TEHERAN, Kompas.com – Markas Besar Hazrat Khatam al-Anbiya Iran mengeluarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat (AS), menegaskan kesiapan angkatan bersenjata negara itu untuk menghadapi potensi blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Ancaman ini muncul di tengah ketegangan yang terus meningkat di kawasan Teluk Persia.

Kantor berita Tasnim Iran melaporkan, AS akan menghadapi “reaksi dari angkatan bersenjata Iran yang tangguh” jika terus melanjutkan kebijakan blokade. Komando militer Iran menegaskan bahwa mereka senantiasa siaga, sembari terus memantau pergerakan pasukan AS di kawasan tersebut.

“Kami siap dan bertekad, sambil memantau perilaku dan pergerakan musuh di kawasan ini dan terus mengelola serta mengendalikan Selat Hormuz yang strategis,” demikian pernyataan resmi yang dirilis.

Pernyataan tersebut menambahkan bahwa pengendalian Selat Hormuz tersebut bertujuan “untuk menimbulkan kerusakan yang lebih besar lagi pada musuh-musuh Zionis Amerika jika terjadi agresi lain.” Komando militer Iran menekankan bahwa angkatan bersenjatanya kini memiliki kekuatan dan kesiapan yang lebih besar dari sebelumnya untuk mempertahankan kedaulatan, wilayah, dan kepentingan nasional.

“Tentara negara ini telah merasakan sebagian dari kekuatan dan kemampuan ofensif tersebut selama Perang Ketiga yang dipaksakan,” lanjut pernyataan tersebut, merujuk pada konflik sebelumnya.

Militer Iran Klaim Belum Gunakan Seluruh Kemampuan Rudal

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Jenderal Reza Talaei-Nik, menyatakan bahwa sebagian besar kemampuan rudal Teheran belum digunakan sepenuhnya dalam perang melawan AS. Menurut laporan Anadolu, Talaei-Nik mengklaim bahwa pasukan Iran berhasil mempertahankan keunggulan sepanjang konflik.

“Pasukan kami mempertahankan superioritas udara penuh atas wilayah pendudukan Zionis (Israel), dan sebagian dari kemampuan rudal kami digunakan selama perang 40 hari tersebut,” kata dia.

Mengenai konfrontasi angkatan laut, Talaei-Nik mengklaim bahwa kapal perang musuh berulang kali mundur ratusan kilometer dari Laut Oman sebagai respons terhadap tindakan tegas pasukan Iran. Kondisi ini terjadi setelah pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu parah sejak AS dan Israel memulai perang melawan Iran pada 28 Februari 2026, yang telah mengguncang pasar energi global dan menimbulkan kekhawatiran akan kerusakan ekonomi berkepanjangan.