Akses.co.id — Dua bulan pasca pecahnya konfrontasi bersenjata antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026, lanskap konflik bergeser dari kampanye udara presisi menjadi perang atrisi yang melelahkan. Operasi yang diberi sandi Epic Fury oleh Pentagon kini terperangkap dalam gencatan senjata sementara yang rapuh, dimediasi oleh Pakistan, sementara mesin perang kedua belah pihak menunjukkan tanda-tanda kelelahan struktural.
Eskalasi ini bukanlah insiden militer yang terisolasi, melainkan puncak dari kegagalan diplomasi global selama satu dekade dalam mengekang ambisi regional dan nuklir Teheran. Meskipun AS dan Israel berhasil menghancurkan sebagian besar infrastruktur militer konvensional Iran dalam hitungan minggu, “kemenangan total” tetap menjadi ilusi.
Iran, meski babak belur, menunjukkan daya tahan asimetris yang mampu memberikan pukulan balik signifikan terhadap instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Hingga 30 April 2026, situasi digambarkan sebagai labirin geopolitik di mana setiap pintu keluar terkunci oleh ego nasional dan perhitungan strategis yang keliru. Gencatan senjata selama dua minggu yang dimulai 8 April, dan diperpanjang atas permintaan Islamabad, lebih terlihat sebagai jeda logistik ketimbang niat tulus berdamai.
Ketidakpastian dan Logika Perang Beku
Ketidakpastian ini diperburuk oleh fakta bahwa kedua pihak terjebak dalam logika frozen conflict, di mana perdamaian formal mustahil dicapai, namun perang terbuka terlalu mahal untuk dilanjutkan. Anomali unik dalam perang ini adalah ketahanan rezim di Teheran meskipun kehilangan figur sentralnya.
Tewasnya Pemimpin Agung Ali Khamenei pada gelombang pertama serangan 28 Februari 2026 seharusnya memicu keruntuhan sistemik menurut kalkulasi Barat yang dibisikkan Israel. Namun, transisi kekuasaan ke Mojtaba Khamenei, yang didukung penuh junta militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), justru menggeser struktur kekuasaan Iran menjadi lebih militeristik dan tertutup. Hal ini mempersulit upaya negosiasi langsung yang membutuhkan otoritas tunggal yang jelas.
Akibatnya, upaya diplomatik yang dimediasi oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Chief Marshal Asmi Munir di Islamabad pada pertengahan April 2026 berakhir tanpa kesepakatan tertulis maupun nota kesepahaman (MoU). Kendala utama bukan pada teknis gencatan senjata, melainkan jurang perbedaan paradigma yang mustahil dijembatani dalam waktu dekat.
Dua Rencana, Jurang Perbedaan Paradigma
Amerika Serikat mengajukan rencana 15-poin yang menuntut pengayaan uranium nol persen (zero enrichment) dan pembersihan total material nuklir dari wilayah Iran sebagai syarat mutlak. Tuntutan ini dipandang Teheran bukan sebagai proposal perdamaian, melainkan naskah kapitulasi yang menghina kedaulatan mereka.
Di sisi lain, Iran membalas dengan rencana 10-poin yang menekankan penghentian segera blokade angkatan laut Amerika Serikat, pembayaran reparasi perang penuh atas infrastruktur yang hancur, dan pengakuan hak navigasi di Selat Hormuz. Isu Selat Hormuz menjadi kartu truf terakhir Iran, di mana mereka menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur minyak global bergantung sepenuhnya pada penghentian “agresi ekonomi” Washington.
Kebuntuan diperparah oleh krisis kepercayaan di pihak Amerika Serikat terhadap siapa yang sebenarnya memegang mandat di Teheran. Presiden Trump secara terbuka menyatakan kebingungannya terhadap struktur kepemimpinan Iran, menyebut bahwa Teheran “tidak tahu siapa pemimpinnya,” mengingat Mojtaba Khamenei belum muncul di publik dan keputusan strategis kini berada di tangan faksi garis keras IRGC yang dipimpin Ahmad Vahidi.
Kendala diplomasi ini semakin runyam dengan tuntutan Amerika untuk memutus total dukungan Iran terhadap proksi regional seperti Hizbullah dan Houthi. Bagi Teheran, jaringan proksi tersebut adalah garis pertahanan pertama yang tidak akan dilepaskan begitu saja tanpa jaminan keamanan eksistensial bagi rezim. Akibatnya, pembicaraan di Islamabad tidak menghasilkan jadwal baru untuk dialog tingkat tinggi.
Penurunan Tingkat Keterlibatan dan Teater Formalitas
Delegasi Amerika bahkan menurunkan tingkat keterlibatannya dengan mengirim utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, alih-alih Wakil Presiden JD Vance yang sebelumnya memimpin perundingan maraton selama 21 jam. Tanpa adanya arbitrer pusat yang berdaulat di Teheran, negosiasi saat ini lebih menyerupai teater formalitas yang menunggu salah satu pihak ambruk secara ekonomi atau militer.
Kerusakan Militer Iran dan Perlawanan Asimetris
Secara militer, Iran memang mengalami degradasi masif. Lebih dari 66 persen fasilitas produksi rudal, drone, dan pangkalan angkatan laut mereka dilaporkan hancur atau rusak berat. Operasi “Midnight Hammer” yang menggunakan pembom siluman B-2 Spirit pertengahan tahun lalu berhasil menembus fasilitas Fordow yang terkubur jauh di bawah gunung, memaksa program nuklir Teheran mundur setidaknya dua tahun.
