Akses.co.id — Di bawah bayang-bayang keamanan ketat di Islamabad, sebuah pertaruhan diplomasi tingkat tinggi tengah berlangsung. Perundingan yang dijuluki “Islamabad Talks Jilid Dua” ini menjadi arena krusial untuk meredakan ketegangan geopolitik yang kian memanas, melibatkan Amerika Serikat dan Iran di tengah ancaman resesi global dan blokade ekonomi.
Pertaruhan “Kelas Dewa” Kedua di Islamabad
Drama diplomasi di Islamabad kini memasuki babak baru. Setelah gencatan senjata dua minggu yang berakhir pada Rabu malam, 22 April 2026, nasib perundingan tersebut masih diselimuti ketidakpastian. Bukan soal apakah akan digelar atau tidak, melainkan kapan.
Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, menunjukkan urgensi untuk mewujudkan perundingan ini. Trump bahkan bersedia untuk tidak lagi membatasi waktu, setelah tenggat 22 April 2026 terlewati.
Namun, di balik agresivitas Washington, terdapat kalkulasi ekonomi yang mendesak. Penutupan Selat Hormuz telah berdampak signifikan pada pasar energi global, mendorong harga minyak mentah Brent mendekati 95 dolar AS per barel. Uni Eropa bahkan telah mengeluarkan peringatan mengenai cadangan bahan bakar jet yang hanya tersisa untuk enam minggu.
Tekanan domestik menjelang pemilihan sela di Amerika Serikat juga memaksa Trump untuk mencari “kesepakatan damai” yang dapat menurunkan harga bensin. Meskipun di media sosial, Trump terus melontarkan retorika ancaman terhadap Iran.
Struktur Delegasi dan Agenda Tersembunyi
Delegasi Amerika Serikat yang akan diterjunkan ke Islamabad mencerminkan perpaduan antara otoritas formal dan lingkaran kepercayaan personal. Wakil Presiden J.D. Vance akan kembali memimpin delegasi besar beranggotakan 300 orang, didampingi oleh sosok kunci seperti Jared Kushner dan utusan khusus Steve Witkoff. Meskipun sempat membatalkan keberangkatan karena ketidakpastian dari pihak Iran, tim ini diperkirakan akan tetap hadir dengan formasi awal.
Keberadaan Jared Kushner, arsitek Abraham Accords, mengindikasikan bahwa Washington tidak hanya berfokus pada penghentian perang, tetapi juga berupaya merancang tatanan regional yang lebih luas, melampaui isu nuklir dalam JCPOA 2015.
Washington telah mengajukan tawaran baru, yaitu kesediaan kondisional untuk mengurangi masa moratorium pengayaan uranium Iran dari 20 tahun menjadi 10 tahun. Pergeseran taktis ini diharapkan dapat melunakkan sikap Teheran yang selama ini merasa tuntutan AS terlalu berlebihan.
Keraguan dan Kemarahan Teheran
Di sisi lain, Teheran menunjukkan keraguan dan kemarahan. Hingga Kamis siang, media pemerintah Iran, IRIB, bersikeras menyatakan bahwa tidak ada delegasi resmi yang berangkat ke Islamabad. Keengganan ini berakar pada serangkaian tindakan militer AS yang dianggap sebagai pengkhianatan terhadap semangat gencatan senjata.
Penangkapan kapal kontainer Touska di Teluk Oman oleh USS Spruance, serta penyitaan tanker minyak M/T Tifani di Samudra Hindia, telah menciptakan narasi “pirasi maritim” yang kuat di Teheran. Bagi faksi militer Iran, bernegosiasi di bawah ancaman dan blokade pelabuhan merupakan bentuk penghinaan terhadap kedaulatan negara.
Meskipun ada bantahan resmi, informasi dari saluran diplomatik di Pakistan mengindikasikan bahwa tim negosiasi Iran sebenarnya tetap bergerak melalui jalur komunikasi tertutup. Delegasi besar beranggotakan 71 orang, termasuk ahli ekonomi dan penasihat keamanan senior, diperkirakan telah mendarat di Islamabad pada Rabu pagi.
Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, diperkirakan akan kembali memimpin tim negosiasi. Ia didampingi oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati, yang bertugas memastikan mekanisme pembebasan aset senilai 6 miliar dolar AS.
