Akses.co.id — JAKARTA, KOMPAS.com – Propan Raya menegaskan komitmennya terhadap pengembangan teknologi pelapis bangunan ramah lingkungan dengan berpartisipasi dalam pameran ARCH:ID 2026. Perusahaan cat ini membawa visi arsitektur berkelanjutan melalui kampanye inovasi produk berbahan dasar air, sebuah langkah yang telah dimulai sejak 2011 sebagai bagian dari komitmen terhadap standar bangunan hijau.
Langkah transisi menuju produk water-based dinilai krusial untuk mengurangi emisi gas buang, meningkatkan kesehatan penghuni, serta meminimalkan dampak lingkungan dibandingkan produk konvensional. Dalam pameran yang berlangsung pada 23-26 April 2026 di ICE BSD, Propan Raya memperkenalkan sejumlah produk teknis unggulan, termasuk WB PU Hygiene Wood, WB PU Color Multipurpose, WB Epoxy Floor, dan Aqua Primtop DTM. Seluruh lini produk ini dirancang untuk memenuhi spesifikasi proyek arsitektur modern yang menuntut performa tinggi tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan.
“Kami berharap kehadiran Propan dapat meningkatkan awareness akan pentingnya penggunaan produk water-based sebagai solusi pengecatan yang lebih sehat dan ramah lingkungan,” ujar CEO Propan Raya, Kris Rianto Adidarma, Jumat (24/4/2026).
Inklusivitas Ruang dalam Tema Pameran
ARCH:ID 2026 mengusung tema “Skema Sintesa”, sebuah gagasan yang digagas oleh tiga kurator perempuan: Afwina Kamal, Trianzani Sulshi, dan Dhanie Syawalia. Tema ini lahir dari keinginan untuk mendobrak eksklusivitas profesi arsitek dan mendorong kolaborasi lintas disiplin dalam ekosistem pembangunan.
Afwina Kamal menjelaskan bahwa konsep inklusivitas dalam tema ini bermakna kesejajaran peran. “Sintesa dipandang sebagai penggabungan ilmu arsitektur dengan disiplin lain yang selama ini jarang dilibatkan secara aktif,” katanya.
Trianzani Sulshi menambahkan, gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam frasa “Taking Space as a Shared Language”. Dalam konteks pameran, hal ini diwujudkan melalui regulasi ketat yang mewajibkan setiap peserta stan berkolaborasi dengan profesi lain, mulai dari desainer pencahayaan hingga seniman pertunjukan.
“Arsitektur terlalu lama berada dalam kesendiriannya. Ini saatnya arsitektur berdiri lebih holistik dengan merangkul disiplin lain,” tegas Trianzani.
Pendekatan kuratorial ini juga menyentuh aspek fungsional ruang pameran, termasuk aksesibilitas bagi kelompok difabel, lansia, dan anak-anak, demi memastikan pesan kolaborasi dapat dirasakan oleh seluruh spektrum pengunjung.
Target dan Skala Industri ARCH:ID 2026
Penyelenggaraan ARCH:ID 2026, yang dikelola oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) bersama CIS Exhibition, mencatatkan pertumbuhan skala yang signifikan. Pameran ini menempati lahan seluas 18.000 meter persegi, menampung 725 stan dan lebih dari 180 peserta. Penyelenggara menargetkan kehadiran 31.000 pengunjung selama empat hari pelaksanaan.
Selain pameran material, agenda ini juga mencakup konferensi internasional yang menghadirkan 8 pembicara utama dan 90 sesi diskusi. Keterlibatan lebih dari 60 arsitek lintas generasi, termasuk nama-nama besar seperti Andra Matin, turut mengawal narasi desain di setiap sudut pameran.
Project Director PT CIS Exhibition, R. Arief Sofyan Rudiantoro, menekankan bahwa kolaborasi antara merek dan arsitek bertujuan agar setiap ruang pamer tidak sekadar menjadi tempat displai produk. “Kami ingin mendorong setiap booth sebagai karya yang memiliki narasi dan kualitas desain yang kuat,” pungkas Arief.
Ikuti Akses.co.id
