— Ujian Tertulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026 tidak hanya diikuti oleh ribuan calon mahasiswa tanpa disabilitas, tetapi juga oleh mereka yang berjuang melawan keterbatasan fisik. Sejumlah peserta penyandang disabilitas menunjukkan determinasi tinggi untuk meraih pendidikan tinggi di perguruan negeri, membuktikan bahwa hambatan bukanlah halangan untuk menggapai cita.

UTBK SNBT 2026 yang berlangsung hingga 30 April 2026 ini mencatat kisah-kisah inspiratif dari para peserta penyandang disabilitas. Keterbatasan fisik dan sensorik tak lantas menyurutkan semangat mereka untuk menempuh pendidikan tinggi.

Kisah Inspiratif Peserta

Salah satu kisah datang dari Muhammad Pasha Fawwazdian, seorang penyandang tunarungu dari SMAN 16 Surabaya. Ia mempersiapkan diri secara maksimal untuk mengikuti UTBK di Universitas Airlangga (Unair).

“Soalnya ada yang sulit dan ada juga yang mudah, tapi insyaallah bisa saya kerjakan,” ujar Pasha, mengutip laman resmi Unair pada Sabtu (25/10/2026). Menurutnya, soal UTBK kali ini cukup beragam, namun tetap dapat dikerjakan dengan baik.

Pasha memilih Program Studi Psikologi Unair karena ketertarikannya untuk membantu orang lain, khususnya dalam konseling. Ia bercita-cita menjadi psikiater di masa depan. Dukungan keluarga dan teman menjadi kekuatan besar baginya. Ia berpesan agar keterbatasan dijadikan kekuatan untuk menemukan kemampuan diri yang sebenarnya.

“Pesan saya, disabilitas bukanlah halangan. Jadikan disabilitas sebagai kekuatan dan kelebihan tersendiri. Saya banyak mengalami pembullyan verbal, tapi itu justru membuat saya semakin kuat,” jelas Pasha. Ia menambahkan bahwa pengalaman dirundung justru membuatnya berkembang menjadi sosok yang lebih baik.

Di Unair, tercatat ada 22 peserta penyandang disabilitas yang mengikuti UTBK pada Selasa (21/4/2026), mulai dari tunadaksa hingga tunarungu.

Kisah lain datang dari Rahma Rahayu, seorang peserta UTBK 2026 penyandang cerebral palsy yang ingin masuk ke Institute Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Ia didampingi ibundanya, Diah Komala (50), mengikuti ujian.

Rahma bercita-cita masuk jurusan Sosiologi di Universitas Padjadjaran (Unpad). Ketertarikannya pada kehidupan sosial tumbuh dari pengalaman pribadinya sebagai penyandang disabilitas. “Saya suka berinteraksi dengan masyarakat,” ujar Rahma singkat.

Sang ibu menuturkan bahwa Rahma ingin berperan lebih jauh, bukan hanya sebagai individu yang bertahan, tetapi juga sebagai suara bagi sesama penyandang disabilitas. “Dia ingin memajukan sesama disabilitas untuk mencapai harkatnya mengejar cita-citanya, prestasi gitu. Jadi, dia pengen advokasi juga,” kata Diah.

Rahma telah mempersiapkan diri berbulan-bulan untuk menghadapi UTBK 2026. “Yakin banget, berbulan-bulan (belajar) sudah siap,” katanya tersenyum optimistis.

Bagi Rahma, UTBK 2026 bukan satu-satunya jalan. Ia juga dikenal sebagai penulis sajak dan puisi. “Kalaupun tidak bisa diterima di pendidikan negeri, dia bisa kembangkan bakatnya,” pungkas Diah. Rahma sempat melewatkan kesempatan setelah lulus dua tahun lalu karena keterbatasan informasi, namun kini ia kembali mencoba meraih mimpinya.

Fasilitas Kampus untuk Peserta Disabilitas

Sejumlah perguruan tinggi telah menyediakan fasilitas penunjang bagi peserta disabilitas yang mengikuti UTBK SNBT 2026. Hal ini bertujuan untuk memastikan kenyamanan dan kelancaran mereka dalam mengerjakan ujian.

Fasilitas di Beberapa Perguruan Tinggi:

  • Universitas Gadjah Mada (UGM): Memfasilitasi peserta disabilitas tuli dan fisik. Peserta disabilitas netra dipusatkan di Universitas Negeri Yogyakarta. UGM menyediakan penerjemah bagi peserta tunarungu.
  • Universitas Padjadjaran (Unpad): Menyediakan juru bahasa isyarat (JBI) bagi peserta Tuli dan fasilitas ramah disabilitas (barrier-fee). Unpad juga memberikan tempat khusus bagi peserta yang mengalami cedera akibat kecelakaan.
  • Universitas Brawijaya (UB): Menyediakan akses ruang ujian yang ramah disabilitas dan pendamping khusus. Koordinator Pelaksana UTBK UB, Arif Hidayat, menekankan pentingnya pengawas memahami karakteristik peserta disabilitas.
  • Universitas Diponegoro (Undip): Menempatkan 6 peserta disabilitas (3 tunadaksa, 3 tunarungu) di lokasi strategis, seperti Fakultas Hukum yang memiliki infrastruktur lift dan area duduk yang dapat disesuaikan.
  • Universitas Jember (Unej): Menyiapkan berbagai fasilitas penunjang untuk kenyamanan peserta difabel.
  • Universitas Negeri Surabaya (Unesa): Menyiapkan ruang khusus dan pendamping. Infrastruktur teknis seperti jaringan dan perangkat audio telah disiapkan untuk pengerjaan soal mandiri melalui perintah suara.
  • Universitas Hasanuddin (Unhas): Memastikan fasilitas komputer yang digunakan peserta difabel dirancang sesuai kebutuhan mereka, tanpa pendamping khusus.