perang yang kita hadapi saat ini. Anda lihat perang Amerika Serikat (AS) dan Iran,” katanya.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI ini menilai bahwa konflik AS-Iran merupakan pertempuran antara negara adidaya dan negara kekuatan menengah. “Dan AS tidak memenangkan perang tersebut. Bahkan, menurut banyak laporan, Iran tampaknya memiliki keunggulan,” ujarnya.
Dino mengamini adanya middle powers yang semakin berpengaruh dalam menentukan arah perang, perdamaian, dan stabilitas global, yang tidak lagi semata-mata ditentukan oleh negara adidaya. “Jadi kita melihat bagaimana dinamika perang dan perdamaian serta arah tatanan dunia. Kita melihat banyak aksi dan pengaruh dari negara-negara yang dikenal sebagai kekuatan menengah,” ujar Dino.
Senada dengan Dino, pakar kebijakan, penulis, dan jurnalis asal Pakistan, Nasim Zehra, mengungkapkan bahwa Pakistan telah berupaya membangun komunikasi dengan Washington sejak 2025. Meski membuka jalur diplomasi, Pakistan tetap teguh pada pendiriannya.
“Pakistan tidak berkompromi, tidak meninggalkan posisi sistemiknya, baik itu terkait isu Palestina, atau mendukung Iran dan membela kedaulatan Iran, serta mengutuk serangan tersebut,” ujar Nasim dalam forum yang sama.
Nasim berpendapat bahwa meskipun kekuatan menengah memainkan peran, negara-negara global utama dan pemimpin negara-negara Selatan secara aktif mendukung inisiatif ini. “Secara proaktif memimpin hingga ke arah peran kemitraan—di mana terdapat poin penting yang muncul, yaitu kedaulatan setiap negara, bekerja sesuai dengan Piagam PBB, dan deeskalasi segera.”
Jerman dan Kemitraan di Tengah Perubahan
Sementara itu, Duta Besar Jerman untuk RI, Ralf Beste, menegaskan komitmen negaranya untuk menjaga kemitraan dengan Amerika Serikat.
“Kami ingin mempertahankan kemitraan karena itu adalah kepentingan bersama. Demi kepentingan ini, kami harus mengisi celah-celah yang terbuka, harus meningkatkan upaya, harus berinvestasi lebih banyak dalam hal keamanan sebagai dasar kemakmuran, karena kami tidak dapat bergantung pada bantuan Amerika—bantuan tanpa syarat, bantuan persahabatan, sebanyak yang kami lakukan sebelumnya,” ujar Beste.
Beste mengakui bahwa dalam kondisi tertentu, Eropa perlu siap bertindak mandiri. Namun, ia menekankan bahwa Jerman tidak dapat meniru pendekatan negara-negara middle powers seperti India atau Indonesia.
“Kami harus melakukannya sendiri, kami tidak melakukannya dengan cara yang sama seperti yang dilakukan India atau Indonesia, secara bebas dan aktif,” tambah Beste.
Indikator Pengaruh Middle Powers
Peningkatan pengaruh middle powers juga terlihat dari sisi ekonomi dan pertahanan. Dino menyampaikan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara yang tergabung dalam BRICS kini melampaui kelompok negara G7. Sementara itu, anggaran militer negara-negara seperti Korea Selatan, Arab Saudi, dan India juga telah melebihi beberapa negara Eropa.
“Jadi dengan semua ini, asumsinya adalah bahwa kekuatan menengah, 20 kekuatan menengah di utara dan selatan akan memainkan peran penting dalam membentuk tatanan dunia berikutnya,” ujar Dino.
Meskipun demikian, peran middle powers ke depan masih menyisakan sejumlah pertanyaan. “Apakah mereka dapat bersatu atau tidak? Apakah mereka dapat menyelesaikan konflik, atau apakah mereka dapat memainkan peran kepemimpinan, memperbaiki sistem multilateral, dan seterusnya.”
Indonesia sebagai Kekuatan Menengah
FPCI melihat semakin banyak hubungan bilateral yang diperkuat dalam dua tahun terakhir, seperti antara Indonesia dengan Australia, Prancis, India, Korea Selatan, dan Turki.
“Lihat, kita (Indonesia) jelas sekarang adalah kekuatan menengah, dan sangat penting bagi kita untuk mengembangkan strategi kekuatan menengah. Ketahui apa ambisi kita, ketahui apa aset kita, ketahui posisi kita dalam tatanan dunia yang berkembang,” kata Dino.
Indonesia dinilai perlu menentukan negara-negara middle powers mana yang harus menjalin hubungan lebih erat dan membangun koalisi strategis yang berkelanjutan. “Kami yakin (itu) merupakan strategi yang sempurna untuk kebijakan luar negeri Indonesia yang independen dan aktif,” tambahnya.
Ikuti Akses.co.id
