— Fenomena microtourism atau pariwisata skala kecil mulai menunjukkan dampaknya pada sektor perhotelan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada triwulan pertama tahun 2026, realisasi pajak hotel dilaporkan mengalami penurunan sebesar 8,11 persen. Pergeseran pola perjalanan wisatawan yang cenderung memilih destinasi lebih dekat dan perjalanan singkat menjadi salah satu faktor utama di balik tren ini, meskipun Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata secara keseluruhan tetap menunjukkan pertumbuhan positif.

Hingga akhir Maret 2026, PAD dari sektor pariwisata Sleman berhasil menyentuh angka Rp 103,79 miliar. Angka ini setara dengan 26,81 persen dari target tahunan yang ditetapkan sebesar Rp 387,2 miliar. Pertumbuhan ini sedikit melampaui realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu Rp 102,85 miliar.

Pajak Hotel Turun, Penyangga PAD Berganti

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Sleman, Kus Endarto, mengonfirmasi adanya penurunan pada penerimaan pajak sektor perhotelan. “Realisasi pajak hotel pada awal 2026 tercatat sebesar Rp 43,5 miliar, turun dari Rp 47,34 miliar pada periode yang sama tahun 2025,” ungkapnya.

Menurut Kus Endarto, tren penurunan ini sangat dipengaruhi oleh perubahan perilaku wisatawan. “Di mana karena wisatawan cenderung memilih destinasi yang mudah dijangkau dalam waktu singkat, mengakibatkan turunnya jumlah wisatawan yang menginap (hotel),” jelasnya, seperti dikutip dari Tribun Jogja, Kamis (23/4/2026).

Perubahan pola wisata ini, lanjut Kus, juga tidak lepas dari meningkatnya konektivitas antarwilayah, termasuk ketersediaan jalan tol menuju Daerah Istimewa Yogyakarta. Banyak wisatawan kini memilih menggunakan kendaraan pribadi dan kembali ke daerah asal pada hari yang sama atau dalam waktu singkat, sehingga mengurangi kebutuhan menginap di hotel.

Restoran dan Hiburan Jadi Penopang Utama

Meskipun demikian, struktur penerimaan PAD pariwisata Sleman masih kokoh berkat kontribusi dari sektor lain. Pajak restoran dan hiburan menjadi penyangga utama, menyumbang total Rp 102,34 miliar atau sekitar 98,74 persen dari keseluruhan PAD pariwisata triwulan I 2026.

Pajak restoran menjadi kontributor terbesar, mencapai Rp 51,16 miliar atau 49,36 persen dari total penerimaan. Sementara itu, sektor hiburan mencatat lonjakan signifikan, dengan penerimaan pajak melonjak 120,11 persen menjadi Rp 7,68 miliar.

Okupansi Hotel Berfluktuasi

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sleman, Andhu Pakerti, sebelumnya menyebutkan bahwa okupansi hotel sempat mengalami lonjakan tinggi pada periode libur Idul Fitri 2026. “Pada periode 21-24 Maret, tingkat hunian hotel bahkan menembus lebih dari 90 persen,” katanya.

Namun, tren positif tersebut tidak bertahan lama. Setelah periode libur, tingkat hunian hotel kembali turun ke kisaran 55 hingga 65 persen, sejalan dengan fenomena microtourism yang mengurangi kebutuhan menginap.

Efisiensi Anggaran Pengaruhi Promosi

Selain pergeseran tren wisata, faktor lain yang turut memengaruhi kinerja sektor pariwisata adalah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. “Secara jujur, kita melihat ada pergeseran beban promosi. Ketika anggaran pemerintah melakukan efisiensi atau penyesuaian, pelaku wisata memang ‘dipaksa’ lebih mandiri dalam memasarkan destinasinya,” ujar Andhu.

Kondisi ini, menurut Andhu, justru mendorong pelaku wisata untuk memperkuat strategi kolaborasi atau promosi bersama (joint promotion) guna menghadapi tantangan di era baru ini.

Kinerja 2025 Jadi Fondasi Kuat

Meskipun menghadapi tantangan di awal tahun 2026, sektor pariwisata Sleman memiliki rekam jejak kinerja yang kuat pada tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, PAD pariwisata Sleman berhasil mencapai Rp 389,5 miliar, melampaui target Rp 382,3 miliar dan menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2024 yang tercatat Rp 379 miliar.

Pada tahun 2025, sektor pariwisata berkontribusi sekitar 26,24 persen terhadap total PAD Kabupaten Sleman. Sumber pendapatan utama masih didominasi oleh pajak hotel dan restoran yang mencapai Rp 356,1 miliar, serta pajak hiburan sebesar Rp 26,8 miliar. Seluruhnya menunjukkan tren pertumbuhan positif pada tahun tersebut.