Akses.co.id — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau jemaah haji asal Indonesia untuk tidak hanya memusatkan ibadah pada diri sendiri, tetapi juga turut mendoakan kebaikan bagi bangsa dan para pemimpinnya saat berada di Tanah Suci. Pesan ini disampaikan menjelang puncak musim haji 2026, menekankan dimensi spiritual dan sosial dari ibadah haji.
Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Ni’am Sholeh, menyatakan bahwa doa yang dipanjatkan di tempat-tempat mustajab seperti Makkah dan Madinah memiliki nilai istimewa. Oleh karena itu, momen haji menjadi kesempatan emas untuk memohon kemaslahatan umat dan negara, bukan sekadar kepentingan pribadi.
Doa untuk Bangsa sebagai Amanah Spiritual
Profesor Ni’am menegaskan bahwa jemaah haji memegang peran strategis sebagai representasi umat Islam Indonesia di hadapan Allah SWT. “Mendoakan bangsa Indonesia agar dijadikan bangsa yang aman, damai, sejahtera; pemimpinnya diberikan ma’unah oleh Allah SWT dan diberikan petunjuk dan kekuatan untuk memimpin dengan adil untuk mewujudkan masyarakat yang mutamaddin,” ujar Prof Ni’am, dilansir dari laman MUI pada Jumat (24/4/2026).
Ajakan ini didasari keyakinan dalam tradisi Islam bahwa doa di tempat-tempat mustajab seperti Makkah dan Madinah memiliki peluang besar untuk dikabulkan. Hal ini sejalan dengan ajaran dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, yang menjelaskan bahwa doa seorang Muslim memiliki dimensi sosial, yaitu mendoakan sesama sebagai bentuk kepedulian dan ukhuwah.
Fokus pada Ibadah, Hindari Euforia Berlebih
Selain mengajak untuk berdoa, MUI juga mengingatkan jemaah untuk tetap menjaga fokus utama ibadah haji, yaitu menjalankan seluruh rangkaian ritual dengan khusyuk dan sesuai tuntunan syariat. Prof Ni’am mengingatkan bahwa suasana di Tanah Suci, meskipun penuh semangat beribadah, dapat membuat jemaah terlena.
“Kondisi fisik yang kadang memiliki keterbatasan karena suasana senang di tempat yang baru, sehingga terlena. Akhirnya pada saat harian kondisi fisik sudah terkuras. Ini penting untuk dipahami kepada seluruh jemaah haji,” tegasnya.
Menjaga kondisi fisik merupakan bagian penting dari kesiapan ibadah, sebagaimana dijelaskan dalam buku Manasik Haji dan Umrah karya Syaikh Wahbah az-Zuhaili. Ibadah haji bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga aktivitas fisik yang menuntut stamina.
Pentingnya Ilmu dan Refleksi Sejarah
MUI juga mendorong jemaah untuk memperdalam pemahaman sejarah Islam, terutama sebelum melakukan ziarah ke lokasi-lokasi penting di Madinah. Menurut Prof Ni’am, ziarah seharusnya menjadi momentum refleksi spiritual, bukan sekadar aktivitas wisata religi.
“Misalnya saat ziarah ke Masjid Quba, Masjid Qiblatain, ke Jabal Uhud, ke Makam Baqi, dan tentu ke Makam Rasulullah SAW serta para sahabat,” jelasnya.
Pendekatan ini sejalan dengan pandangan dalam buku Ar-Raheeq Al-Makhtum karya Safiur Rahman Mubarakpuri, yang menekankan bahwa memahami jejak perjuangan Nabi dan sahabat dapat memperkuat keimanan serta menumbuhkan kesadaran sejarah dalam beragama.
Kepatuhan terhadap Aturan dan Bimbingan Petugas
MUI juga menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku selama pelaksanaan haji, baik dari pemerintah Indonesia maupun otoritas Arab Saudi. Hal ini mencakup arahan dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), tata tertib ibadah, hingga aturan teknis di lapangan.
Dalam konteks fikih, kepatuhan terhadap aturan ini termasuk bagian dari ketaatan kepada ulil amri selama tidak bertentangan dengan syariat. Hal ini juga dijelaskan dalam berbagai literatur klasik seperti Al-Ahkam As-Sulthaniyyah karya Al-Mawardi.
Haji Mabrur: Tujuan Utama yang Harus Dijaga
Seluruh pesan yang disampaikan MUI bermuara pada satu tujuan utama, yaitu meraih predikat haji mabrur. Untuk mencapainya, jemaah tidak hanya dituntut memenuhi rukun dan syarat secara formal, tetapi juga menjaga niat, adab, serta kualitas spiritual selama berada di Tanah Suci.
Prof Ni’am menekankan pentingnya terus belajar dan memperdalam ilmu manasik agar ibadah yang dilakukan benar secara syar’i. Dengan memadukan antara doa untuk bangsa, fokus ibadah, pemahaman sejarah, serta kepatuhan terhadap aturan, diharapkan jemaah haji Indonesia tidak hanya kembali dengan predikat haji mabrur, tetapi juga membawa dampak positif bagi kehidupan sosial dan kebangsaan. Di tengah berbagai tantangan global, doa dari Tanah Suci menjadi harapan bahwa Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa yang damai, adil, dan penuh keberkahan.
Ikuti Akses.co.id
