Akses.co.id — Fenomena “karoshi” atau kematian akibat kerja berlebihan, yang awalnya identik dengan Jepang, kini menunjukkan tren sebagai krisis global. Budaya kerja yang sangat kompetitif dan menguras tenaga di Negeri Sakura telah melahirkan istilah ini sejak 1970-an, menggambarkan kematian mendadak akibat penyakit jantung iskemik atau gangguan serebrovaskular yang dipicu oleh kondisi kerja ekstrem. Kelelahan fisik, stres mental, dan gaya hidup tidak sehat menjadi pemicu utama yang mempercepat munculnya hipertensi hingga arteriosklerosis.
Namun, penelitian terbaru mengindikasikan bahwa karoshi tidak lagi menjadi masalah eksklusif Jepang. Studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2021 memperkirakan sekitar 745.000 orang di seluruh dunia meninggal pada tahun 2016 akibat penyakit yang berkaitan dengan jam kerja panjang. Bekerja 55 jam atau lebih per minggu terbukti meningkatkan risiko stroke hingga 35 persen dan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik sebesar 17 persen.
Asia Tenggara Jadi Wilayah Paling Rentan
Dampak karoshi tidak merata, dengan laki-laki menyumbang sekitar 72 persen dari total kematian. Kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat menjadi wilayah yang paling terdampak. Ironisnya, bahkan di Eropa Barat dan Amerika Utara yang dikenal memiliki perlindungan tenaga kerja lebih baik, tren kerja berlebihan mulai meningkat. Kemajuan teknologi digital, komunikasi tanpa batas, serta kerja jarak jauh telah mengaburkan garis antara kehidupan pribadi dan profesional. Di sisi lain, ekonomi gig turut memperkuat anggapan bahwa produktivitas tanpa henti adalah kunci.
Jika dulu gambaran kerja berlebihan identik dengan pekerja yang tertidur di kereta Tokyo, kini fenomena tersebut hadir dalam berbagai bentuk baru yang lebih tersembunyi namun meluas di seluruh dunia.
Karoshi Lahir dari Era Jepang Pascaperang
Sejarah karoshi tidak lepas dari pembangunan kembali ekonomi Jepang pasca-Perang Dunia II. Sebuah kesepakatan antara pekerja dan perusahaan membuahkan jaminan kerja seumur hidup serta kesejahteraan sebagai imbalan atas loyalitas dan dedikasi total. Model kerja yang berat ini terbukti efektif, mendorong Jepang tumbuh pesat dan menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia pada periode 1950-an hingga awal 1990-an.
Pada masa itu, pekerja kantoran menjadi simbol budaya. Sosok pegawai berjas rapi yang berangkat pagi, melewatkan makan siang, dan lembur demi karier menjadi gambaran ideal. Waktu istirahat yang minim dan tekanan sosial membuat konsep berhenti bekerja hampir tidak terpikirkan. Namun, citra heroik ini perlahan terkikis oleh kenyataan pahit: pekerja mulai meninggal akibat beban kerja ekstrem.
Fenomena Karoshi Makin Mengkhawatirkan
Sejak 1969, Jepang mulai mencatat kasus kematian akibat serangan jantung dan stroke yang berkaitan dengan jam kerja berlebihan. Selain itu, fenomena karojisatsu atau bunuh diri akibat tekanan kerja juga menjadi faktor penting. Sebagian lainnya meninggal karena kekurangan gizi akibat stres berkepanjangan.
Memasuki awal 1980-an, masalah ini semakin meluas dan dikenal sebagai karoshi. Hingga kini, skalanya masih mengkhawatirkan. Data pemerintah Jepang mencatat setidaknya 1.304 kasus pada tahun 2024. Pada tahun 2023, sekitar 10,1 persen pria dan 4,2 persen perempuan bekerja lebih dari 60 jam per minggu. Angka ini lebih tinggi lagi di kalangan pekerja mandiri, mencapai 15,4 persen pria dan 7,8 persen perempuan.
Tren terbaru menunjukkan semakin banyak perempuan muda yang terjebak dalam pola kerja berlebihan. Kasus tragis Matsuri Takahashi pada 2015, seorang perempuan 24 tahun yang bunuh diri setelah bekerja lembur lebih dari 100 jam per bulan, menjadi titik balik perhatian publik. Kasus ini memicu sorotan luas dan berujung pada dakwaan terhadap perusahaan tempatnya bekerja.
Pemerintah Jepang kemudian berupaya melakukan reformasi budaya kerja dan memperketat regulasi jam kerja. Namun, implementasinya dinilai lambat dan belum merata. Kekhawatiran muncul bahwa kemajuan ini bisa mundur, terutama di tengah wacana kepemimpinan yang pernah mengaku hanya tidur dua jam per malam.
Ikuti Akses.co.id
