LIMAPULUH KOTA, Kompas.com — Di sebuah warung kopi di Nagari Maek, Ajisman (59), seorang petani gambir, menyenandungkan bait lagu ciptaannya sendiri. Suaranya ringan, namun liriknya menggambarkan keluh kesah panjang tentang kondisi jalan menuju kampung halamannya di Jorong Nenan, Limapuluh Kota, Sumatera Barat.
Ajisman, yang tidak berprofesi sebagai musisi, menciptakan lagu-lagu berdasarkan pengalaman hidupnya sehari-hari di sela aktivitas bertani. Salah satu lagunya, “Bukik Kosan”, belakangan menjadi viral di media sosial setelah diunggah melalui akun Facebook pribadinya. Lagu berbahasa Minang itu menyampaikan pesan tentang harapan yang tak kunjung terwujud.
“Lah mati kami dek harok, jalan ka Nenan kok lai ka elok…” (Sudah mati kami karena berharap, Jalan ke Nenan kalau akan memang bagus), demikian salah satu penggalan liriknya. Ajisman kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026), mengungkapkan rasa frustrasinya. “Sudah sekian lama kita merdeka, tapi jalan ke kampung kami belum pernah bagus,” katanya.
Jalan yang Tak Kunjung Berubah
Bagi Ajisman, jalan menuju Jorong Nenan bukan sekadar akses transportasi, melainkan cerminan perjalanan hidup yang minim perubahan. “Dari lahir saya di Nenan. Sampai sekarang, jalan itu-itu saja bentuknya,” ujarnya.
Jalur sepanjang sekitar 13 kilometer dari pusat Nagari Maek menuju Nenan ini merupakan akses tanah berbatu yang berkelok-kelok, dihiasi tanjakan dan turunan curam. Beberapa bagian jalan bahkan berupa batu besar yang miring dengan lapisan tanah tipis di atasnya. Kondisi ini sangat menyulitkan dilewati, terutama saat musim hujan.
Dokumentasi yang ada menunjukkan betapa sulitnya kendaraan kehilangan traksi di tanjakan, sementara aliran air yang membentuk alur di tengah jalan membuat permukaannya tidak rata. Turunan tajam memerlukan kinerja rem yang optimal.
Empat titik pendakian yang dikenal paling berat, yakni Kulik Manih, Sago, Titian Panjang, dan Puncak Cubadak, kerap membuat kendaraan tergelincir. “Motor sering jatuh di situ. Kalau hujan, makin parah,” ungkap Ajisman.
Lagu Sebagai Media Aspirasi
Alih-alih menyampaikan keluhannya melalui jalur birokrasi, Ajisman memilih media yang paling ia kuasai sejak kecil: lagu. “Dari kecil saya memang suka berdendang, bikin lagu,” tuturnya.
Baginya, lagu adalah cara paling sederhana untuk menyampaikan pesan tanpa memerlukan panggung besar. Cukup direkam dengan ponsel dan dibagikan. “Lewat lagu kita sampaikan saja,” katanya.
Dalam lirik “Bukik Kosan”, Ajisman menyematkan pesan kepada pemerintah, bahkan menyebut “apak wali” dan “pak bupati” sebagai tujuan harapannya. Meskipun demikian, nadanya tetap ringan dan nyaris seperti candaan, meski maknanya serius. “Karena ulah janji ke janji, sampai kini belum terjadi,” demikian salah satu bait lagu tersebut.
Ajisman mengaku telah menciptakan puluhan lagu dengan tema serupa. “Kalau terlintas di kepala, saya tulis sedikit, lalu saya dendangkan,” jelasnya.
Jalan dan Perut yang Saling Berkaitan
Bagi warga Nenan, kondisi jalan sangat memengaruhi kehidupan ekonomi mereka. Mayoritas penduduk menggantungkan hidup pada komoditas gambir yang harus dijual ke luar kampung. “Kalau jalan tidak bagus, susah kami. Ekonomi kami di jalan itu,” kata Ajisman.
Ia menambahkan, saat hujan, kendaraan pengangkut gambir seringkali tidak dapat melintas tanpa bantuan. “Mobil kadang harus didorong bersama,” ujarnya.
Harga gambir yang rendah semakin memperparah keadaan. Ajisman menjual gambir basah seharga sekitar Rp 25.000 per kilogram kepada pengepul. “Seminggu paling dapat Rp 400.000. Itu sudah banyak,” katanya, menjelaskan bahwa angka tersebut belum mencukupi kebutuhan pokok seperti beras dan cabai.
Jika akses jalan lebih baik, hasil gambir dapat dijual ke pusat Nagari Maek dengan harga lebih tinggi, sekitar Rp 45.000 per kilogram. “Kalau jalan bagus, kami bisa lebih untung. Sekarang ongkos jalan saja sudah besar,” keluhnya.
Antara Harapan dan Canda
Meskipun menghadapi kesulitan, Ajisman kerap menyisipkan humor dalam percakapannya. Saat ditanya mengenai kemungkinan pembangunan jalan tol ke Nenan, ia tertawa terbahak-bahak. “Rancak bana,” ujarnya sambil tertawa.
Bahkan di warung kopi tempat ia diwawancarai, ia sempat berseloroh mengenai pesanan minumannya. “Ini entah dibikinkan pula entah tidak,” kelakarnya sembari tertawa kecil.
Namun, di balik candaannya, tersimpan harapan yang terus ia utarakan, baik dalam percakapan maupun dalam lagu-lagunya.
Respons Pemerintah
Bupati Limapuluh Kota, Safni, mengakui bahwa jalan menuju Nenan memang memerlukan perhatian, terutama di beberapa titik terjal. “Kurang lebih ada empat titik pendakian yang parah, sepanjang sekitar 4,5 kilometer,” kata Safni.
Ia menyebutkan bahwa perbaikan untuk titik-titik tersebut telah dianggarkan pada tahun ini. “Insyaallah tahun ini mulai dikerjakan. Empat titik itu akan kita cor,” ujarnya. Pengerjaan direncanakan dimulai setelah realisasi dana transfer ke daerah kembali berjalan, yang diproyeksikan pada Mei 2026.
Pemerintah daerah juga telah mengirim alat untuk membuat saluran air guna mencegah genangan air melimpah ke badan jalan saat hujan.
Dendang yang Terus Berlanjut
Bagi Ajisman, kabar rencana perbaikan jalan tersebut masih ia dengar dari cerita. Ia belum melihat langsung pekerjaan di lapangan. “Katanya alat sudah datang, tapi saya belum lihat juga,” ujarnya.
Ia tidak terlalu mempermasalahkan kapan realisasi perbaikan itu akan terjadi. Seperti kebiasaannya, Ajisman memilih untuk merespons dengan cara yang ia pahami. “Mungkin saya bikin lagu satu lagi,” katanya sambil tersenyum.






