Akses.co.id — Sebuah formasi kosmik langka yang menyerupai huruf “X” berhasil tertangkap kamera di langit Republik Ceko, menampilkan perpaduan dramatis antara meteor fireball dan Komet PanSTARRS di atas reruntuhan kastil bersejarah. Momen luar biasa ini diabadikan oleh dua fotografer, Petr Horálek dan Josef Kujal, ketika mereka tengah berupaya mendokumentasikan ekor panjang Komet C/2025 R3 (PanSTARRS).
Saat sedang fokus pada komet, sebuah meteor fireball tiba-tiba melintas dan meledak di atmosfer, menciptakan siluet huruf “X” yang nyaris sempurna tepat di atas Kastil Kunětická Hora yang berusia 500 tahun.
European Fireball Network telah mengonfirmasi bahwa kilatan cahaya tersebut merupakan meteor fireball yang meledak sesaat setelah memasuki atmosfer Bumi. “Berapa besar kemungkinannya,” tulis Horálek dalam unggahan di media sosialnya, seperti dikutip Live Science. Ia menambahkan bahwa keberuntungan waktu sangat krusial, sebab jika momen tersebut terjadi hanya 15 menit lebih lambat, cahaya matahari terbit kemungkinan besar akan menutupi keindahan ekor komet.
Komet PanSTARRS Diprediksi Jadi Kandidat Komet Terbesar 2026
Komet PanSTARRS (C/2025 R3) merupakan komet periode panjang yang diperkirakan berasal dari awan Oort, sebuah reservoir es raksasa di tepi tata surya. Komet ini dijadwalkan mencapai titik terdekatnya dengan Matahari, atau perihelion, pada Minggu, 19 April 2026.
Sejak pertama kali ditemukan pada September 2025, para astronom telah memprediksi PanSTARRS akan menjadi komet yang paling mudah diamati sepanjang tahun 2026. Prediksi ini semakin menguat setelah pesaing utamanya, komet C/2026 A1 (MAPS), dilaporkan hancur berkeping-keping saat mendekati Matahari awal bulan ini.
Meskipun Komet PanSTARRS kini mulai memudar dari pandangan mata telanjang, kehadirannya telah menyuguhkan pertunjukan langit yang memukau bagi pengamat di Bumi. Fenomena “fotobom” oleh meteor bola api ini menambah keajaiban penampakannya.
Fenomena “Fireball Season” Meningkatkan Peluang Ledakan Meteor
Ledakan meteor yang tertangkap kamera tersebut bertepatan dengan apa yang disebut NASA sebagai “Fireball Season” atau musim bola api. Fenomena ini umumnya terjadi antara bulan Februari hingga April setiap tahunnya, di mana jumlah batu luar angkasa yang meledak di atmosfer Bumi dilaporkan meningkat antara 10 hingga 30 persen dibandingkan periode lainnya.
Para ahli menduga peningkatan ini berkaitan dengan posisi Bumi terhadap sisa-sisa batuan di tata surya, meskipun penyebab pastinya masih dalam penelitian lebih lanjut.
Tahun 2026 tercatat sebagai salah satu musim bola api yang paling aktif, dengan setidaknya sepuluh ledakan besar dilaporkan terjadi di berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah meteor seukuran bola meriam yang menembus atap rumah di Texas pada bulan lalu.
Keberhasilan Horálek dan Kujal dalam mengabadikan dua fenomena langit yang langka ini secara bersamaan tidak hanya menjadi bukti keindahan alam semesta, tetapi juga sebuah pengingat akan dinamika aktivitas benda-benda luar angkasa di sekitar planet kita.
Ikuti Akses.co.id
