— Chelsea, tim yang dihuni pemain-pemain berlabel mahal, tengah terpuruk dalam lima pertandingan beruntun di Liga Inggris. Rentetan kekalahan terbaru, termasuk takluk 0-3 dari Brighton & Hove Albion, mengulang catatan buruk yang terakhir kali terjadi pada tahun 1912.

Situasi ini sulit dipahami, bahkan di tengah laporan adanya keretakan di ruang ganti dan indikasi pemain yang bermain setengah hati. Panji-panji The Blues seolah robek, kehilangan arah dan nakhoda. Liam Rosenior pun harus meninggalkan Stamford Bridge dengan raut kecewa.

Keterpurukan ini berawal setelah Chelsea melakoni laga 16 besar Liga Champions Eropa di Parc des Princes, Paris. Meskipun sempat menunjukkan perlawanan menjanjikan hingga skor 2-2, keunggulan Paris Saint-Germain racikan Luis Enrique terbukti menentukan. Blunder kiper Filip Jorgensen menjadi awal dari rentetan tiga gol tambahan yang membuat Chelsea kalah 2-5 dari PSG pada pertemuan pertama.

Pertandingan tersebut menjadi titik balik keterpurukan tim London Barat di era Rosenior. Setelahnya, Chelsea takluk 0-1 dari Newcastle di Premier League, sebelum kembali dihantam PSG 0-3 di Stamford Bridge pada leg kedua. Mimpi melangkah jauh di kompetisi antarklub tertinggi Eropa pun kandas.

Rentetan kekalahan berlanjut. Everton, Manchester City, Manchester United, dan Brighton berhasil membungkam Chelsea tanpa mampu membalas satu gol pun. Gawang Chelsea dihunjam 17 gol dalam lima laga Premier League, sebuah catatan yang sangat buruk, apalagi untuk klub yang pada Juli 2025 lalu sukses menggenggam trofi Piala Dunia Antarklub.

Alih-alih bersaing di papan atas, Chelsea melorot dari peringkat empat besar, ke posisi kelima, keenam, dan kini terseok-seok di posisi kedelapan. Posisi ini tidak mencerminkan potensi besar para pemain muda bertalenta yang dimiliki Chelsea.

Tantangan untuk McFarlane dan Para Pemain

Kini, bola kembali berada di tangan Calum McFarlane, sama seperti ketika Enzo Maresca terdepak dari kursi pelatih pada 1 Januari 2026. Pertanyaan besar menggantung: sanggupkah The Blues bangkit dalam sisa empat laga Premier League dan semifinal Piala FA? Ini menjadi tantangan bagi McFarlane dan para pemain seperti Marc Cucurella, jika memang mereka adalah kumpulan individu bertalenta dan profesional.

McFarlane sempat memberikan kesan pertama yang tidak mengecewakan saat memimpin Chelsea bertandang ke Stadion Etihad pada Januari lalu. Saat itu, Manchester City belum menemukan performa seganas sekarang. Debut McFarlane berakhir dengan hasil imbang 1-1, membawa pulang satu poin ke London.

Kini, fokus utama tertuju pada semifinal Piala FA melawan Leeds United yang akan digelar di Stadion Wembley pada Minggu (26/4/2026). Leeds bukanlah lawan yang mudah. Di musim ini, Chelsea telah bertemu dua kali, dengan hasil kekalahan 1-3 saat diasuh Maresca dan imbang 2-2 di bawah asuhan Rosenior.

Meskipun menghadapi kendala cedera, skuad Chelsea dinilai masih memiliki keunggulan atas Leeds. Inilah momen krusial yang harus dimenangkan untuk menyelamatkan musim yang berantakan dan memalukan.

“Mari lubangi atap Wembley,”

Kalimat metaforis Freddie Mercury kepada Queen ini seolah harus digaungkan oleh Chelsea. Dalam keterpurukan, vokalis legendaris itu mampu membakar semangat rekan-rekannya. Saat ini, menghadapi laga krusial kontra Leeds, Chelsea harus memenangkan pertandingan demi melangkah ke final Piala FA dan, jika memungkinkan, meraih trofi.

Peluang di Sisa Musim

Duel melawan Leeds menjadi penentu. Selain kans di Piala FA, kemenangan akan memberikan dorongan mental bagi pemain Chelsea yang rapuh dalam tujuh laga terakhir di Liga Champions dan Premier League. Jika mampu mengalahkan Leeds, Chelsea berpotensi memiliki modal mental untuk menghadapi Nottingham Forest, Liverpool, Tottenham Hotspur, dan Sunderland di sisa kompetisi.

Meskipun peluang untuk kembali ke peringkat kelima Liga Champions musim depan terbilang tipis, Chelsea belum sepenuhnya tertutup. Syaratnya, Liverpool harus kalah dalam dua pertandingan sebelum duel mereka di Anfield pada 9 Mei, dan Chelsea harus memenangkan semua sisa laga Premier League mereka. Namun, ini adalah skenario yang sangat berat, bahkan nyaris mustahil bagi tim yang minim pengalaman di kancah Premier League.