Perpecahan Internal di Jantung Kekuasaan Teheran
Dinamika perundingan di Islamabad tidak dapat dilepaskan dari perpecahan internal yang tajam di Teheran. Sejak kematian Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan udara pada 28 Februari 2026, terjadi kekosongan otoritas arbitrase yang menjaga keseimbangan antar-faksi.
Kini, terjadi perseteruan terbuka antara faksi pragmatis yang dipimpin Presiden Masoud Pezeshkian dan faksi garis keras yang didominasi oleh komandan senior IRGC. Pezeshkian menyadari ekonomi Iran berada di ambang kolaps total, dengan estimasi kerusakan infrastruktur mencapai 270 miliar hingga 1 triliun dolar AS. Jika perang berlanjut, inflasi diproyeksikan melonjak hingga 180 persen, yang dapat memicu revolusi sosial.
Di sisi lain, para jenderal IRGC terus mengonsolidasikan kontrol mereka atas fungsi negara, bahkan meminggirkan otoritas pemerintah terpilih. Mereka memandang setiap konsesi di Islamabad sebagai pengkhianatan ideologis.
Ghalibaf harus bermanuver di antara dua kutub ini. Ia mengkritik Trump di media sosial untuk memuaskan basis garis keras, namun tetap membuka pintu diplomasi karena memahami bahwa militer Iran telah kehilangan sebagian besar asetnya.
Retorika Ghalibaf tentang “kartu baru di medan perang” adalah upaya untuk meningkatkan posisi tawar, sekaligus sinyal bahwa Iran masih memiliki kapabilitas asimetris yang mematikan.
Keterkaitan dengan Konflik di Lebanon
Ketegangan ini semakin rumit dengan adanya keterkaitan antara teater perang di Iran dan Lebanon. Gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon yang dimulai pada 16 April, merupakan bagian dari desain besar Washington untuk mengamankan Islamabad Talks.
Iran menjadikan penghentian serangan Israel terhadap Hizbullah sebagai prasyarat mutlak. Washington berharap dengan berhentinya mesin perang Israel di perbatasan utara, Iran akan bersedia duduk di meja perundingan.
Namun, keberhasilan ini sangat tentatif karena Israel tetap mempertahankan hak untuk menyerang “ancaman segera,” sebuah celah yang bisa meruntuhkan seluruh skenario perdamaian kapan saja.
Harapan dan Realitas Perundingan
Melihat peta konflik yang ada, Islamabad Talks Jilid Dua kemungkinan besar akan tetap berlangsung dalam waktu dekat, meskipun dalam format yang kaku dan penuh dengan saling tuduh di depan media. Trump telah melepaskan jeda dua minggu menjadi tak terbatas.
Target yang paling realistis bukanlah perdamaian permanen, melainkan perpanjangan masa jeda atau gencatan senjata teknis selama 30 hingga 60 hari ke depan. Kedua belah pihak sangat membutuhkan waktu tambahan.
Poin kesepakatan jangka pendek mungkin mencakup pembukaan terbatas Selat Hormuz untuk kapal komersial non-militer sebagai imbalan atas penghentian sementara aksi boarding kapal oleh Angkatan Laut Amerika.
Namun, memproyeksikan perdamaian permanen dalam waktu dekat nampaknya masih menjadi angan-angan. Peluang untuk mencapai kesepakatan menyeluruh sangat tipis, mungkin di bawah 15 persen.
Hambatan utamanya adalah jurang kepercayaan yang sangat dalam, pengalaman pahit dari kegagalan JCPOA dan serangan mendadak Februari 2026 lalu membuat setiap komitmen tertulis dipandang dengan kecurigaan super-akut.
Washington tetap pada garis merahnya bahwa Iran harus menyerahkan seluruh cadangan uranium yang telah diperkaya dan menghentikan total program nuklirnya. Di sisi lain, Iran menuntut jaminan keamanan permanen dan biaya rekonstruksi yang masif.
Jika pembicaraan di Islamabad ini berakhir tanpa hasil konkret, dunia harus bersiap menghadapi kembalinya perang terbuka yang akan jauh lebih brutal. Trump telah memberikan ultimatum mengenai kampanye pengeboman massal terhadap infrastruktur sipil Iran jika kesepakatan gagal. Sementara itu, Teheran mengisyaratkan kemungkinan serangan balik yang lebih meluas ke instalasi energi negara-negara Teluk.
Islamabad pekan ini bukan hanya tempat pertemuan para diplomat, tetapi benteng terakhir untuk mencegah Asia Barat terjerumus ke dalam kehancuran total.
Ikuti Akses.co.id
