Akses.co.id — JAKARTA, Kompas.com – Sektor konsumer diperkirakan menghadapi tantangan pada kuartal II-2026 seiring berakhirnya musim liburan yang biasanya mendongkrak konsumsi rumah tangga. Ditambah lagi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi memicu kenaikan harga bahan baku, khususnya plastik yang banyak digunakan industri kemasan sektor ini.
Perlambatan sektor konsumer non-siklikal terlihat pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026), yang melemah sebesar 0,59 persen.
Abdul Azis Setyo Wibowo, Equity Research Analyst di PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai prospek sektor konsumer pada kuartal II-2026 cenderung moderat. “Pertumbuhan yang relatif terbatas seiring konsumsi rumah tangga yang masih pulih secara bertahap,” ujar Azis kepada Kompas.com, Jumat (24/4/2026).
Ia menambahkan, absennya katalis musiman seperti Ramadhan atau Lebaran membuat kinerja kuartal II-2026 diprediksi lebih normal. Oleh karena itu, pertumbuhan bisnis sektor konsumer akan lebih bergantung pada volume penjualan dan stabilitas harga.
Meskipun demikian, Azis menekankan bahwa sektor konsumer masih memiliki sifat defensif karena didukung oleh kebutuhan sehari-hari. Namun, dalam kondisi saat ini, ketahanan sektor tersebut mulai tertekan akibat pelemahan daya beli serta kenaikan biaya bahan baku dan operasional. “Sehingga margin menjadi lebih sensitif,” imbuhnya.
Saat ini, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan fokus pada trading jangka pendek untuk saham ULTJ dengan target harga di kisaran 1.640-1.710 dan level support di 1.475-1.400.
Sektor Konsumer Tetap Pilihan Defensif
Berbeda pandangan, Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas, berpendapat bahwa sektor konsumsi primer masih menjadi salah satu pilihan defensif di tengah volatilitas pasar. “Secara umum pada kuartal IV-2025 mayoritas emiten mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih (bottom line) dua digit,” jelasnya.
Angka tersebut mengindikasikan bahwa permintaan terhadap kebutuhan primer tetap stabil. Dari sisi profitabilitas dan valuasi, setiap emiten menunjukkan karakteristik yang bervariasi.
PT Campina Ice Cream Industri Tbk (CAMP) misalnya, mencatatkan gross profit margin (GPM) sebesar 47,5 persen. Angka ini mencerminkan kekuatan pricing power dan posisi produknya, dengan valuasi yang relatif moderat pada level price to earning ratio (P/E) sebesar 17,0 kali.
Price to earning ratio (PER) merupakan rasio keuangan yang membandingkan harga saham saat ini dengan laba bersih per saham. Rasio ini digunakan untuk mengukur kewajaran valuasi sebuah saham. Umumnya, angka PER yang rendah atau di bawah 10 diasumsikan sebagai harga yang murah, sementara PER yang tinggi mengindikasikan ekspektasi pertumbuhan tinggi atau harga yang terlalu mahal.
Selanjutnya, Ratih menjelaskan bahwa saham Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk (ULTJ) memiliki GPM 31,7 persen dengan valuasi paling rendah di antara emiten sejenis pada P/E 11,1 kali. Angka ini menjadikan saham ULTJ menarik dari perspektif value.
Di sisi lain, Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) memiliki margin yang lebih rendah, yaitu 27,4 persen. Namun, saham ini diperdagangkan pada valuasi yang lebih tinggi dengan rasio P/E sebesar 18,8 kali.
Ratih menambahkan, pasar menantikan rilis kinerja keuangan kuartal I-2026 yang diperkirakan tumbuh moderat, sejalan dengan pola yang terlihat pada kuartal IV-2025. Momentum musiman dari hari besar keagamaan diprediksi tetap menjadi pendorong utama konsumsi domestik dalam jangka pendek pada kuartal I-2026.
Tantangan Sektor Konsumer di Kuartal II-2026
Namun demikian, Ratih mengingatkan bahwa prospek sektor konsumer ke depan tidak sepenuhnya tanpa risiko. “Memasuki kuartal II-2026, terdapat potensi perlambatan kinerja baik secara kuartalan maupun tahunan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, dari sisi konsumen, mulai terlihat adanya pelemahan daya beli masyarakat. Kondisi ini tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi 122,9 pada Maret 2026 dari bulan sebelumnya yang tercatat 125,2.
“Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan pada persepsi dan kemampuan konsumsi rumah tangga akibat kondisi suku bunga yang tinggi, depresiasi rupiah, hingga kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah,” ucapnya.
Dari sisi emiten, Ratih menyebutkan, tantangan juga datang dari kenaikan cost of goods sold (COGS) yang dipicu oleh tekanan harga bahan baku maupun pelemahan nilai tukar. Kondisi ini berisiko menekan margin apabila emiten tidak melakukan penyesuaian harga jual (ASP) di tengah melemahnya konsumsi domestik.
Secara keseluruhan, menurut Ratih, sektor konsumsi primer diperkirakan tetap defensif, namun dengan laju pertumbuhan yang moderat ke depan. Emiten dengan efisiensi operasional tinggi, kemampuan menjaga margin, serta pricing power yang kuat akan mampu bertahan di tengah tekanan tersebut.
Ratih sendiri memberikan beberapa pilihan saham dan rencana trading plan secara teknikal yang dapat diperhatikan oleh investor:
- Buy CMRY Rp 4.630 dengan target harga pada resistance di level Rp 4.900 serta pertimbangkan support di level Rp 4.400.
- Buy ULTJ closing price Rp 1.565 dengan target harga pada resistance di level Rp 1.660 serta pertimbangkan support di level Rp 1.530.
- Buy MYOR closing price Rp 1.820 dengan target harga pada resistance di level Rp 1.950 serta pertimbangkan support di level Rp 1.750.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Ikuti Akses.co.id
