— Ratusan kapal nelayan China terlihat berjejer di Laut China Selatan, namun aktivitas mereka jauh dari mencari ikan. Kapal-kapal ini merupakan bagian dari “milisi maritim” yang didanai negara, berfungsi sebagai armada bayangan untuk memperkuat klaim kedaulatan China di wilayah sengketa.

Para awak kapal ini dilaporkan tidak sedang melaut untuk mencari penghidupan. “Mereka ada di sana untuk menjaga kehadiran,” ujar Gregory Poling dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Amerika Serikat.

Menurut Poling, pemantauan yang dilakukan Filipina menunjukkan bahwa para kru kapal ini lebih banyak menghabiskan waktu dengan aktivitas santai. “Pemantauan Filipina menunjukkan para kru hanya duduk-duduk makan siang, menggunakan telepon satelit, atau bermain kartu,” katanya.

Subsidi Puluhan Juta Rupiah Per Hari

Setiap kapal yang terlibat dalam operasi ini dilaporkan menerima bayaran yang signifikan, mencapai ribuan dolar Amerika Serikat per hari, hanya untuk tetap berada di lokasi strategis tersebut. Sistem ini terintegrasi dalam kebijakan “Military-Civil Fusion” atau Integrasi Militer-Sipil China.

Poling merinci, berdasarkan penelitian CSIS lima tahun lalu, subsidi harian untuk setiap kapal mencapai sekitar 3.500 dollar AS, atau setara dengan Rp 60 juta. Meskipun data terbaru tidak dipublikasikan, para awak kapal diwajibkan menghabiskan minimal 280 hari di laut dalam setahun untuk dapat mencairkan pembayaran tersebut.

Kondisi ini berdampak pada pola rekrutmen. Pemilik kapal kini cenderung merekrut staf seadanya atau bahkan membawa anggota keluarga, bukan lagi nelayan terampil.

“Ini adalah tanda lain bahwa mereka sebenarnya tidak sedang memancing. Pada hari-hari biasa, mereka sepertinya tidak berada di bawah kendali siapa pun. Yang mereka lakukan hanyalah membuang sauh,” jelas Poling.

Dua Tipe “Milisi Maritim”

Data CSIS mencatat lonjakan signifikan dalam jumlah kapal milisi maritim yang dikerahkan. Jika pada tahun 2021 rata-rata terdapat 100 kapal per hari, angka tersebut melonjak drastis menjadi lebih dari 241 kapal pada tahun 2025, mencapai rekor tertinggi.

Armada ini terbagi dalam dua kategori utama.

  • Milisi Profesional: Mengoperasikan kapal-kapal besar yang sering mengaktifkan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS).
  • Kapal Nelayan Sipil: Sering dijuluki “kapal hantu” karena tidak memiliki AIS, sehingga sulit dideteksi oleh radar.

Euan Graham, seorang analis dari Australian Strategic Policy Institute (ASPI), berpendapat bahwa milisi maritim China beroperasi di bawah komando militer, meskipun sering dikategorikan sebagai operasi “zona abu-abu”.

Collin Koh, peneliti senior dari Nanyang Technological University di Singapura, menambahkan bahwa milisi ini memiliki peran ganda, mulai dari pengawasan intelijen hingga potensi sabotase infrastruktur maritim seperti kabel bawah laut.

Dukungan Langsung dari Xi Jinping

Penggunaan kekuatan sipil untuk tujuan strategis memiliki akar sejarah panjang dalam ideologi “Perang Rakyat” yang dicetuskan oleh Mao Zedong. Namun, di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, peran milisi maritim semakin diperkuat.

Pada tahun 2013, Xi Jinping secara terbuka memberikan pujian kepada milisi maritim di Hainan sebagai “unit model” setelah mereka terlibat dalam konfrontasi dengan Penjaga Pantai Filipina. Media pemerintah melaporkan bahwa Xi mengaku terkesan dengan upaya milisi dalam membela hak-hak maritim China dan mendorong mereka untuk terus mengumpulkan intelijen lepas pantai.

Meskipun China tidak memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar terkait isu ini, bukti di lapangan menunjukkan peningkatan dalam agresivitas operasi mereka. Pada Desember 2025, Penjaga Pantai Filipina merilis rekaman video yang memperlihatkan kapal milisi profesional China menggunakan meriam air terhadap nelayan Filipina di dekat Sabina Shoal.

“Terkadang tidak ada upaya untuk menyembunyikan ini, termasuk kehadiran personel Angkatan Laut China berseragam di atas kapal-kapal sipil ini di Laut China Selatan,” pungkas Graham, menyoroti semakin jelasnya keterlibatan militer dalam operasi tersebut.