Lifestyle

Kuat Bukan Berarti Harus Sendiri, Refleksi Perempuan Tangguh Masa Kini

Advertisement

Kini, banyak perempuan Indonesia yang dituntut untuk mahir dalam berbagai peran sekaligus, mulai dari mengurus rumah tangga hingga mengejar karier dan pendidikan tinggi. Namun, di tengah dinamika tersebut, kerap muncul pertanyaan mendasar: apakah menjadi tangguh berarti harus selalu menghadapi segala persoalan seorang diri?

Pengalaman Alfina Rahmatia, seorang perempuan berusia 30 tahun yang sedang menempuh studi doktoral di Turki, menawarkan perspektif yang berbeda. Ia menemukan bahwa ketangguhan sejati tidak selalu identik dengan kesendirian, melainkan sebuah keseimbangan yang kompleks.

Alfina kini tengah menjalani peran ganda sebagai ibu, mahasiswa doktoral, peneliti, sekaligus aktif dalam berbagai organisasi. Capaian ini tidak lepas dari pola asuh yang menanamkan nilai kemandirian sejak dini.

Mandiri Sejak Dini, Bekal Menghadapi Dunia

Sejak kecil, Alfina terbiasa diberi ruang untuk mengambil keputusan sendiri. Orang tuanya tidak hanya memberikan kebebasan, tetapi juga menanamkan tanggung jawab atas setiap pilihan yang diambilnya.

Salah satu momen paling membentuk dalam hidupnya adalah ketika ia harus melanjutkan pendidikan ke jenjang pesantren di luar pulau setelah lulus sekolah dasar. Jauh dari keluarga, ia dipaksa untuk belajar mengurus segala kebutuhannya sendiri dan menghadapi berbagai tantangan tanpa bergantung pada bantuan orang tua.

“Di sana saya belajar mandiri. Kepribadian saya banyak terbentuk sejak masa itu,” ujar Alfina saat dihubungi Kompas.com baru-baru ini. Kemandirian yang tertanam sejak dini ini kemudian menjadi fondasi penting dalam setiap fase kehidupannya, termasuk saat ia memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Ketika Kemandirian Menjadi Beban

Namun, di balik kekuatan yang ia miliki, Alfina menyadari ada sisi lain dari kemandirian yang sempat terabaikan. Kebiasaan untuk menyelesaikan segala sesuatu sendiri membuatnya merasa harus mampu menghadapi setiap masalah tanpa bantuan.

Ketika menghadapi masa-masa sulit, ia cenderung memendam perasaannya dan enggan membuka diri, bahkan kepada orang tuanya sendiri. “Tiap orang pasti punya momen jatuh. Waktu itu, saya merasa semua bisa dilakukan sendiri,” ungkapnya.

Kondisi ini justru membuat beban yang dipikulnya terasa semakin berat. Hingga akhirnya, ia mendapat masukan untuk mulai membuka diri dan tidak menanggung semuanya sendirian. Dari pengalaman tersebut, Alfina mulai memahami bahwa ketangguhan bukanlah tentang menutup diri dari bantuan orang lain.

Belajar Menjadi Anak, Membangun Hubungan Dua Arah

Pengalaman ini menjadi titik balik penting dalam cara pandang Alfina. Ia menyadari bahwa hubungan antara anak dan orang tua bukanlah hubungan satu arah.

Advertisement

Jika selama ini ia melihat orang tuanya sebagai pihak yang terus belajar membesarkan dirinya, kini ia memahami bahwa dirinya juga perlu belajar menjadi anak. Ini termasuk belajar untuk bersikap terbuka dan menaruh kepercayaan kepada orang tuanya.

“Saya belajar bahwa bukan hanya orangtua yang belajar menjadi orangtua, tapi saya juga belajar menjadi anak,” katanya. Kesadaran ini membantunya menemukan keseimbangan yang lebih baik antara menjaga kemandirian dan bersikap terbuka.

Kuat Bukan Berarti Harus Sendirian

Dalam menghadapi tekanan maupun kegagalan, nilai-nilai yang ditanamkan orang tuanya tetap menjadi pegangan kuat. Salah satu nasihat yang selalu ia ingat adalah pentingnya melibatkan Tuhan dalam setiap proses kehidupan.

“Sholat, mengaji, berdzikir, dan bersyukur. Itu yang selalu diingatkan,” tuturnya. Nilai-nilai spiritual tersebut membantunya menemukan ketenangan batin, sekaligus mengingatkannya bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendiri.

Kini, sebagai perempuan yang menjalani berbagai peran, Alfina memandang ketangguhan dari sudut pandang yang lebih utuh. Baginya, menjadi kuat bukan berarti menutup diri, melainkan memahami kapan saatnya untuk berdiri sendiri dan kapan perlu bersandar pada orang lain.

Refleksi Perempuan Masa Kini: Kekuatan dalam Dukungan

Pengalaman Alfina menjadi cerminan bagi banyak perempuan di masa kini. Tuntutan untuk selalu kuat sering kali menimbulkan persepsi bahwa perempuan harus menyelesaikan segala sesuatu tanpa bantuan.

Padahal, memiliki dukungan, baik dari keluarga, pasangan, maupun lingkungan, justru merupakan elemen penting dalam proses pertumbuhan diri. Ketangguhan bukan semata tentang kemampuan bertahan, melainkan juga tentang keberanian untuk mengakui keterbatasan dan keterbukaan untuk menerima bantuan.

Di tengah berbagai peran yang dijalani, Alfina menekankan bahwa menjadi perempuan adalah anugerah yang perlu dijalani dengan penuh kesadaran dan rasa syukur. “Berbahagialah menjadi perempuan. Sibukkan diri dengan ilmu dan amal baik,” pungkasnya.

Advertisement