— Kabar rencana tur pramusim AC Milan ke Indonesia pada Agustus 2026 membangkitkan memori mendalam bagi legenda Persebaya, Ibnu Grahan. Pengalaman menghadapi klub raksasa Italia itu di lapangan pada tahun 1994 menjadi kenangan yang tak terlupakan baginya.

“Pas dengar berita tentang pramusim AC Milan ke Indonesia lawan Chelsea saya langsung tak nontok rek, jersey AC Milan ku ta gawe,” ujar Ibnu Grahan kepada Kompas.com, mengungkapkan antusiasmenya.

Bagi pelatih asal Surabaya itu, momen ini lebih dari sekadar nostalgia. Ini adalah kesempatan untuk menyaksikan kembali perkembangan sepak bola Eropa yang terus berubah, seolah membawanya kembali ke atmosfer pertandingan besar yang pernah ia rasakan.

Kenangan 1994: Surabaya Selection Menantang AC Milan

Perhelatan akbar pada tahun 1994 itu mempertemukan tim Surabaya Selection dengan AC Milan di Stadion Gelora 10 November. Rossoneri datang ke Kota Pahlawan dengan reputasi sebagai salah satu tim terbaik dunia.

“Ketika itu untuk Surabaya Selection ada seleksi dulu diikuti Assyabaab Salim Group, Persebaya dan Mitra Surabaya. Akhirnya dikerucutkan dan saya masuk dalam susunan pemain,” kenang Ibnu Grahan.

Ia mengingat betul nasihat pelatih kala itu, Pak Rusdy Bahalwan, yang menyarankan agar pemain Surabaya bermain pendek dan cepat menghadapi pemain Eropa yang dianggap lambat. Namun, kenyataannya justru berbeda.

“Pak Rusdy Bahalwan bilang ‘pemain Eropa itu tinggi-tinggi pasti lambat-lambat kamu harus main pendek dan cepat’ tapi ternyata meskipun tinggi yo cepet-cepet,” ujarnya sambil tertawa mengingat pertandingan yang berakhir dengan skor 1-4 untuk keunggulan AC Milan.

Deretan bintang AC Milan yang tengah bersinar kala itu, seperti Gianluigi Lentini dan Dejan Savicevic, serta kepiawaian Fabio Capello di kursi kepelatihan, turut memeriahkan atmosfer pertandingan.

Meskipun tidak semua pemain inti AC Milan hadir, kualitas permainan mereka tetap terasa. Nama-nama seperti Dejan Savicevic, Sebastiano Rossi, dan Marcel Desailly menunjukkan performa kelas dunia.

Momen paling membanggakan bagi Ibnu Grahan adalah ketika ia berhasil mencetak satu-satunya gol untuk Surabaya Selection melalui tendangan penalti.

“Nah ketika mendapat penalti itu tidak ada yang berani nendang, ya sudah saya ambil saja. Harusnyanya Heri Kiswanto dan Jessie Mustamu tapi keduanya tidak siap. Terus nunjuk ‘Ibnu ae-Ibnu ae’ ya sudah saya, pokoknya nendang masuk dan dapat bonus,” tuturnya.

Jersey, Pelajaran Profesionalisme di Luar Lapangan

Pengalaman menghadapi AC Milan tidak hanya meninggalkan jejak di lapangan, tetapi juga di luar lapangan. Salah satu momen yang paling berkesan adalah usahanya mendapatkan jersey Fernando De Napoli.

“Setelah itu saya tukar jersey masih saya simpan sampai sekarang, setelah pertandingan itu saya sering nonton pertandingan AC Milan meskipun tidak rutin tapi saya selalu ingin tahu perkembangan AC Milan,” ujar pelatih berlisensi A AFC itu.

Pertandingan tersebut membuka pandangannya terhadap standar profesionalisme sepak bola Eropa. Ia melihat bagaimana klub sekelas AC Milan menerapkan metode pemulihan pemain yang belum umum di Indonesia kala itu.

“Dulu kita belum ngerti namanya hydrogen gymnastic lalu recovery pakai es batu yang namanya ice bath. Sebenarnya pada tahun 1990an ada yang memberitahu tapi tidak dilaksanakan dan di Indonesia sendiri tidak fokus di situ,” jelas Ibnu Grahan.

Ia menceritakan bagaimana pemain AC Milan langsung kembali ke hotel untuk melakukan pemulihan menggunakan kolam renang dan ice bath setelah pertandingan. Dejan Savicevic, yang mencetak tiga gol, bahkan langsung kembali ke hotel tanpa menunggu acara selesai.

“Dejan itu setelah cetak 3 gol langsung balik ke hotel tidak menunggu sampai bubar. Saya tanyakan ke panitia terus saya tanya ngapain setelah di hotel terus dikasih tau setelah sampai hotel dia langsung melakukan recovery di kolam renang dan icebath,” ungkap mantan pelatih Bhayangkara FC itu.

Perhatian terhadap detail juga terlihat dari standar bola pertandingan. Pemain AC Milan merasa bola kurang keras dengan tekanan yang mereka inginkan, sesuatu yang belum menjadi perhatian di Indonesia.

“Menurut mereka merasa kurang keras, pompanya antara ukuran 7-10, kan bagi kita biasanya di ukuran 7-8 itu sudah keras. Nah buat mereka itu kurang keras padahal bagi kita itu sudah keras karena kurang biasa ya mereka,” tambahnya.

Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bekal berharga bagi Ibnu Grahan dalam perjalanan kariernya sebagai pelatih.

Terus Belajar Mengikuti Dinamika Sepak Bola Modern

Hingga kini, Ibnu Grahan tetap menjaga semangatnya dalam dunia sepak bola. Ia rutin menyaksikan berbagai pertandingan, baik di level nasional maupun internasional, demi mengikuti perkembangan taktik dan kualitas permainan.

“Penting sekali dalam arti biar tidak ketinggalan, anggap saja ini pelatih desa yang sudah umur masih ingin maju dan ingin belajar, sepak bola ini dinamis,” kata salah satu legenda sepak bola Surabaya itu.

Kebiasaan menonton pertandingan ini tidak hanya menjadi hobi, tetapi juga sarana untuk memperkaya wawasan yang kemudian dibagikan kepada para pemain muda di akademi yang dibinanya.

“Biar pengetahuan dan pengalaman kita terasah, kita juga jadi tahu perkembangan level sepak bola kita,” pungkas Ibnu Grahan.