— PT Phapros Tbk (PEHA) berhasil membukukan kenaikan laba bersih pada kuartal I 2026 sebesar Rp 761,49 juta. Angka ini melonjak 112,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih merugi Rp 5,92 miliar. Kinerja positif ini ditopang oleh pertumbuhan penjualan dan efisiensi biaya di tengah tantangan global.

Kinerja keuangan Phapros pada awal tahun ini melanjutkan tren pemulihan yang telah dimulai sejak 2025. Perusahaan farmasi ini berhasil membalikkan kondisi keuangan dari rugi menjadi profit sepanjang tahun lalu.

“Berbagai langkah strategis tersebut berhasil menjaga profitabilitas berkelanjutan,” ujar Plt Direktur Utama PT Phapros Tbk Ida Rahmi Kurniasih, melalui keterangan pers, Jumat (24/4/2026).

“Setelah berhasil membalikkan kondisi dari rugi pada 2024 menjadi profit pada 2025, kami terus berupaya untuk menjaga profitabilitas perusahaan,” lanjutnya.

Pendapatan Melesat, Beban Terkendali

Pada tiga bulan pertama 2026, kenaikan laba bersih Phapros didukung oleh peningkatan penjualan sebesar 10,17 persen, mencapai Rp 221,09 miliar dari sebelumnya Rp 200,67 miliar pada kuartal I 2025. Sementara itu, beban pokok penjualan hanya tumbuh 5,04 persen, lebih rendah dari laju pertumbuhan penjualan.

Kondisi ini membuat laba kotor meningkat 16,59 persen menjadi Rp 103,96 miliar, dibandingkan Rp 89,17 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, beban usaha pada Januari hingga Maret 2026 juga relatif terkendali dengan kenaikan 7,35 persen secara tahunan.

Ida menjelaskan, perusahaan terus mengoptimalkan seluruh kanal penjualan dan menjaga ketersediaan produk, sembari melakukan efisiensi biaya.

“Menyikapi dampak geopolitik yang menyebabkan kenaikan harga bahan dan biaya, kami sudah melakukan mitigasi risiko dengan kontrak pembelian sejak awal tahun dan terus memantau perkembangan agar tetap adaptif,” ujarnya.

“Tujuannya agar target penjualan, biaya dan laba bersih hingga akhir tahun sesuai RKAP bisa diamankan,” tambah dia.

Selain itu, Phapros juga mencatat perbaikan signifikan pada arus kas. Per 31 Maret 2026, arus kas tercatat positif Rp 37,2 miliar, berbalik dari posisi minus Rp 19,6 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Saldo kas akhir periode juga dilaporkan meningkat 165 persen dibandingkan akhir Maret 2025.

Obat Generik Bermerek Jadi Penopang Utama

Pertumbuhan penjualan Phapros pada kuartal I 2026 salah satunya ditopang oleh segmen obat generik bermerek (OGB). Penjualan OGB melonjak 59 persen menjadi Rp 128,70 miliar, dari Rp 80,88 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kontribusi signifikan ini berasal dari produk seperti obat anti tuberkulosis untuk dewasa dan anak, serta tablet tambah darah. Produk-produk ini merupakan bagian dari program pemerintah dalam penanganan tuberkulosis, anemia, dan stunting.

Sejarah Panjang Industri Farmasi Nasional

PT Phapros Tbk memiliki sejarah panjang dalam industri kesehatan di Indonesia, berdiri sejak 21 Juni 1954. Mayoritas saham perusahaan sebesar 56,77 persen dimiliki oleh PT Kimia Farma Tbk, sementara sisanya dipegang oleh publik.

Perusahaan ini telah mengantongi berbagai sertifikasi, mulai dari Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) sejak 1990, hingga sejumlah sertifikasi ISO dan sistem jaminan halal. Saat ini, Phapros memproduksi lebih dari 200 item obat, termasuk produk unggulan seperti Antimo yang memimpin pasar di kategorinya.