Akses.co.id — JAKARTA, KOMPAS.com – Kebiasaan mengonsumsi makanan ringan seperti keripik kentang, yang termasuk dalam kategori makanan ultra proses, ternyata dapat secara langsung mengganggu kemampuan otak untuk fokus. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa efek negatif ini tidak hanya berdampak jangka panjang, tetapi juga mampu memengaruhi konsentrasi seseorang dalam waktu singkat, bahkan ketika pola makan secara keseluruhan tergolong sehat.
Penelitian yang melibatkan lebih dari 2.100 orang dewasa paruh baya ini dilakukan oleh tim peneliti dari Australia dan Brasil. Hasilnya mengindikasikan adanya penurunan signifikan dalam kemampuan fokus dan kecepatan pemrosesan mental setelah para peserta mengonsumsi makanan ultra proses, termasuk keripik.
Dr. Barbara Cardoso, peneliti utama dari Monash University, menekankan bahwa penurunan tersebut dapat diukur secara kuantitatif. “Kami melihat adanya penurunan yang nyata dan terukur dalam kemampuan seseorang untuk fokus,” ujar Dr. Cardoso, seperti dikutip dari The Independent (24/4/2026). Fenomena ini bahkan dilaporkan dapat terjadi hanya dalam hitungan menit setelah makanan tersebut dikonsumsi.
Salah satu temuan paling mencolok dari studi ini adalah bahwa dampak negatif pada fungsi kognitif tetap muncul meskipun individu tersebut menjalani pola makan yang sehat, seperti diet Mediterania. Ini berarti, konsumsi makanan ultra proses tetap berpengaruh terhadap kemampuan otak, meskipun hanya menyumbang sebagian kecil dari total asupan harian.
Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan tren penurunan rentang perhatian pada manusia. Sebuah studi dari Ohio State University, misalnya, pernah melaporkan bahwa rata-rata rentang perhatian orang dewasa kini hanya sekitar delapan detik. Dr. Evita Singh, seorang psikiater dari Ohio State, menjelaskan bahwa kesulitan fokus dapat disebabkan oleh berbagai faktor.
“Ada banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang sulit berkonsentrasi atau mengalami gangguan perhatian,” jelas Dr. Singh. Namun, studi terbaru ini menambahkan dimensi baru dengan menyoroti peran pola makan, khususnya konsumsi makanan ultra proses, sebagai salah satu faktor yang berkontribusi.
Kaitan dengan Risiko Demensia dan Penurunan Kognitif
Selain memengaruhi fokus, konsumsi makanan ultra proses juga dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia. Para peneliti menemukan bahwa individu yang lebih sering mengonsumsi jenis makanan ini memiliki faktor risiko yang lebih tinggi terhadap penurunan fungsi otak.
Temuan ini konsisten dengan studi yang dipublikasikan oleh Harvard Medical School pada tahun 2022, yang menunjukkan peningkatan risiko demensia hingga 25 persen pada kelompok yang mengonsumsi makanan ultra proses dalam jumlah tinggi. Studi-studi lain juga telah mengaitkan konsumsi daging olahan dan minuman manis dengan penurunan daya ingat dan kinerja kognitif secara umum.
Bukan Selalu Terlihat “Tidak Sehat”
Perlu dicatat bahwa makanan ultra proses tidak selalu tampak seperti makanan yang tidak sehat. Beberapa produk, seperti granola bar atau makanan berbasis nabati, juga termasuk dalam kategori ini. Hal ini seringkali membuat banyak orang tidak menyadari bahwa mereka mengonsumsi zat tambahan yang berpotensi memengaruhi kesehatan otak.
Dr. Cardoso menduga bahwa bahan tambahan yang terkandung dalam makanan ultra proses menjadi faktor utama yang memengaruhi fungsi kognitif. “Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara pola makan dan fungsi otak tidak hanya soal kurangnya makanan sehat, tetapi juga berkaitan dengan tingkat pemrosesan makanan itu sendiri,” tegasnya.
Oleh karena itu, temuan ini semakin memperkuat pentingnya untuk lebih memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari, terutama dalam upaya menjaga fungsi otak dan kemampuan fokus.
Ikuti Akses.co.id
