Nasional

Marak Kecurangan UTBK 2026, Anggota DPR: Pengkhianatan Terhadap Nilai Kejujuran

Advertisement

Anggota Komisi X DPR, Muhammad Hilman Mufidi, menyuarakan keprihatinan mendalam atas maraknya praktik kecurangan yang terjadi dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026. Menurutnya, tindakan ini tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga merupakan bentuk pengkhianatan terhadap nilai kejujuran yang fundamental dalam dunia pendidikan.

“Kecurangan dalam SNBT bukan hanya pelanggaran aturan, tetapi bentuk pengkhianatan terhadap nilai kejujuran dalam pendidikan. Jika dibiarkan, praktik ini akan terus berulang dan merusak sistem secara keseluruhan,” ujar Hilman dalam keterangannya pada Kamis (23/4/2026).

Hilman menekankan pentingnya pengetatan pengawasan untuk mencegah modus kecurangan terus bermunculan di hari-hari mendatang. Ia juga mendesak agar sanksi tegas dijatuhkan kepada peserta yang terbukti melakukan kecurangan.

“Kami mengecam keras segala bentuk kecurangan dalam pelaksanaan UTBK SNBT. Ujian ini bukan sekadar seleksi, tetapi pintu masuk menuju dunia pendidikan tinggi yang harus dijaga integritasnya. Jangan pernah mencoba berbuat curang, karena dampaknya bukan hanya pada hasil ujian, tetapi juga pada pembentukan karakter,” tegas Hilman, seraya mengingatkan dampak serius kecurangan tersebut terhadap generasi bangsa.

Kekhawatiran Hilman tertuju pada potensi mahasiswa yang mengabaikan proses belajar dan memilih jalan pintas melalui tindakan curang demi meraih nilai akademik. Ia menegaskan bahwa keberhasilan yang diraih melalui kejujuran memiliki makna yang jauh lebih besar dan menjadi fondasi yang kokoh untuk masa depan.

“Keberhasilan yang diraih dengan kejujuran akan jauh lebih bermakna dan menjadi fondasi kuat untuk masa depan. Jangan gadaikan masa depan hanya karena ingin lulus dengan cara curang,” ujar Hilman.

Modus Kecurangan UTBK 2026 Terungkap

Pada hari pertama penyelenggaraan UTBK 2026, Selasa (21/4) sesi pertama, berbagai upaya kecurangan telah berhasil dideteksi oleh panitia. Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok, mengungkapkannya dalam konferensi pers yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kemendikti Saintek.

“Pada pagi hari ini sampai dengan pukul 09.00 WIB kita telah mendapatkan informasi berbagai macam kecurangan yang coba dilakukan peserta UTBK di beberapa Pusat UTBK,” ucap Eduart Wolok di Media Center Pusat UTBK Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Advertisement

Salah satu modus kecurangan yang terdeteksi terjadi di Pusat UTBK Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), di mana peserta terindikasi menggunakan alat bantu yang disembunyikan di pakaian.

“Yang pertama kita dapatkan kecurangan di Pusat UTBK Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar). Kecurangannya berupa indikasi ingin menggunakan alat bantu. Jadi alat bantu ini disembunyikan di pakaian dan sebagainya dan alhamdulillah bisa kita deteksi,” sambungnya.

Masih di Unsulbar, praktik perjokian juga berhasil diidentifikasi. Eduart Wolok menjelaskan bahwa modus ini melibatkan penggantian peserta ujian.

“Ditemukan upaya perjokian dengan mengganti peserta. Jadi sengaja dia, orang yang sama mengikuti UTBK 2025, itu ikut lagi di 2026 dengan nama yang berbeda untuk nama pesertanya. Jadi orangnya sama ikut ujian 2025 dan 2026 untuk dua nama. Jadi udah pasti merupakan joki yang mengganti,” ungkap Eduart.

Ia menambahkan bahwa modus joki ini dapat diidentifikasi berkat bukti dari tahun sebelumnya yang dikembangkan dalam penyelidikan. Dalam kasus ini, panitia menunjukkan data dua peserta perempuan yang diduga terlibat.

Selain di Universitas Sulawesi Barat, indikasi kecurangan juga dilaporkan terjadi di sejumlah perguruan tinggi lain, termasuk Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Airlangga (Unair), dan UPN Veteran Jawa Timur.

Advertisement