Sektor industri strategis seperti baja juga lumpuh, dengan kehilangan output hingga 30 persen setelah serangan terhadap perusahaan baja Mobarakeh dan Khuzestan. Namun, kehancuran konvensional ini tidak serta-merta melumpuhkan perlawanan Iran. Republik Islam telah beralih sepenuhnya ke strategi perang gerilya laut dan serangan drone saturasi yang sulit diprediksi.
Meskipun 90 persen kapal perang utama Iran berada di dasar laut, IRGC masih mengoperasikan ratusan kapal cepat bersenjata rudal yang bersembunyi di gua-gua pesisir, siap menyergap kapal tanker dan kapal perang Amerika di Selat Hormuz. Keberhasilan jet tempur F-5 Iran yang uzur menembus pertahanan udara AS dan menyerang Camp Buehring di Kuwait menjadi “reminder” bahwa superioritas teknologi tidak selalu memberikan perlindungan absolut.
Biaya Perang bagi Amerika Serikat dan Tekanan Domestik
Di sisi lain, serangan balasan Iran telah menyebabkan kerusakan infrastruktur pada setidaknya 11 instalasi militer AS di tujuh negara, dengan estimasi biaya perbaikan yang mencapai miliaran dolar AS. Bagi Amerika Serikat, perang ini ternyata telah menjadi lubang hitam anggaran dan logistik.
Pentagon secara resmi mengakui pengeluaran sebesar 25 miliar dollar AS. Analis independen memperkirakan angka riil mendekati 40-50 miliar dollar AS jika memperhitungkan penggantian aset dan perbaikan pangkalan. Masalah lain yang tidak kalah penting adalah penipisan stok amunisi presisi. Amerika Serikat kini berada pada titik “Winchester,” di mana penggunaan rudal kritis seperti Tomahawk, Patriot, dan JASSM telah melampaui setengah dari inventaris pra-perang.
Dengan waktu pengisian kembali yang memakan waktu satu hingga empat tahun, kelanjutan perang di Iran secara efektif melumpuhkan kesiapan militer AS dalam menghadapi potensi konflik di Pasifik melawan China. Tekanan domestik terhadap Presiden Trump pun kian memuncak, di mana tingkat approval merosot ke angka 34 persen akibat lonjakan harga bensin hingga 4,11 dollar AS per galon dan inflasi pangan yang dipicu oleh gangguan rantai pasok global.
Israel: Aktor yang Menolak De-eskalasi
Celakanya lagi, di tengah keinginan Amerika untuk mencari jalan keluar, Israel muncul sebagai aktor yang paling tidak menginginkan de-eskalasi prematur. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melihat konflik ini justru sebagai kesempatan bersejarah untuk mengubah peta Timur Tengah secara permanen dengan menghancurkan kapasitas Iran sebagai negara.
Strategi Israel telah bergeser dari sekadar “mencukur rumput” (mowing the grass) menjadi “mencabut akar,” dengan target yang kini menyasar infrastruktur sipil dan ekonomi Iran untuk memicu keruntuhan rezim dari dalam. Ketegangan antara Washington dan Yerusalem mulai terlihat jelas. Amerika Serikat menginginkan stabilitas energi, sementara Israel mendesak penghancuran total, bahkan jika itu berarti memperpanjang perang yang menguras sumber daya sekutu utamanya.
Keinginan Israel adalah netralisasi total kapasitas nuklir dan rudal Iran tanpa ada ruang bagi negosiasi yang memungkinkan Teheran membangun kembali kekuatannya di masa depan. Namun, strategi ini mengabaikan realitas sosial-ekonomi di Iran. Meskipun negara tersebut menghadapi inflasi hingga 73,5 persen dan krisis pangan yang cukup akut, loyalitas aparat keamanan terhadap struktur kekuasaan baru di bawah kendali IRGC justru tetap solid.
Analisis ke Depan: Perang Atrisi atau Konflik Beku Metastatik
Analisis ke depan menunjukkan bahwa tanpa adanya konsesi yang radikal dari salah satu pihak, perang ini akan berevolusi menjadi perang atrisi yang berkepanjangan atau konflik beku yang metastatik. Iran akan terus hancur secara internal, tapi Amerika Serikat juga akan kehilangan supremasi militernya karena kehabisan amunisi presisi dan dukungan politik domestik menjelang pemilihan sela.
Pendek kata, titik damai permanen masih sulit ditemukan selama syarat minimal satu pihak adalah syarat maksimal pihak lainnya. Di satu sisi, Amerika terjebak dalam dilema antara komitmen pada Israel dan kebutuhan menjaga stabilitas domestik. Sementara di sisi lain, Iran terjebak dalam logika bertahan hidup asimetris.
Jika gencatan senjata saat ini gagal menjadi kesepakatan permanen, kawasan Teluk akan terkunci dalam status “perang tanpa kemenangan”. Iran semakin luluh lantak, tapi biaya yang harus dibayar oleh Amerika Serikat dan ekonomi global akan melampaui manfaat strategis apa pun yang awalnya diharapkan dari kampanye militer tersebut.
Ikuti Akses.co.id
