— Amerika Serikat dilaporkan menghadapi krisis cadangan amunisi kritis akibat perang yang dipicu olehnya dan Israel di Timur Tengah sejak akhir Februari lalu. Intensitas pertempuran memaksa pengurasan stok bom, rudal, dan perangkat keras militer lainnya, memicu kekhawatiran akan kesiapan AS dalam menghadapi potensi konflik dengan kekuatan besar seperti China dan Rusia.

Perkiraan internal Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) dan pejabat kongres menunjukkan bahwa persenjataan yang dikirim ke Timur Tengah diambil dari komando militer di Asia dan Eropa. Meskipun Gedung Putih belum merilis estimasi biaya resmi, dua lembaga independen memperkirakan pengeluaran perang mencapai antara 28 hingga 35 miliar dollar AS, atau hampir 1 miliar dollar AS per hari. Dalam dua hari pertama saja, militer AS telah menghabiskan amunisi senilai 5,6 miliar dollar AS.

“Pada tingkat produksi saat ini, memulihkan apa yang telah kita habiskan bisa memakan waktu bertahun-tahun,” ujar Senator Jack Reed, petinggi Partai Demokrat di Komite Angkatan Bersenjata AS.

Stok Rudal Strategis Menipis

Sejak perang dimulai hingga gencatan senjata dua pekan lalu, AS telah menghabiskan stok senjata yang semula dipersiapkan untuk skenario perang dengan China. Setidaknya empat jenis rudal strategis kini dikhawatirkan stoknya menipis:

  • Rudal Siluman Jarak Jauh JASSM-ER: Sekitar 1.100 unit telah ditembakkan, mendekati separuh dari total cadangan AS yang kini diperkirakan hanya tersisa 1.500 unit.
  • Rudal Tomahawk: Lebih dari 1.000 unit diluncurkan, setara dengan 10 kali lipat jumlah yang dibeli Pentagon dalam setahun.
  • Rudal Pencegat Patriot: Lebih dari 1.200 unit digunakan, dengan harga per unit mencapai 4 juta dollar AS.
  • Rudal Darat ATACMS & Precision Strike: Lebih dari 1.000 unit ditembakkan, menyisakan stok pada level yang mengkhawatirkan.

Mark F. Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), mencatat bahwa meskipun AS memiliki banyak jenis amunisi, stok rudal serangan darat dan pertahanan udara tertentu kini sangat terbatas. “AS memiliki banyak amunisi dengan inventaris yang memadai, tetapi beberapa amunisi serangan darat dan pertahanan rudal yang kritis sudah menipis sebelum perang, dan sekarang bahkan lebih sedikit lagi,” kata Cancian.

Pengurasan senjata dari wilayah lain juga telah melemahkan posisi AS secara global. Di Pasifik, kelompok jet tempur dari kapal induk USS Abraham Lincoln dialihkan dari Laut China Selatan ke Timur Tengah. Pentagon juga memindahkan sistem pertahanan udara canggih THAAD dari Korea Selatan, satu-satunya sekutu Asia yang menampungnya untuk membentengi diri dari Korea Utara.

Laksamana Samuel J. Paparo Jr., kepala Komando Indo-Pasifik, mengakui adanya keterbatasan stok dalam sidang Senat. “Ada batasan yang terbatas pada kapasitas gudang senjata kami,” ungkapnya. Kondisi serupa terjadi di Eropa, di mana perang ini telah menguras sistem senjata krusial untuk mempertahankan sayap timur NATO dari agresi Rusia. Hilangnya drone pengintai dan penyerang disebut sebagai masalah serius yang menghambat latihan militer dan kemampuan ofensif di kawasan tersebut.

Respons Gedung Putih dan Pentagon

Menanggapi laporan mengenai penipisan stok ini, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt memberikan bantahan tegas. “Seluruh premis dari cerita ini adalah salah. AS memiliki militer terkuat di dunia, lengkap dengan senjata dan amunisi yang lebih dari cukup, baik di dalam negeri maupun di seluruh dunia, untuk mempertahankan tanah air secara efektif,” tegas Leavitt.

Sementara itu, juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menolak mengomentari detail kebutuhan untuk palagan pertempuran atau kemampuan sumber daya global dengan alasan keamanan operasional. Saat ini, Pentagon masih menunggu persetujuan dana tambahan dari Kongres untuk membayar produsen senjata guna mengisi kembali pasokan yang habis. Meskipun perjanjian jangka panjang dengan kontraktor pertahanan seperti Lockheed Martin telah diamankan untuk melipatgandakan produksi, proses tersebut belum dapat dimulai karena kendala pendanaan.