Regional

Menembus Jalan Terjal nan Licin ke Nenan, Perjuangan Ibu Ica Jadi Guru di Ujung Nagari…

Advertisement

LIMAPULUH KOTA, Kompas.com – Tubuh itu setengah bertumpu pada batu, setengah lagi menahan beban sepeda motor yang tergelincir. Kaki kanannya menjejak tanah basah tanpa alas. Di depannya, tanjakan terjal nan licin seolah tak memberi ruang untuk kesalahan. Inilah gambaran keseharian Silvatri Reza Vianda (37), atau yang akrab disapa Ibu Ica, saat menuju tempatnya mengajar di Jorong Nenan, Nagari Maek, Kabupaten Limapuluh Kota.

Perjalanan sejauh 13 kilometer dari rumahnya di Jorong Koto Tinggi II itu tak selalu ditempuh dalam satu jam. Kondisi cuaca dan tingkat kelicinan jalan kerap membuat waktu tempuh membengkak, bahkan melampaui batas fisik. “Kalau hujan, bisa lebih dari satu jam. Kadang harus berhenti-berhenti di jalan,” ujar Ica kepada Kompas.com pada Kamis (23/4/2026).

Medan menuju Nenan bukan sekadar tanah dan batu. Ia adalah rangkaian tanjakan dan turunan curam dengan permukaan tak rata yang mudah berubah, terutama setelah hujan. Di beberapa titik, jalan berubah menjadi bidang miring dari batu keras yang dilapisi tanah lembap, membuat ban motor kerap kehilangan cengkeraman. Di sinilah Ica sering harus turun dari motornya, menahan agar tidak terjatuh, atau justru mengangkatnya kembali saat terguling.

“Kalau tidak kuat, ya pasti jatuh. Kadang kita harus dorong pelan-pelan,” tuturnya, menggambarkan betapa beratnya perjuangan di setiap kilometer.

Jalan Pengabdian yang Terjal

Perjalanan Ica menjadi seorang pendidik rupanya tidaklah instan. Ia lulus dari STAI Solok pada tahun 2012, namun ijazahnya tersimpan rapi selama hampir satu dekade. “Saya baru mulai mengajar tahun 2022 sebagai honorer. Sebelumnya memang hanya ‘meletakkan’ ijazah saja,” jelasnya.

Dimulai dari menjadi guru honorer di SD 06 Maek, Ica kemudian diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pada tahun 2024. Penempatannya di SD 08 Nenan, sebuah lokasi yang secara geografis sulit dijangkau, namun harus ia datangi setiap hari. Sejak saat itu, jalan menuju Nenan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupannya.

Sendiri di Tengah Jalan Sepi

Pada tahun pertamanya mengajar, Ica menjalani rutinitas ini seorang diri. Ia berangkat pagi, melintasi jalan tanah yang sepi, keluar masuk kawasan hutan, tanpa ada teman seperjalanan. “Dulu benar-benar sendiri. Tidak ada teman. Hilir mudik sendiri saja,” kenangnya.

Baru setahun terakhir, Ica ditemani oleh seorang rekan, Afridi Ningsih. Namun, kebersamaan itu tak serta merta mengurangi beban. Mereka tetap harus membawa motor masing-masing, sebab medan yang berat membuat berboncengan menjadi pilihan yang terlalu berisiko. “Harus sendiri-sendiri. Kalau satu jatuh, yang lain bisa bantu,” ujarnya.

Risiko yang Berulang

Dalam rutinitas perjalanan yang hampir sama setiap hari, kejadian tak terduga justru menjadi sesuatu yang berulang. Ban bocor, misalnya, sudah beberapa kali dialaminya. “Sudah lima kali ban bocor di jalan. Tapi tetap harus dibawa sampai tujuan,” kata Ica.

Tak ada pilihan lain. Meninggalkan motor di tengah jalur bukan opsi yang aman, sementara mendorongnya di medan menanjak membutuhkan tenaga ekstra. Kekhawatiran terbesarnya adalah ketika rem tidak berfungsi. “Kalau rem blong, apalagi di turunan, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Cuma bisa diam dan berharap ada yang bantu,” ujarnya.

Di jalan itu, bantuan tidak datang cepat. Sinyal telepon pun tak ada. Tak ada jaminan orang akan segera lewat. “Biasanya menunggu orang yang lewat. Kadang petani yang pulang dari ladang,” katanya.

Advertisement

Jika jalan kering saja sudah sulit, hujan membuat segalanya berubah. Tanah menjadi lebih licin, alur air muncul di tengah jalan, dan di satu titik, air bisa meluap hingga menutup badan jalan. “Kalau hujan lebat, tidak bisa lewat sama sekali. Airnya tinggi,” ujar Ica.

Ia pernah memaksakan diri tetap berangkat mengajar meski hujan turun, namun perjalanan terhenti di tengah jalan. “Saya sudah sampai di titik yang airnya besar. Tidak bisa lewat. Akhirnya minta izin ke kepala sekolah dan disuruh pulang,” tuturnya.

Perjalanan panjang itu sering kali meninggalkan jejak di tubuh dan pakaian. Lumpur dari jalan tanah menempel di baju, sepatu, bahkan wajah. “Kadang sampai di sekolah harus bersih-bersih dulu. Bawa baju ganti, atau cuci sedikit supaya layak dipakai,” katanya. Sepatu sering dilepas selama perjalanan untuk menghindari licin, baru dipakai kembali ketika sudah mendekati sekolah. Rutinitas kecil ini menjadi bagian tak terpisahkan sebelum ia berdiri di depan kelas.

Kelelahan yang Ditahan, Semangat yang Dijaga

Sepulang mengajar, perjalanan yang sama harus kembali ditempuh. Dalam kondisi tubuh yang sudah lelah, jalur yang sama terasa lebih berat. “Kalau sampai rumah, badan rasanya sakit semua,” ujar Ica.

Ia selalu membawa minyak angin dan obat gosok di dalam tasnya. Itu menjadi penolong sederhana untuk menjaga tubuh tetap kuat menjalani hari berikutnya. Namun, di balik semua kelelahan itu, ada alasan yang membuatnya terus bertahan. “Melihat anak-anak berkembang, itu yang membuat saya semangat,” katanya.

Ica kini mengajar 15 murid di kelas tiga. Bagi Ica, setiap kemajuan kecil dari murid-muridnya menjadi penguat di tengah perjalanan panjang yang harus ia tempuh.

Jalan yang Masih Ditunggu Perbaikannya

Di tengah pengabdiannya, Ica menyimpan harapan sederhana, yakni perbaikan jalan menuju Nenan. “Tidak harus semuanya. Yang penting titik-titik yang ekstrem dulu diperbaiki,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota menyatakan telah menganggarkan perbaikan di beberapa titik terjal pada tahun ini. Empat ruas yang selama ini menjadi titik rawan direncanakan akan diperbaiki secara bertahap. Namun, bagi Ica, sebelum alat berat benar-benar datang dan jalan berubah, rutinitas itu akan tetap sama.

Setiap pagi, ia akan kembali berangkat. Meniti jalan yang licin, menahan motor di tanjakan, dan menjaga keseimbangan di turunan—semua demi satu hal yang sederhana namun berarti: agar ia bisa sampai di kelas, dan murid-muridnya tetap belajar.

Advertisement