— YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Biaya terjangkau dan ulasan positif di media sosial menjadi daya tarik utama bagi orang tua untuk menitipkan anak mereka di daycare Little Aresha, Yogyakarta. Namun, pilihan tersebut kini berujung pada kasus dugaan kekerasan anak yang tengah ditangani kepolisian.

Salah satu orang tua, Aldewa, menceritakan alasannya memilih daycare yang berlokasi di Umbulharjo, Kota Yogyakarta, tersebut. Ia menitipkan anaknya yang kini berusia tiga tahun di sana sejak satu setengah tahun lalu. “Tergiur karena review (positif) di Google Maps dan murahnya biaya,” ujar Aldewa pada Sabtu (25/4/2026), mengutip dari Tribunnews.com.

Biaya sebesar Rp 1 juta per bulan dianggap Aldewa cukup terjangkau, terutama jika dibandingkan dengan Upah Minimum Kota (UMK) Yogyakarta. Selain itu, sambutan hangat dan sikap sopan dari ketua yayasan serta para pengasuh saat pertama kali mendaftar semakin memperkuat keyakinannya.

“Ditambah Miss D (ketua yayasan) yang menyambut kami dan Miss lain (pengasuh) ketika mendaftar begitu sopan, halus, dan lemah lembut,” tuturnya.

Laporan Harian Positif, Namun Ada Keanehan

Selama anaknya dititipkan, Aldewa mengaku rutin menerima laporan kegiatan harian. Laporan tersebut selalu menyebutkan kondisi anak dalam keadaan normal, termasuk soal waktu istirahat dan konsumsi makanan. Bahkan, anaknya dilaporkan selalu menghabiskan bekal yang diberikan oleh pihak daycare.

Namun, kecurigaan mulai muncul ketika berat badan anaknya tidak menunjukkan peningkatan selama tiga bulan terakhir. “Hal janggal mungkin soal bekal ya yang katanya selalu habis tapi tiga bulan terakhir berat badan tidak bertambah,” katanya.

Kondisi ini awalnya dianggap biasa, namun belakangan menimbulkan pertanyaan mengenai keakuratan laporan yang diterimanya.

Temuan Luka Lebam dan Tanda Ketakutan

Selain kejanggalan pada laporan harian, Aldewa juga pernah menemukan luka lebam di paha kiri anaknya. “Sekira seminggu yang lalu, paha kiri anak saya lebam. Saya kira mungkin jatuh karena tidak ada laporan perihal itu dari pihak DC (daycare),” terangnya.

Lebih mengkhawatirkan lagi, anaknya kerap menunjukkan tanda-tanda ketakutan saat akan dititipkan. Ia akan menangis histeris dan memohon agar tidak perlu bersekolah di daycare tersebut.

“Yang jelas setiap anak saya mau sekolah, selalu ketakutan menangis kejer nggak mau sampai bilang ‘Please ayah mama, adek nggak mau sekolah’,” ungkap Aldewa.

53 Anak Terindikasi Korban Kekerasan

Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizki Adrian, mengungkapkan bahwa dari total 103 anak yang dititipkan di daycare Little Aresha, sebanyak 53 di antaranya terindikasi menjadi korban dugaan kekerasan. Mayoritas korban berusia di bawah dua tahun.

Perkiraan awal kepolisian, tindakan kekerasan tersebut telah berlangsung cukup lama, mengingat rata-rata masa kerja para pengasuh di daycare tersebut lebih dari satu tahun.

Atas kasus ini, polisi telah mengamankan total 30 orang yang diduga terlibat. “Alhamdulillah kemarin juga kami telah mengamankan sekitar 30 orang secara maraton. Mungkin rekan-rekan juga lihat yang ada di Polresta ini juga sekitar 30 orang itu dari tadi malam, sampai dengan detik ini juga masih dilakukan pemeriksaan, pendalaman oleh Unit PPA,” jelas Adrian.

Dari 30 orang yang diamankan, 25 di antaranya adalah pengasuh, sementara lima orang lainnya terdiri dari Ketua Yayasan dan pejabat di daycare tersebut.