Akses.co.id — JAKARTA, KOMPAS.com – Perpustakaan mini yang tersebar di sejumlah taman kota Jakarta, yang seharusnya menjadi pusat literasi publik yang mudah diakses, kini justru menunjukkan potret yang memprihatinkan. Kondisi fisik koleksi yang tak terawat, akses yang terbatas, dan minimnya pemanfaatan oleh pengunjung menjadi pemandangan umum di fasilitas yang diharapkan dapat meningkatkan minat baca masyarakat di tengah hiruk pikuk aktivitas perkotaan.
Pengamatan Kompas.com pada Kamis (23/4/2026) di beberapa lokasi menunjukkan bahwa fungsi ideal perpustakaan mini belum tercapai. Fasilitas ini, yang dirancang menyerupai kotak menarik dengan jendela bulat, di Tebet Eco Park misalnya, ditemukan dalam kondisi terkunci. Dari balik kaca, buku-buku dan majalah tampak kusut, menguning, dan berantakan, tanpa informasi operasional atau mekanisme peminjaman yang jelas. Tidak terlihat pula petugas yang mengawasi atau merawatnya.
Situasi serupa juga menghampiri Taman Suropati, Jakarta Pusat. Perpustakaan mini di sana juga terkunci, dengan koleksi yang lebih memprihatinkan. Buku-buku robek dan majalah rusak parah menjadi pemandangan yang kontras dengan aktivitas pengunjung yang lebih fokus pada rekreasi dan olahraga.
Kondisi Koleksi yang Memprihatinkan
Di Taman Menteng, Jakarta Pusat, meski taman ramai aktivitas warga, perpustakaan mini tidak menjadi magnet perhatian. Pengunjung lebih memilih memanfaatkan taman sebagai ruang rekreasi dan bersosialisasi, sementara perpustakaan mini seolah hadir tanpa fungsi yang signifikan.
Dari tinjauan di ketiga lokasi tersebut, jelas terlihat bahwa perpustakaan mini belum menjalankan fungsinya secara maksimal. Selain kondisi fisik koleksi yang memburuk, akses yang terkunci menjadi hambatan utama. Koleksi buku yang tersedia pun tampak usang dan tidak relevan, bahkan ada yang rusak akibat usia dan paparan cuaca.
Pandangan Pengunjung yang Kecewa
Sejumlah pengunjung mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap kondisi perpustakaan mini tersebut.
“Waktu saya lihat, saya sempat tertarik karena bentuknya lucu dan posisinya strategis. Tapi pas didekati ternyata dikunci, jadi agak kecewa,” ujar Annes (28), karyawan swasta yang berkunjung ke Tebet Eco Park.
Annes menilai, jika konsepnya ditujukan untuk publik, akses seharusnya dibuka agar pengunjung dapat membaca di tempat. Ia juga menyoroti kondisi buku yang kusut, menduga hal itu akibat kurangnya perawatan atau minimnya fasilitas dibuka. “Kalau terus dikunci, orang jadi tidak merasa itu fasilitas yang bisa digunakan. Lama-lama malah dilupakan,” tambahnya.
Rianti (21), seorang mahasiswa yang mengunjungi Taman Suropati, juga merasakan hal serupa. Ia tertarik dengan konsep perpustakaan mini sebagai tempat membaca gratis, namun keterbatasan akses menjadi kendala utama. “Tadi saya sempat coba buka, tapi ternyata tidak bisa. Dari situ saja sudah kelihatan kalau aksesnya terbatas,” tuturnya.
Rianti menambahkan bahwa kondisi buku yang rusak dari luar dapat menurunkan minat baca. Ia menyarankan agar ada pengecekan rutin, mungkin seminggu atau dua minggu sekali, untuk menjaga koleksi.
Sementara itu, Rida (34), seorang ibu rumah tangga di Taman Menteng, merasa perpustakaan mini belum menarik perhatian anak-anak. “Anak saya belum pernah tertarik mendekat. Mungkin karena bukunya tidak menarik atau tidak mudah diambil,” katanya.
Isa (40), pengunjung Taman Suropati, menilai konsep perpustakaan mini menarik, namun implementasinya belum optimal. “Jadinya lebih seperti pelengkap saja,” ujarnya. Ia berpendapat bahwa kurangnya pengelolaan dan pengawasan menjadi penyebab utama risiko kerusakan dan kehilangan buku.
Pengelola Akui Keterbatasan Pengelolaan
Seorang petugas di Taman Suropati yang enggan disebutkan namanya mengakui bahwa perpustakaan mini tidak selalu dibuka untuk umum. “Iya, sekarang memang sering dikunci. Tidak selalu dibuka setiap hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa buku-buku sering hilang atau rusak, sehingga untuk menjaga koleksi, fasilitas tersebut dikunci. Tidak ada petugas khusus yang ditugaskan mengelola perpustakaan mini, dan pengawasan terbatas dilakukan oleh petugas taman. Perawatan koleksi pun tidak dilakukan secara rutin.
Berbeda dengan pengelola Tebet Eco Park, Kamil, yang menyatakan bahwa perpustakaan mini di lokasinya masih aktif digunakan meski cenderung sepi. “Masih aktif digunakan pengunjung tapi cenderung sepi,” kata Kamil saat dihubungi.
Kamil mengklaim bahwa pemantauan koleksi buku dilakukan setiap hari oleh petugas taman, termasuk pembersihan rutin untuk menjaga kondisi buku. “Kalau ada buku yang berdebu, kita bersihkan kembali,” ujarnya.
Namun, Kamil mengakui tantangan terbesar adalah membangun kebiasaan membaca di kalangan masyarakat. “Tantangan terbesar mungkin kita harus mengedukasikan masyarakat untuk gemar membaca, agar mereka tertarik untuk selalu membaca,” ucapnya.
Untuk meningkatkan daya tarik, pengelola mempertimbangkan inovasi seperti konsep perpustakaan mini yang lebih modern dan interaktif, bahkan perpustakaan digital.
Upaya Pemerintah: Literasi Berbasis Kolaborasi
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, menyatakan dukungan terhadap pengembangan perpustakaan mini di taman kota. Penyediaan fasilitas dilakukan bertahap dan berkelanjutan, dengan menyesuaikan koleksi buku berdasarkan segmentasi pengunjung.
Dispusip juga menghadirkan pojok baca digital sebagai upaya memperluas akses literasi. Nasruddin menekankan bahwa perpustakaan mini berfungsi sebagai ruang kolaborasi, dengan beberapa taman yang telah menjalin kerja sama dengan BUMD dan komunitas literasi.
“Pada intinya, kami ingin melengkapi taman selain sebagai ruang hijau, juga ruang belajar bersama,” ujar dia saat dihubungi.
Kompas.com telah berupaya menghubungi pihak Bookhive, penyedia awal lemari perpustakaan mini di sejumlah taman kota Jakarta, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan.
Ikuti Akses.co.id
