Sains

Mengenal Hujan Meteor Lyrid: Rahasia di Balik Kilatan “Fireball” yang Menghiasi Langit April

Advertisement

Fenomena langit tahunan, hujan meteor Lyrid, diprediksi kembali menghiasi langit April 2026. Berbeda dengan hujan meteor lainnya yang dikenal deras, Lyrid menawarkan karakteristik unik berupa kilatan cahaya sangat terang atau yang disebut fireball. Keistimewaan ini, menurut astronom amatir Marufin Sudibyo, berasal dari material sisa komet Thatcher yang berinteraksi dengan atmosfer Bumi.

Setiap tahun, antara tanggal 15 hingga 29 April, Bumi melintasi jejak debu yang ditinggalkan oleh komet kuno tersebut. Puncak hujan meteor Lyrid pada tahun 2026 ini diperkirakan jatuh pada 23 April. Nama “Lyrid” sendiri merujuk pada rasi bintang Lyra, karena secara visual meteor-meteor ini seolah memancar dari satu titik di konstelasi tersebut.

“Apabila dilihat dari Indonesia, maka meteor-meteor Lyrida seakan-akan berasal dari satu titik di langit utara,” ujar Marufin kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Warisan Komet Thatcher yang Berpasir

Meteor-meteor Lyrid merupakan serpihan dari komet Thatcher (C/1861 G), sebuah komet berperiode panjang yang terakhir kali terlihat pada tahun 1861. Marufin menjelaskan bahwa komet ini meninggalkan jejak debu dengan ukuran butiran pasir saat mengorbit Matahari.

Karakteristik unik komet Thatcher adalah kandungan butir pasirnya yang lebih banyak dibandingkan komet lain. Hal inilah yang menjadi kunci keistimewaan Lyrid.

“Inilah yang menyebabkan hujan meteor Lyrida memiliki banyak meteor-terang (fireball). Yang menyebabkan durasi keterlihatan meteor tersebut sedikit lebih lama (antara 3 hingga 5 detik) disertai jejak asap evaporasi (plume) khas meteor,” jelas Marufin.

Bukan Soal Kederasan, Tapi Keindahan

Bagi pengamat yang mengharapkan ribuan meteor jatuh per jam, Lyrid mungkin terkesan sederhana. Intensitas maksimumnya hanya berkisar 18 meteor per jam dengan kecepatan rata-rata sekitar 47 km/detik. Namun, Marufin menekankan bahwa daya tarik utama Lyrid bukanlah kuantitas.

Advertisement

“Ciri utama hujan meteor Lyrida bukan pada kederasannya, tapi pada lebih banyaknya meteor-terang dibanding hujan meteor periodik lainnya,” tambahnya.

Meskipun intensitasnya cenderung stabil saat ini, Lyrid menyimpan anomali yang belum sepenuhnya terpecahkan. Setiap 60 tahun sekali, intensitas hujan meteor ini dapat mengalami lonjakan signifikan. Laporan mencatat kejadian luar biasa pada tahun 1803 dengan 700 meteor per jam, dan pada 1982 tercatat 90 meteor per jam. Lonjakan intensitas ini diprediksi akan kembali terjadi sekitar tahun 2042.

Waktu Terbaik Mengamati di Indonesia

Bagi masyarakat Indonesia yang ingin menyaksikan puncak fenomena Lyrid pada 23 April 2026, Marufin menyarankan waktu pengamatan dimulai sejak tengah malam hingga dini hari.

“Hujan meteor Lyrida dapat disaksikan pada tengah malam hingga dini hari (Subuh). Yakni sejak rasi bintang Lyra mulai terbit di langit bagian timur hingga saat langit mulai bertambah terang oleh sapuan cahaya fajar jelang Matahari terbit,” tutur Marufin.

Meskipun intensitas maksimum diprediksi 18 meteor per jam, Marufin memperkirakan jumlah yang dapat teridentifikasi secara jelas oleh mata manusia berkisar antara 10 hingga 15 meteor per jam. Untuk dapat menangkap keindahan jejak asap evaporasi yang ditinggalkan oleh debu komet Thatcher, lokasi pengamatan yang gelap dan minim polusi cahaya kota menjadi syarat utama.

Advertisement