— Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melakukan kunjungan ke Pakistan pada Jumat (24/4/2026) waktu setempat, namun menegaskan tidak ada agenda pertemuan bilateral dengan Amerika Serikat dalam lawatan tersebut. Penegasan ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, di tengah spekulasi yang berkembang mengenai kemungkinan adanya dialog antara kedua negara di Islamabad.

Melalui unggahannya di platform X pada Sabtu (25/4/2026), Baqaei menyatakan bahwa Iran hanya akan menyampaikan pandangannya kepada Pakistan. Kedatangan Araghchi ke Islamabad dikonfirmasi sebagai bagian dari upaya diplomatik untuk membahas stabilitas kawasan. “Menteri Luar Negeri Araghchi akan bertemu dengan para pejabat tinggi Pakistan sebagai bagian dari upaya mediasi yang sedang berlangsung, serta langkah-langkah diplomatik untuk mengakhiri perang agresi yang dipaksakan Amerika dan memulihkan perdamaian di kawasan,” ujar Baqaei.

Tur Diplomatik ke Tiga Negara

Kunjungan ke Pakistan merupakan bagian dari tur berkala yang telah disiapkan oleh Teheran. Setelah dari Islamabad, Araghchi dijadwalkan melanjutkan lawatannya ke Muscat dan Moskwa. “Saya memulai tur penting ke Islamabad, Muscat, dan Moskwa,” tulis Araghchi dalam akun X resminya, mengutip pernyataannya.

Tujuan utama dari lawatan ini adalah untuk melakukan konsultasi bilateral. “Tujuan kunjungan saya adalah untuk berkoordinasi secara erat dengan para mitra kami dalam isu-isu bilateral serta berkonsultasi mengenai perkembangan kawasan,” jelas Araghchi. Ia menambahkan, “Negara-negara tetangga adalah prioritas kami.”

Menurut laporan WANA pada Jumat, kunjungan Araghchi ke Islamabad diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Dua sumber pemerintah Pakistan yang mengetahui pembahasan tersebut menyebutkan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk meninjau proposal Iran terkait negosiasi dengan Amerika Serikat. Proposal tersebut nantinya akan disampaikan Pakistan, yang bertindak sebagai mediator, kepada Washington.

Utusan Khusus AS ke Pakistan

Di tengah situasi ini, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, bertolak menuju Pakistan pada Sabtu pagi. Lawatan mereka dikonfirmasi untuk melakukan pembicaraan damai dengan Iran.

“Iran ingin berbicara,” ujar juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, seperti dilansir dari BBC. Leavitt juga menyebutkan bahwa JD Vance berada dalam posisi siaga untuk bergabung jika sinyal positif muncul dari pihak Iran.

Kepada media pada Jumat, Leavitt menyampaikan bahwa Presiden Donald Trump telah mengirim utusannya ke Islamabad untuk mendengar langsung pandangan Iran. Ia menambahkan bahwa presiden AS selalu bersedia memberi kesempatan pada diplomasi. “Kami tentu telah melihat beberapa kemajuan dari pihak Iran dalam beberapa hari terakhir,” katanya.

Sementara itu, pihak Iran menegaskan bahwa kunjungan ke Pakistan bukan untuk melakukan perundingan dengan AS. Sebelum Baqaei menyampaikan pernyataannya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sempat mengatakan bahwa Teheran memiliki peluang untuk mencapai kesepakatan yang baik, dengan syarat meninggalkan program nuklir secara nyata dan terverifikasi.

Ketidakpastian Terobosan

Di ruang publik, Washington menampilkan sikap keras tanpa tekanan untuk mengakhiri perang dengan Iran. Namun, BBC pada Jumat menuliskan kabar bahwa pembicaraan AS-Iran yang berlanjut akhir pekan ini kembali menegaskan adanya perbedaan antara pernyataan publik pemerintah dan upaya di balik layar Gedung Putih untuk mencari cara mengakhiri perang.

Situasi ini mencerminkan upaya kedua pihak untuk mencari jalan ke depan, meskipun pesan yang disampaikan masih beragam dan sikap keras tetap ditunjukkan Teheran. Belum adanya kepastian kehadiran Wakil Presiden JD Vance, yang sebelumnya memimpin putaran awal negosiasi, juga menjadi sorotan.

Jika Vance absen, BBC menuliskan hal tersebut bisa berarti kedua negara tidak mengharapkan terobosan besar. Namun, fakta bahwa pembicaraan tetap berlanjut menunjukkan baik AS maupun Iran sama-sama tertarik untuk mencapai kesepakatan. Putaran sebelumnya sempat batal karena Iran enggan datang ke meja negosiasi di tengah blokade AS yang masih berlanjut di pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sementara itu, pada Rabu (22/4/2026), Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa Selat Hormuz tidak mungkin dibuka kembali karena “pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata” oleh AS dan Israel.