— BANYUMAS, Kompas.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyoroti masalah krusial dalam sistem pendidikan Indonesia, yakni rendahnya tingkat konsentrasi anak didik yang diduga kuat dipicu oleh penggunaan media sosial dan gawai secara berlebihan.

“Anak-anak kita memiliki problem serius dalam hal konsentrasi akibat kebiasaan bermain gawai,” ungkap Mu’ti saat menghadiri acara Peresmian Revitalisasi Satuan Pendidikan Se-Kabupaten Banyumas di Banyumas, Jawa Tengah, pada Sabtu (25/4/2026).

Mu’ti menjelaskan bahwa penelitian menunjukkan keterkaitan erat antara penggunaan gawai yang masif, termasuk platform media sosial, dengan penurunan kemampuan konsentrasi pada anak. “Dampak langsung yang paling terlihat pada kecerdasan adalah rentang perhatian yang semakin pendek. Kita berbicara dengannya, belum selesai satu topik, ia sudah beralih ke hal lain,” papar Mu’ti.

Dampak Lebih Luas pada Kesehatan Mental

Lebih lanjut, Mu’ti mengutip temuan penelitian yang sama, yang mengindikasikan bahwa paparan media sosial yang berlebihan juga berdampak signifikan terhadap kesehatan mental anak-anak. Fenomena ini bahkan telah menjadi perhatian global.

“Banyak dari mereka mengalami gangguan psikologis atau mental, baik dalam kategori ringan maupun berat. Dampak gangguan mental ini menjadi perhatian serius dari WHO, Kementerian Kesehatan, dan Unicef. Ada indikasi bahwa satu dari sepuluh orang mengidap gangguan mental, baik ringan maupun berat,” tegas Mu’ti.

Kondisi ini bahkan disebut Mu’ti turut berkontribusi pada peningkatan angka bunuh diri di kalangan anak-anak. Menanggapi situasi tersebut, Kementerian Pendidikan bersama enam kementerian terkait lainnya telah mengeluarkan regulasi yang mengatur pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.

“Langkah ini diambil dalam rangka membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman, serta menciptakan lingkungan yang melindungi anak-anak dari berbagai dampak negatif penggunaan media sosial, yang sering kali lebih banyak membawa kerugian daripada manfaat,” ujar Mu’ti.

Pentingnya Pendekatan Holistik dalam Pendidikan

Menurut Mendikdasmen, peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat hanya bertumpu pada perbaikan sarana dan prasarana. Ia menekankan pentingnya perubahan dalam pendekatan pembelajaran serta penguatan pendidikan karakter sebagai komponen esensial.