— Makanan ultra-proses, yang meliputi camilan kemasan, makanan beku siap saji, dan minuman berpemanis buatan, kembali menjadi sorotan terkait dampaknya terhadap kesehatan mental. Sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open, melibatkan peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, menemukan adanya potensi peningkatan risiko depresi akibat konsumsi tinggi makanan jenis ini.

Makanan ultra-proses didefinisikan sebagai pangan yang telah melalui berbagai tahapan pengolahan industri. Ciri khasnya adalah kandungan bahan tambahan seperti pemanis buatan, pengawet, perisa, pewarna, dan emulsifier. Contoh umum makanan ultra-proses antara lain keripik dan camilan dalam kemasan, mi instan, makanan beku siap saji, minuman berpemanis buatan, serta sereal manis.

Meskipun menawarkan kepraktisan, makanan jenis ini sering kali dikaitkan dengan kualitas gizi yang lebih rendah dibandingkan dengan makanan utuh.

Kaitan Konsumsi Makanan Ultra-Proses dengan Risiko Depresi

Penelitian ini menganalisis data pola makan dan kesehatan mental dari 31.712 perempuan paruh baya yang berpartisipasi dalam Nurses’ Health Study II. Data dikumpulkan selama periode 2003 hingga 2017, di mana peserta melaporkan pola makan mereka setiap empat tahun dan mencatat diagnosis depresi atau penggunaan antidepresan.

Hasil studi menunjukkan korelasi yang signifikan. Kelompok yang paling banyak mengonsumsi makanan ultra-proses, yaitu lebih dari sembilan porsi per hari, memiliki risiko depresi 50 persen lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang mengonsumsi empat porsi atau kurang per hari. Peneliti juga menemukan hubungan khusus dengan produk yang mengandung pemanis buatan; konsumen UPF jenis ini memiliki risiko depresi 26 persen lebih tinggi.

Para peneliti menekankan bahwa studi ini tidak menyimpulkan makanan ultra-proses sebagai penyebab langsung depresi, melainkan menunjukkan adanya hubungan yang kuat di antara keduanya. Diduga, komposisi makanan ultra-proses dapat memengaruhi peradangan dalam tubuh, kesehatan mikrobioma usus, dan keseimbangan metabolik, yang semuanya berpotensi berdampak pada kesehatan mental.

Tips Mengonsumsi Makanan Secara Bijak

Meskipun demikian, bukan berarti semua makanan olahan harus dihindari sepenuhnya. Para peneliti menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan dalam pola makan.

Disarankan untuk tidak mengonsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan. Prioritaskan konsumsi makanan utuh atau whole foods, seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, dan sumber protein yang minim olahan. Pola makan yang kaya akan makanan utuh dipercaya memberikan manfaat optimal bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan, termasuk potensi peningkatan kesehatan mental.