Tren

Meski Selat Hormuz Dibuka, Aliran Minyak Dunia Tetap Butuh Bertahun-tahun untuk Pulih?

Advertisement

Meskipun Selat Hormuz kini telah dibuka kembali, pemulihan aliran minyak dan gas global diperkirakan masih membutuhkan waktu bertahun-tahun. Ketidakpastian yang membayangi jalur energi paling vital di dunia ini masih terasa kental, bahkan setelah lalu lintas kapal mulai berangsur normal.

Analis Reuters, Ron Bousso, menilai bahwa pemulihan arus energi ke tingkat sebelum konflik tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Ia memperkirakan, bahkan jika situasi mereda, proses ini akan memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Sebelumnya, Iran sempat memperketat kontrol di Selat Hormuz sebagai respons atas blokade Amerika Serikat terhadap kapal tanker mereka. Teheran bahkan sempat menembaki sejumlah kapal dan mengancam akan menutup jalur tersebut, hanya beberapa jam setelah mengumumkan pembukaan sementara di tengah gencatan senjata 10 hari.

Presiden AS Donald Trump sendiri menyatakan bahwa negosiasi masih berlangsung, namun tak lupa mengancam akan melanjutkan aksi militer jika pengiriman energi kembali terganggu. Sejak kampanye pengeboman gabungan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, mengalami penurunan drastis.

Dampak dari gangguan ini sangat besar. Sekitar 13 juta barel minyak per hari dan 300 juta meter kubik gas alam cair (LNG) per hari terjebak di kawasan Teluk. Kondisi ini memaksa penutupan ladang minyak, kilang, hingga fasilitas LNG, serta mengguncang perekonomian dari Asia hingga Eropa.

Pemulihan Terganjal Logistik dan Keamanan

Kecepatan pemulihan tidak hanya bergantung pada diplomasi antara Washington dan Teheran. Faktor lain seperti logistik, ketersediaan asuransi kapal tanker, tarif pengiriman, hingga keberanian operator kapal untuk melintasi wilayah konflik juga memainkan peran penting.

Diperkirakan, sekitar 260 kapal tanker yang saat ini masih berada di kawasan Teluk akan menjadi gelombang pertama yang keluar. Ratusan kapal tersebut dilaporkan membawa sekitar 170 juta barel minyak dan 1,2 juta ton LNG.

Sebagian besar muatan ini kemungkinan akan dikirim ke Asia, yang selama ini menyerap sekitar 80 persen ekspor minyak dan 90 persen LNG dari kawasan Teluk. Di saat yang sama, lebih dari 300 kapal tanker kosong di Teluk Oman akan mulai masuk ke Teluk untuk mengangkut muatan baru dari terminal seperti Ras Tanura di Arab Saudi dan Basrah di Irak.

Namun, proses ini tidak instan. Satu perjalanan pulang-pergi dari Timur Tengah ke India membutuhkan sekitar 20 hari, sementara ke China, Jepang, atau Korea Selatan bisa memakan waktu hingga dua bulan. Bahkan dalam kondisi terbaik, penyeimbangan kembali armada tanker global dan normalisasi aktivitas ekspor diperkirakan memerlukan waktu minimal 8 hingga 12 minggu.

Advertisement

Produksi Energi Juga Butuh Waktu Lama Pulih

Selain distribusi, produksi energi juga menghadapi tantangan besar. Perusahaan seperti Saudi Aramco dan ADNOC harus memulai kembali operasi ladang minyak dan kilang yang sempat dihentikan selama konflik. Proses ini membutuhkan koordinasi yang kompleks, termasuk pemulangan ribuan pekerja yang sebelumnya dievakuasi.

Kapasitas penyimpanan yang terbatas juga menjadi kendala dalam meningkatkan produksi. Menurut International Energy Agency, sekitar 50 persen ladang minyak dan gas di kawasan Teluk dapat kembali ke kapasitas normal dalam dua minggu. Sekitar 30 persen lainnya membutuhkan waktu hingga enam minggu.

Namun, 20 persen sisanya, yang setara dengan 2,5 hingga 3 juta barel per hari, menghadapi kendala teknis serius. Tekanan reservoir yang rendah dan kerusakan infrastruktur menjadi beberapa faktor yang membuat pemulihannya bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Kerusakan besar juga terjadi pada fasilitas energi utama, termasuk pusat LNG Ras Laffan di Qatar, yang diperkirakan membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk diperbaiki sepenuhnya.

Pemulihan Penuh Bisa Butuh Waktu Bertahun-tahun

Dalam skenario paling optimistis sekalipun, yakni negosiasi yang berhasil, konflik AS-Iran tidak berlanjut, dan kerusakan tidak lebih parah dari perkiraan, pemulihan penuh ke tingkat sebelum perang tetap diperkirakan memakan waktu lama.

Dalam artikel yang dimuat pada Senin (20/4/2025), Bousso menegaskan bahwa kombinasi faktor logistik, teknis, dan geopolitik membuat pemulihan aliran energi global menjadi proses panjang yang tidak bisa dipercepat begitu saja.

Dengan kata lain, membuka kembali Selat Hormuz mungkin bisa dilakukan kapan saja, tetapi mengembalikan stabilitas pasokan energi dunia adalah tantangan yang jauh lebih kompleks dan bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Sumber: http://www.kompas.com/tren/read/2026/04/20/113000865/meski-selat-hormuz-dibuka-aliran-minyak-dunia-tetap-butuh-bertahun-tahun

Advertisement