Tren

Momen Haru di Boston Marathon, Pelari Memapah Rival Cedera hingga Finis

Advertisement

Boston Marathon 2026 diwarnai aksi heroik seorang pelari asal Irlandia Utara, Aaron Beggs (40), yang rela mengesampingkan target pribadinya demi membantu pesaingnya yang cedera, Ajay Haridasse (21). Momen mengharukan itu semakin lengkap dengan kehadiran pelari lain, Robson De Oliveira, yang ikut memapah Ajay hingga garis finis, disambut sorak-sorai meriah dari penonton.

Aksi solidaritas yang terekam dalam video viral di berbagai platform media sosial seperti Instagram dan TikTok ini menuai pujian dari warganet. Aaron Beggs dijuluki sebagai “olahragawan fenomenal” dan bersama Ajay serta Robson, mereka disebut sebagai “3 Musketeer”. Klub North Down Athletic, tempat Aaron bernaung, tak ketinggalan memberikan apresiasi dengan menyebut anggotanya itu sebagai “superstar kami”.

“Sungguh seorang pria sejati! Sungguh olahragawan yang fenomenal!” ujar perwakilan klub tersebut.

Keputusan Mulia di Tengah Ambisi Pribadi

Dalam wawancara terpisah dengan Belfast Telegraph pada Rabu (22/4/2026), Aaron Beggs menceritakan detik-detik keputusannya membantu Ajay. Mantan kopral Angkatan Darat asal Bangor ini melihat Ajay terjatuh kesakitan di Beacon Street, hanya berjarak sekitar 200 meter dari garis finis.

“Sebagian dari insting saya bilang untuk menghampirinya dan membantunya serta melakukan hal yang benar,” ungkap Aaron.

Keputusan tersebut bukanlah perkara mudah bagi Aaron. Ia menyadari bahwa menghentikan langkahnya untuk membantu Ajay berarti mengorbankan target pribadinya untuk finis dalam waktu 2 jam 40 menit. Namun, tanpa ragu, Aaron memilih untuk menolong tanpa pamrih.

Aaron memahami betul besarnya upaya yang dibutuhkan untuk mengikuti Boston Marathon, termasuk proses latihan intensif selama minimal 16 minggu. Ia menambahkan, “Setiap orang memiliki tujuan. Ini adalah pencapaian sekali seumur hidup. Anda harus menempatkan diri Anda di depan orang lain. Dan kali ini saya kebetulan menempatkan orang lain di depan saya.”

Saat ditanya mengapa ia mengambil langkah tersebut, Aaron menekankan pentingnya empati. “Bisa jadi saya yang pingsan di marathon berikutnya. Dan saya berharap ada seseorang yang mau membantu saya,” tuturnya.

Kolaborasi Tak Terduga

Sementara itu, Robson De Oliveira, pelari asal Brasil, menyaksikan Ajay pingsan dari kejauhan. Ia sempat berpikir untuk berhenti dan membantu jika ada pelari lain yang melakukannya. Namun, ketika Aaron mengambil inisiatif, Robson merasa yakin bisa berkontribusi.

“Pada saat itu, saya berpikir, ‘Ya Tuhan, jika seseorang berhenti, saya juga akan berhenti dan membantunya’,” kata Robson. “Saya tahu saya bisa membantu, karena dua lebih kuat daripada satu,” tambahnya.

Advertisement

Ajay Haridasse sendiri menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Aaron dan Robson. Dikutip dari Boston Herald, Ajay mengaku sudah bersiap untuk merangkak setelah jatuh untuk keempat kalinya. Namun, kehadiran kedua pelari itu memberikan harapan baru.

Meskipun harus tertatih-tatih menyelesaikan sisa rute, Ajay bertekad untuk kembali berlari di Boston Marathon. “Saya pasti berlari lagi,” ungkapnya.

Semangat Sportivitas yang Menular

Perjuangan ketiganya hingga garis finis disambut tepuk tangan meriah dari penonton. Aaron Beggs mencatatkan waktu finis 2 jam 44 menit 36 detik, menempatkannya di peringkat 1.884 dari hampir 30.000 peserta.

Namun, momen tak terduga terjadi sesaat setelah melewati garis finis. Aaron melihat sebuah kursi roda mendekat dan mengira itu untuk Ajay. Ternyata, kursi roda tersebut ditujukan untuk Robson yang pingsan akibat kelelahan.

“Dia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membantu Ajay melewati garis finis,” ujar Aaron mengenai Robson.

Ketiganya kemudian terhubung kembali melalui media sosial, mengenang aksi kemanusiaan yang tak terduga tersebut. Ketua klub North Down Athletic, Jamie Stevenson, turut memuji tindakan Aaron.

“Kami sangat bangga dengan Aaron. Apa yang dia lakukan di lapangan itu mewujudkan semua yang dijunjung tinggi oleh klub kami, integritas, kasih sayang, dan sportivitas sejati,” ucap Stevenson.

Menurut Stevenson, keputusan Aaron untuk membantu pesaingnya di tengah perlombaan adalah tindakan yang luar biasa dan mencerminkan kemuliaan karakter serta semangat kekeluargaan yang kuat dalam komunitas lari di Irlandia Utara.

Advertisement