Akses.co.id — BOGOR – Menteri Sosial Saifullah Yusuf mendorong perubahan fundamental dalam metode pengajaran di Sekolah Rakyat, menekankan pentingnya pemahaman dan kemampuan analisis siswa ketimbang hafalan. Penegasan ini disampaikan saat membuka Pelatihan Manajemen untuk guru dan kepala Sekolah Rakyat di Cibinong, Kabupaten Bogor, yang berlangsung selama sepekan, mulai 21 hingga 26 April 2026.
Kegiatan yang dihadiri 332 peserta, terdiri dari 166 kepala sekolah dan guru Sekolah Rakyat dari berbagai penjuru Indonesia, ini menjadi ajang penting untuk menyelaraskan visi pendidikan. Saifullah, yang akrab disapa Gus Ipul, menggarisbawahi bahwa setiap siswa memiliki potensi unik yang harus digali dan dikembangkan sesuai kebutuhan individu.
“Setiap orang punya kemampuan sesuai ciptaan Tuhan, harus berbasis kemampuan dan kebutuhan individu, maka kita ada tes DNA Talent. Ajarkan pemahaman bukan hafalan, ajarkan menganalisis dan berpikir sendiri,” ujar Saifullah dalam keterangannya pada Kamis malam (23/4/2026).
Perencanaan sebagai Fondasi Keberhasilan
Lebih lanjut, Menteri Sosial menekankan bahwa keberhasilan pembelajaran sangat bergantung pada kualitas perencanaan. Ia memperkirakan sekitar 50 persen kesuksesan sebuah program pendidikan ditentukan oleh perencanaan yang matang.
Oleh karena itu, Sekolah Rakyat diminta untuk menyusun berbagai dokumen perencanaan strategis, meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran, kurikulum satuan pendidikan, rencana kerja tahunan, rencana kegiatan dan anggaran sekolah, serta instrumen evaluasi yang terukur dan jelas.
Gus Ipul juga mengingatkan para peserta akan krusialnya pengelolaan anggaran yang tidak hanya akuntabel, tetapi juga transparan. “Ingat, setiap uang yang dikeluarkan harus bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Peran Kepala Sekolah dan Guru
Dalam konteks ini, peran kepala sekolah sangat sentral. Ia diharapkan mampu memimpin proses belajar mengajar selama 24 jam penuh, mencakup kegiatan di kelas, asrama, hingga pembentukan karakter siswa.
Sementara itu, guru memiliki tugas utama dalam membentuk pola pikir positif siswa. Peran pendampingan dalam pembiasaan perilaku sehari-hari diserahkan kepada wali asuh.
Kebijakan Berbasis Data dan Integrasi Digital
Menteri Sosial juga mendorong agar seluruh kebijakan di Sekolah Rakyat didasarkan pada data yang valid. Data tersebut meliputi hasil asesmen siswa, tes DNA Talent, evaluasi pembelajaran, hingga pemeriksaan kesehatan.
Selain itu, ia menyarankan adanya integrasi antara literasi dan kesadaran digital dalam bahan ajar serta media interaktif untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik bagi siswa.
Namun, penggunaan perangkat digital perlu pengawasan ketat. “Saya ingatkan tegas, laptop jangan dibawa keluar kelas, harus ditinggal di kelas tidak boleh dibawa ke asrama dan pastikan internetnya sudah dikunci,” pungkasnya, menegaskan pentingnya disiplin dalam pemanfaatan teknologi.
Ikuti Akses.co.id
