Global

Manuver China Saat Krisis Selat Hormuz, antara Diplomasi dan Ambisi

Advertisement

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyinggung keterlibatan China di balik layar dalam upaya meredam ketegangan dengan Iran. Kini, Beijing mulai menunjukkan langkah yang lebih terbuka, mendesak Teheran untuk segera duduk di meja perundingan demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan.

Langkah diplomatik China semakin terlihat ketika pekan lalu mereka mengeluarkan tujuan tambahan untuk perdamaian Timur Tengah, melengkapi rencana perdamaian lima poin yang telah ada. Dalam pertemuan dengan negara-negara Teluk, Beijing secara eksplisit menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz. Keaktifan ini dilatarbelakangi oleh kepentingan ekonomi dan geopolitik China yang sangat besar di kawasan tersebut.

Dikutip dari Newsweek, Selasa (21/4/2026), China melihat situasi krisis Selat Hormuz sebagai momentum emas untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah. Beijing berambisi mengambil peran yang selama ini sulit diemban oleh Gedung Putih, yakni menghentikan konflik. China bahkan berpeluang meraih kemenangan diplomatik besar jika mampu membantu mengakhiri konflik dengan cara yang memuaskan Washington tanpa harus sepenuhnya mengasingkan Teheran.

Kepentingan Ekonomi China di Tengah Krisis

Sebagai sekutu ekonomi dan diplomatik utama Iran, China memiliki posisi yang unik. Meskipun sekitar 13 persen pasokan minyaknya diperkirakan berasal dari Teheran, ekonomi China dinilai lebih tangguh menghadapi guncangan energi dibandingkan negara lain. Hal ini didukung oleh strategi penimbunan cadangan minyak yang telah dilakukan sejak awal masa jabatan kedua Trump.

Namun, gangguan yang terus-menerus terjadi di Selat Hormuz mulai menggerus cadangan energi tersebut. Data terbaru menunjukkan adanya penurunan impor minyak dari kawasan Teluk sebesar 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi inilah yang mendorong Beijing beralih dari diplomasi pasif menuju peran konstruktif yang lebih agresif.

Keberhasilan dalam mendamaikan Washington dan Teheran tidak hanya akan mengamankan pasokan energi mereka, tetapi juga menjadi modal diplomatik yang kuat menjelang kunjungan kenegaraan Trump ke China. Kunjungan tersebut bertujuan untuk memperbaiki hubungan bilateral kedua negara.

Hubungan Dekat China dengan Iran Menjadi Kunci

Salah satu kekuatan utama China dalam menghadapi krisis ini adalah jalur komunikasinya yang tetap terbuka dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Analis dari Planet Nine, Tuvia Gering, mencatat bahwa China kemungkinan besar berasumsi IRGC akan tetap menjadi kekuatan dominan dalam politik Iran, terutama di bawah tokoh seperti Mojtaba Khamenei.

“Ini adalah ‘kabar baik’ bagi Beijing, mengingat mereka telah melembagakan hubungan dengan IRGC,” kata Gering. Hubungan ini memiliki dimensi ekonomi yang kuat, karena Beijing secara efektif mendanai organisasi tersebut melalui pembelian minyak Iran yang dikenai sanksi. Kedekatan ini memberikan China daya tawar yang tinggi dalam menekan faksi-faksi di Teheran agar tetap berada dalam koridor gencatan senjata.

Advertisement

Keseimbangan Diplomasi dan Hubungan AS-China

Meskipun mendukung Iran, strategi diplomatik Presiden Xi Jinping terlihat sangat terukur. Juru bicara kedutaan China di Washington, Liu Pengyu, menegaskan bahwa Beijing memegang posisi yang objektif dan adil.

“Akar penyebab gangguan di Selat Hormuz adalah konflik militer. Untuk menyelesaikan masalah ini, konflik harus dihentikan sesegera mungkin,” tegas Liu. China berupaya mendorong solusi diplomatik tanpa harus terlibat langsung dalam eskalasi militer, namun tetap memberikan tekanan halus pada Teheran.

Peneliti dari Nanyang Technological University Singapura, Adrian Ang, menilai langkah-langkah Beijing sejauh ini relatif tidak memakan biaya besar, namun menempatkan mereka dalam posisi tawar yang lebih baik dibandingkan Washington. China bahkan rela meredam kritiknya terhadap AS, seperti saat mereka tidak mengutuk penyitaan kapal kargo Iran Touska oleh militer Amerika baru-baru ini.

Bagi Beijing, hubungan dengan AS tetap menjadi prioritas utama di atas kepentingannya dengan Iran. Gering menyebutkan, ketika dipaksa memilih, China akan mengutamakan hubungannya dengan AS karena ketidakseimbangan nilai ekonomi kedua negara tersebut bagi Beijing.

“Dengan begitu banyak hal yang dipertaruhkan dalam keterlibatan tingkat tinggi AS-China, termasuk kunjungan Trump ke Beijing, hierarki prioritas tetap jelas, dan bagi China, itu pada dasarnya adalah ‘Amerika yang utama’,” pungkasnya.

Potensi keberhasilan China dalam membuka kembali Selat Hormuz sebelum kunjungan Trump bulan depan bisa menjadi kejutan diplomatik besar.

Advertisement