Akses.co.id — JAKARTA, KOMPAS.com – Beban kerja personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta dinilai sangat berlebih, bahkan hingga menyebabkan puluhan anggota meninggal dunia dalam kurun waktu setahun terakhir. Kondisi ini memaksa para petugas untuk tetap menjalankan tugas, meski menyangkut kesehatan dan keselamatan.
Seorang petugas Satpol PP Kelurahan Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat, Dede Wahyudi, membenarkan tingginya tuntutan pekerjaan ini. Ia menjelaskan bahwa rutinitas harian mereka dipenuhi dengan kegiatan pengawasan, patroli rutin, hingga penanganan tugas-tugas mendadak yang seringkali tidak terduga.
“Jika ada yang bilang tugas Satpol PP itu berlebihan, ya mau tidak mau kita harus lakukan. Memang kadang ada tugas-tugas dadakan. Yang seharusnya tidak ada tugas, tiba-tiba ada perintah penjagaan di sana-sini. Dibilang berlebihan ya banyak lebihnya (pekerjaan), tapi kita harus tetap menghadapi,” ujar Dede saat ditemui Kompas.com di Kembangan, Jumat (24/2/2026).
Dede merinci, personel Satpol PP diatur dalam tiga shift, yaitu pagi, siang, dan piket 24 jam. Namun, waktu istirahat kerap terpaksa dikorbankan ketika terjadi situasi darurat di wilayah, seperti kebakaran, banjir, atau kejadian lain yang membutuhkan kehadiran dan pengamanan.
Ia juga menepis anggapan sebagian masyarakat yang menilai petugas Satpol PP hanya bersantai saat bertugas. “Kalau ada (yang bilang) Satpol PP kerjanya nongkrong, mereka salah, mereka keliru. Kayak kita nih kerjanya benar-benar 24 jam. Kadang saat pas kita istirahat jam 12 malam, saatnya tidur pun, tiba-tiba ada kebakaran, pembunuhan, atau pohon tumbang karena hujan deras, banjir, itu kita bekerja, keluar ke wilayah,” tegasnya.
“Kami berusaha sekuat tenaga untuk melakukan pekerjaan kami setiap hari demi masyarakat,” imbuh Dede.
Menghadapi kondisi fisik yang dituntut prima selama berjam-jam di lapangan, Dede mengakui kelelahan menjadi hal yang tak terhindarkan. Ia berupaya menjaga stamina dengan mengatur waktu istirahat, makan tepat waktu, serta mengelola stres. “Beban-beban pikiran dibuang dulu. Jangan dipikirin, agar kita bisa merasa nyaman gitu saat melakukan pekerjaan, khususnya di lapangan, termasuk juga menjaga mood, kalau mood bagus itu badan bisa sehat,” tuturnya.
Meskipun demikian, Dede mengapresiasi perhatian pimpinannya terkait kesejahteraan personel, seperti penyediaan fasilitas istirahat berupa kasur bertingkat di markas. Namun, ia juga menyoroti kebutuhan mendesak akan penambahan personel di tingkat kelurahan yang dirasa masih sangat kurang untuk mencakup area pengawasan yang luas.
Dedikasi di Tengah Keterbatasan
Pernyataan serupa disampaikan oleh Ronatal Purba, petugas Satpol PP Kelurahan Srengseng lainnya. Ia mengakui beratnya beban kerja, namun menjalaninya sebagai amanat profesi. “Beban kerja untuk Satpol PP sekarang ini kalau dibilang berat, ya semua pekerjaan pasti berat. Tapi karena ini sudah amanat kita sebagai Satpol PP, itu harus kita jalankan. Kita sudah berdedikasi,” ujar Ronatal.
Sama seperti Dede, Ronatal menjelaskan bahwa meskipun jam kerja operasional dasar terbagi dalam tiga shift, mereka harus selalu siaga apabila diperlukan. Dalam beberapa kegiatan pengamanan, seperti demonstrasi, personel bahkan diwajibkan untuk bersedia menginap di lokasi demi memastikan keamanan.
Untuk menyiasati beban kerja, Ronatal menekankan pentingnya kedisiplinan dalam mengatur pola makan dan memaksimalkan waktu luang untuk beristirahat. “Kalau sewaktu kita lenggang, jam istirahat ya kita istirahat. Jangan main HP, jangan ngobrol-ngobrol, jam istirahat kita istirahat. Karena tugas ke depannya harus lebih waspada dan lebih kuat lagi,” pesannya.
Ronatal juga menyoroti pentingnya kekompakan antarpersonel dalam menghadapi beratnya tugas di lapangan. “Kita harus selalu sinergi, saling menolong, gotong royong. Kerja harus sama-sama merangkul. Jangan saatnya kerja, dia ada yang tidak kerja. Kita harus jaga kekompakan supaya beban ini ditangani bersama-sama,” tutupnya.
Beban Kerja Ekstrem Hingga 36 Jam
Sebelumnya, Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Satriadi Gunawan, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa sebanyak 35 anggota Satpol PP DKI Jakarta meninggal dunia dalam kurun waktu sekitar satu tahun terakhir. Ia menyatakan kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh beratnya beban kerja, bahkan ada anggota yang terpaksa bekerja hingga 36 jam non-stop.
“Sudah hampir anggota saya 35 orang meninggal dunia. Bukan karena kasatnya, Pak, tapi karena memang kondisionalnya, beban kerja, dan sarana prasarananya yang luar biasa. Anggota Satpol PP itu ada yang sampai kerja sampai 36 jam,” ujar Satriadi dalam rapat bersama Komisi A DPRD DKI Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Satriadi menjelaskan, keterbatasan jumlah personel menjadi salah satu penyebab utama tingginya jam kerja. Di tingkat kelurahan, jumlah anggota Satpol PP hanya berkisar tujuh hingga 10 orang, sementara tugas yang harus dijalankan cukup banyak. Akibatnya, anggota harus bekerja lebih lama untuk menutupi kekurangan tersebut.
Selain itu, fasilitas pendukung juga dinilai belum memadai. Anggota yang berjaga selama 24 jam di kantor kelurahan bahkan tidak memiliki tempat istirahat yang layak. Banyak dari mereka terpaksa beristirahat di mushala atau lorong kantor.
Bekerja hingga 36 jam tanpa tempat istirahat yang memadai berdampak signifikan pada kesehatan anggota. Satriadi menyebutkan banyak anggotanya yang mengalami hipertensi, yang berpotensi menyebabkan kematian. “Kemarin kami melakukan cek, medical check-up, ternyata tensi darah, tensi tingginya luar biasa. Nah itu mungkin mohon bapak, ibu Komisi A bisa memperhatikan kami,” ujar Satriadi, berharap adanya perhatian lebih dari legislator.
Ikuti Akses.co.id
