— BENGKULU, KOMPAS.com – Di tengah kegelapan malam, puluhan perahu nelayan berukuran 5 hingga 10 GT meninggalkan Desa Linau, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Misi mereka tak lain menembus luasnya Samudera Hindia hingga 40 mil dari bibir pantai, demi “menumpang” di rumpon milik perusahaan swasta untuk memancing tuna. Bagi para nelayan, pelayaran panjang ini adalah rutinitas demi menyambung hidup.

Perjalanan sejauh 40 mil laut itu ditempuh sejak dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB. Jika cuaca bersahabat, para nelayan akan tiba di lokasi rumpon milik perusahaan swasta. Di sana, mereka berharap keberuntungan memihak, mendapatkan tangkapan tuna yang bisa dijual kepada para tauke. “Perjalanan 40 mil, subuh kalau cuaca bagus para nelayan tiba di rumpon milik perusahaan swasta, menumpang peruntungan kalau saja ada tuna yang didapat untuk dijual pada para tauke,” cerita Agus Tiyawan, seorang nelayan yang juga merangkap penampung ikan di Desa Linau, seperti dikutip dari Kompas.com.

Namun, nasib tak selalu berpihak. Ada kalanya para nelayan pulang dengan tangan hampa, padahal biaya operasional sekali melaut tidak kurang dari Rp 1 juta. Meski begitu, kegiatan memancing di rumpon perusahaan swasta ini dianggap sebagai solusi sementara yang sangat membantu kebutuhan keluarga. Para nelayan mengaku bersyukur atas kesempatan yang diberikan perusahaan swasta untuk memancing tuna.

“Ada semacam simbiosis antara nelayan dengan penjaga rumpon. Nelayan datang membawa kebutuhan harian penjaga rumpon seperti beras, minyak, rokok, dibarter dengan bebas memancing tuna,” ujar Agus, menjelaskan pola hubungan yang terjalin.

Tak jarang pula, para nelayan harus menghadapi kenyataan pahit. Saat tiba di rumpon, ternyata pemiliknya baru saja melakukan panen, sehingga ikan sudah tidak tersisa. “Kalau pemilik panen maka nelayan harus pindah ke rumpon lain. Karena di tengah laut itu ada banyak rumpon milik perusahaan swasta rata-rata kami nelayan diperbolehkan menumpang mancing ikan tuna,” sebutnya.

Rio, nelayan lainnya, mengisahkan beratnya tantangan yang dihadapi saat menembus laut sejauh 40 mil. Ia tak menampik kemungkinan adanya nelayan yang hilang, perahu karam, dan berbagai hambatan lain. “Bayangkan bagaimana di 40 mil laut kami tidak melihat ada daratan, bumi seperti terbentang datar hanya ada air laut. Satu-satunya pegangan hanyalah kompas dan titik koordinat,” jelas Rio.

Harapan Nelayan: Rumpon Komunal

Agus, Rio, dan nelayan lainnya di Desa Linau, memiliki harapan besar agar pemerintah dapat membantu pembuatan rumpon komunal. Dengan adanya rumpon komunal yang dibuat bersama, mereka tidak perlu lagi berlayar jauh ke tengah laut. “Selama ini tiap malam nelayan harus menjelajah laut sejauh 40 mil. Kalau ada rumpon komunal dibuat bersama, maka bisa saja rumpon dipasang di 10 mil laut. Selama ini kami menumpang rumpon pihak swasta,” kata Agus.

Menurut para nelayan, biaya pembuatan satu rumpon berkisar antara Rp 50 juta hingga Rp 200 juta, tergantung ukuran. Rumpon ini biasanya dibuat dari daun kelapa yang diikat dan diberi pemberat agar tidak hanyut, lalu ditandai dengan titik koordinat. Satu rumpon berukuran besar diklaim dapat dimanfaatkan oleh puluhan nelayan, dan biasanya dalam waktu tiga minggu, ikan-ikan sudah mulai berkumpul.

“Kami berharap pemerintah dapat membantu nelayan dengan pembuatan rumpon, nanti dijaga bersama nelayan menjadi rumpon komunal. Ini penting agar tak perlu jauh melaut serta menghemat bahan bakar,” ujar Agus.

Potensi Laut Kaur Belum Termanfaatkan Optimal

Edward, seorang penampung ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Linau, Kabupaten Kaur, mengakui potensi ikan laut segar di wilayahnya sangat melimpah dan berkualitas ekspor. “Nelayan Linau, dan Kabupaten Kaur ini, nelayan harian, berangkat cari ikan malam, pagi atau siang mereka sudah mendarat jadi ikannya sangat segar,” katanya.

Potensi ikan di Kaur meliputi tuna, marlin, tongkol, barakuda, sarimedang, layur, serta gurita. Edward menambahkan bahwa kondisi laut Kaur yang masih bersih dari pencemaran menjadi faktor utama kualitas ikan yang dihasilkan.

Meski demikian, para nelayan mengeluhkan keterbatasan yang mereka hadapi. Mulai dari Sumber Daya Manusia (SDM), peralatan, jaringan penjualan, hingga minimnya modal, membuat ikan-ikan berkualitas ekspor tersebut belum mampu dijual ke pasar internasional. “Kami ini memiliki banyak keterbatasan, SDM, peralatan, jaringan penjualan, modal, hingga ikan-ikan kualitas ekspor kami tidak bisa kami jual ekspor. Ini juga menjadi keterbatasan nelayan yang butuh support pemerintah,” jelas Edward.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kaur, Riplain Suhaidi, menyebutkan bahwa hasil perikanan tangkap di daerahnya mencapai 5,8 juta ton per tahun, yang dihasilkan oleh sekitar 3.200 nelayan. Hasil laut ini sebagian dijual ke Jakarta, Padang, Palembang, dan Lampung.

Riplain menambahkan bahwa potensi hasil laut di Kabupaten Kaur sangat besar untuk memperkuat ketahanan pangan. Dinasnya juga aktif melakukan sosialisasi agar masyarakat, khususnya dapur-dapur rumah tangga, dapat memanfaatkan hasil laut yang kaya gizi dan sekaligus memberdayakan nelayan.

Saat matahari perlahan naik menandakan siang menjelang, perahu-perahu nelayan mulai merapat ke pantai. Wajah cerah terpancar dari mereka yang mendapatkan tangkapan melimpah, sementara yang kurang beruntung hanya bisa tersenyum dan menerima ledekan dari sesama nelayan. “Kami kadang bagi juga ikan untuk kawan nelayan lain yang mungkin hari ini tidak mendapatkan ikan. Begitulah berbagi untuk saling memberi,” ujar Agus, menggambarkan semangat kebersamaan di antara para nelayan.