Akses.co.id — CIANJUR, KOMPAS.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Kamis (23/4/2026) memicu terjadinya tanah longsor. Peristiwa ini mengakibatkan dua rumah rusak dan memutus akses jalan di dua titik, termasuk jalur menuju Situs Gunung Padang.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur, Asep Sudrajat, menjelaskan bahwa material longsor sempat menutup badan jalan provinsi di Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber. Akibatnya, aktivitas lalu lintas kendaraan terhenti.
“Termasuk akses menuju Situs Gunung Padang, kondisi badan jalan sempat tertutup material longsor,” ujar Asep kepada Kompas.com di kantornya, Kamis petang.
Petugas BPBD bersama tim gabungan dilaporkan telah diterjunkan ke lokasi kejadian untuk melakukan penanganan. Alat berat dikerahkan untuk membersihkan material longsor yang menutupi jalan. Berdasarkan laporan terkini, akses jalan tersebut kini sudah dapat dilalui kembali.
“Berdasarkan laporan terkini, kondisi jalan sudah dapat dilalui. Namun, pengendara dan pengguna jalan tetap diimbau berhati-hati karena permukaan jalan masih licin,” kata Asep.
Penyebab Longsor dan Imbauan Kewaspadaan
Asep Sudrajat mengemukakan, tingginya intensitas hujan yang berlangsung lama menjadi salah satu faktor utama pemicu tanah longsor di wilayah tersebut. Namun, ia juga menyoroti peran alih fungsi lahan yang turut memperparah kondisi.
“Akibatnya tanah menjadi jenuh, tidak mampu menahan tekanan air, dan memiliki daya serat yang rendah,” jelas Asep.
Saat ini, Kabupaten Cianjur tengah memasuki periode musim kemarau basah. Kondisi ini ditandai dengan potensi hujan lebat yang masih bisa terjadi secara tiba-tiba, meski sedang tidak musim hujan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
“Cuaca bisa panas sepanjang hari, lalu mendadak turun hujan lebat. Kondisi ini sangat rentan memicu bencana, terutama tanah longsor,” ucapnya.
Lebih lanjut, Asep menambahkan bahwa Kabupaten Cianjur masih berstatus siaga bencana hidrometeorologi hingga Mei 2026. Status ini ditetapkan sebagai langkah antisipasi terhadap fase ekstrem cuaca dan potensi ancaman bencana yang meliputi banjir, tanah longsor, pergeseran tanah, angin puting beliung, serta pohon tumbang.
Untuk meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian material, BPBD Cianjur terus berupaya melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya yang berada di zona merah bencana. Keterlibatan relawan atau retana di setiap desa juga menjadi fokus untuk memastikan kesiapan warga.
“Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat juga terus dilakukan, terutama bagi warga yang tinggal di zona merah. Seluruh relawan atau retana di setiap desa juga kami libatkan untuk memastikan masyarakat lebih siap menghadapi potensi bencana,” tuturnya.
Asep mengimbau masyarakat untuk proaktif melakukan mitigasi bencana serta lebih peka terhadap tanda-tanda alam. “Misalnya, jika terjadi hujan lebat yang berlangsung terus-menerus dalam waktu lama, masyarakat diharapkan segera bersiap melakukan evakuasi mandiri,” pungkasnya.
Ikuti Akses.co.id