Sebagai kumpulan pemain bertalenta, Chelsea dituntut untuk bertarung hingga akhir, hingga harapan benar-benar pupus. Enzo Fernandez dan kawan-kawan harus menjawab tantangan ini di lapangan, bukan sebagai tim yang mudah patah semangat, melainkan sebagai sebelas pemain yang mampu menjinakkan “topan” di ruang ganti dan lapangan.

Para pemain, termasuk Cole Palmer yang belakangan kerap berbicara kepada media, wajib menggali kembali memori kejayaan Chelsea. Sebagian besar skuad telah berada di klub sejak era Mauricio Pochettino dua musim lalu. Di bawah asuhan Maresca, Chelsea bahkan sempat meraih trofi Liga Konferensi Eropa dan Piala Dunia Antarklub 2025.

Tak hanya itu, Palmer dan rekan-rekannya tentu mengetahui kiprah gemilang Chelsea sejak 2003 di bawah kepemilikan Roman Abramovich. Chelsea memiliki identitas juara, DNA abad ke-21. Klub ini masih yang terbaik di London, dengan dua trofi Liga Champions dan lima trofi Premier League di abad ini.

Dibandingkan dengan rival sekota seperti Arsenal dan Tottenham Hotspur, Chelsea telah merasakan manisnya gelar Eropa. Arsenal dan Spurs, meskipun kerap bersaing di papan atas Inggris, baru sekali merasakan final Liga Champions dengan hasil akhir yang pahit.

Wembley bisa jadi “nafas terakhir” bagi Chelsea. Kemenangan atas Leeds akan membawa mereka berhadapan dengan pemenang antara Manchester City dan Southampton di final. Meraih Piala FA akan mengantarkan Chelsea ke Liga Europa musim depan, sebuah pencapaian yang jauh lebih baik daripada terdampar tanpa kompetisi Eropa.

Kemenangan atas Leeds juga akan menjadi modal penting untuk menghadapi Nottingham Forest, Liverpool, Spurs, dan Sunderland. Laga-laga ini diprediksi tidak akan mudah. Nottingham dan Spurs berjuang untuk menghindari degradasi, sementara Liverpool bertekad mengamankan tiket Liga Champions.

Mengingat performa klub-klub Inggris di Eropa, Inggris berpeluang mendapatkan lima tiket Liga Champions musim depan, bahkan enam jika Aston Villa menjuarai Liga Europa dan terlempar dari empat besar Premier League.

Badai di London

Di luar Chelsea, klub-klub London lainnya seperti Arsenal, Spurs, dan West Ham United juga tengah dilanda badai performa. Arsenal baru saja ditaklukkan Manchester City di Etihad, yang membuka jalan bagi pasukan Pep Guardiola untuk mengambil alih puncak klasemen. Di laga tunda, City mengalahkan Burnley, membuat Bernardo Silva memimpin klasemen sementara.

Kini, kedua klub memiliki poin dan selisih gol yang sama, namun City unggul dalam produktivitas gol serta rekor head-to-head. Lima laga tersisa akan menjadi pertarungan sengit bagi kedua tim.

Arsenal terancam kehilangan momentum. Rentetan hasil buruk, termasuk kekalahan dari Manchester City di final Carabao Cup, dapat berdampak pada mental pemain. Sebelum dibungkam City, Arsenal juga menyerah 1-2 dari Bournemouth.

Declan Rice sempat menyatakan, “Ini belum selesai,” kepada rekan-rekannya. Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar, karena kompetisi masih menyisakan lima pertandingan. Namun, membalikkan keadaan bukanlah perkara mudah.

Mikel Arteta dituntut untuk membangkitkan semangat juang anak asuhnya. Jika mampu memimpin klasemen hingga pekan ke-32, mengapa tidak meraih gelar di akhir musim? Ini adalah momen krusial bagi Arsenal dan Arteta, atau mereka akan kembali terjebak dalam “kutukan” runner-up dalam empat musim beruntun.

Kondisi Spurs lebih memprihatinkan. Di era Pochettino, mereka langganan papan atas dan nyaris juara Inggris dan Eropa. Kini, Spurs dengan skuad yang mumpuni harus berjuang keras menghindari degradasi, dengan peringkat 18 dan lima laga tersisa yang wajib dimenangkan.

West Ham United berada di peringkat ke-17, hanya satu strip di atas zona degradasi. Sepanjang musim ini, mereka berjuang di papan bawah, menjadikan setiap pertandingan layaknya final untuk bertahan di kasta teratas.

Dengan level persaingan yang berbeda, Chelsea berjuang untuk kembali ke kompetisi Eropa musim mendatang. Perjuangan itu akan dimulai dari Stadion Wembley, London, pada 26 April 2026.