Akses.co.id — Purworejo, Kompas.com – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinpusip) Kabupaten Purworejo berhasil mengamankan sebuah naskah kuno berhalaman 506 lembar yang ditulis menggunakan aksara Arab Pegon dan bersampul kayu. Penemuan ini merupakan bagian dari upaya intensif dinas tersebut dalam melestarikan jejak sejarah lokal yang terancam punah.
Upaya penyelamatan naskah kuno ini membawa tim Dinpusip Purworejo hingga ke Kabupaten Cilacap. Di sana, mereka menemui Wisnu Budi Setiawan, seorang warga asli Bagelen, Purworejo, yang kini menjabat sebagai pimpinan cabang sebuah bank. Wisnu secara sukarela meminjamkan naskah peninggalan leluhurnya tersebut kepada Dinpusip untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.
“Sebagai orang Purworejo, saya dengan senang hati meminjamkan naskah kuno ini kepada Dinpusip untuk dialihmediakan. Syukur-syukur bisa diterjemahkan, karena saya sendiri belum tahu apa isi sebenarnya,” ujar Wisnu melalui sambungan telepon, Jumat (24/4/2026).
Karakteristik Unik: Aksara Arab Berbahasa Jawa
Naskah yang berhasil diamankan ini memiliki karakteristik fisik yang tidak biasa. Sampulnya diduga terbuat dari kulit pohon, sementara lembaran teks di dalamnya memiliki tekstur yang berbeda dari kertas modern.
Kepala Bidang Perpustakaan Dinpusip Purworejo, Sigit Sudibyo, menjelaskan bahwa koleksi naskah ini terdiri dari beberapa bagian. Naskah utama memiliki ketebalan 506 halaman, sementara dua naskah pendamping masing-masing berjumlah 60 dan 56 halaman.
“Hurufnya Arab tapi bahasanya Jawa. Kita juga belum tahu isinya, harus dialihaksara dan diterjemahkan dulu,” kata Sigit. Penggunaan aksara Arab Pegon ini merujuk pada tradisi penulisan sastra tradisional dan teks keagamaan di tanah Jawa pada masa lampau.
Digitalisasi untuk Cegah Kerusakan Fisik
Wisnu mengaku lega naskah warisannya kini berada di tangan instansi resmi. Ia menyadari betul risiko kerusakan material naskah kuno yang disimpan di rumah tanpa perawatan khusus, terutama akibat faktor lingkungan.
Langkah awal yang dilakukan Dinpusip adalah alih media atau digitalisasi. Proses ini bertujuan untuk menciptakan salinan digital dari naskah tersebut. Dengan demikian, isi naskah tetap dapat dikaji oleh peneliti dan akademisi tanpa harus menyentuh langsung fisik aslinya yang rentan.
Sigit Sudibyo mengapresiasi kesadaran Wisnu dan berharap langkah ini dapat memicu warga lain untuk melaporkan koleksi naskah kuno yang mereka miliki. “Memori kolektif bangsa, khususnya sejarah Purworejo, dapat terungkap kembali,” harapnya.
Ikuti Akses.co.id
