— Pelatih asal Turkiye, Bulent Karslioglu, sukses membawa Jakarta Pertamina Enduro meraih gelar juara Proliga 2026. Keberhasilan ini diraih usai mengalahkan Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia dengan skor 3-0 pada laga puncak di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Sabtu (25/4/2026).

Di balik kemenangan telak tersebut, Karslioglu menekankan pentingnya kekuatan mental dan adaptasi pemain terhadap sistem sebagai kunci utama menghadapi tekanan final. “Saya kemarin sudah katakan final itu berbeda, karena jika Anda memenangi gim pertamanya, adaptasinya akan sangat sulit, tetapi begitu juga kalau kita terlalu berambisi,” ujarnya.

Ia mengapresiasi karakter solid para pemainnya yang mampu bertahan di tengah kompetisi yang melelahkan. “Kemudian, strategi kami bekerja dengan baik dan saya sudah bilang bahwa kami punya pemain-pemain yang berkarakter bagus. Jadi, inilah kunci kemenangan kami,” tegas Karslioglu.

“Kami bermain untuk diri kami sendiri, untuk keluarga kami, untuk klub kami. Ada terlalu banyak drama dalam satu musim. Dari hari pertama sampai hari ini itu tidak mudah. Kami harus menunjukkan karakter, beradaptasi dengan sistem,” lanjutnya.

“Kami juga harus menderita untuk bisa tiba di sini dengan mudah. Kalau kami hanya mengganti ini dan itu, mengganti pemain asing, itu namanya panik. Namun, kami percaya dan kami bertahan,” tambah Karslioglu.

Kritik Penyelenggaraan dan Usulan Pindah ke Jakarta

Di tengah euforia juara, Karslioglu melontarkan kritik tajam terhadap kualitas penyelenggaraan liga, khususnya terkait suhu udara di dalam arena pertandingan yang dinilai kurang memadai. Ia menyoroti bahwa liga ini telah menarik perhatian penonton internasional.

“Orang-orang dari seluruh dunia menonton liga ini. Artinya, kita harus melakukan sesuatu, bagaimana caranya untuk menunjukkan yang terbaik kepada mereka,” katanya.

“Selain itu, arena pertandingannya, penyelenggaraannya, saya sangat sedih. Kenapa? Karena tidak ada yang fokus dengannya tetapi kalian hanya fokus dengan hasilnya,” keluhnya.

Sebagai solusi, Karslioglu mengusulkan agar pertandingan krusial seperti babak final diselenggarakan di ibu kota. Tujuannya adalah untuk menjamin fasilitas yang lebih baik dan aksesibilitas bagi tamu-tamu penting negara.

“Tahun lalu kami tidak harus (menarik napas) karena terlalu banyak orang di dalam. Kenapa kita tidak bermain di Jakarta?” tanyanya.

“Duta besar Turkiye menelpon saya, dia bilang ingin melihat pertandingan tetapi sangat sibuk, kalau kita bertanding di Jakarta… ini hanya salah satu contoh tetapi penting,” jelasnya.

“Mungkin dengan begitu, menteri olahraga mau datang, karena kalau ada duta besar yang datang, semua protokoler akan fokus ke olahraga ini,” tuturnya.

Sorotan Terhadap Format Final Four

Selain aspek fasilitas, Karslioglu juga mengevaluasi sistem kompetisi, khususnya format Final Four. Menurutnya, format ini cenderung kurang adil bagi tim yang telah menunjukkan performa konsisten sejak awal musim.

“Best-of-three dan best-of-five (tidak masalah) kalau kita tidak memainkan final four. Format best-of-three itu oke buat saya.”

“Namun, kami bermain di final four setelah kami bermain dua kali di babak reguler. Untuk apa? Hanya untuk mengejar posisi pertama tetapi kita memberi lawan kesempatan lagi. Ini tidak adil.”

“Kalau mau best-of-five seperti Liga Turkiye tidak apa-apa, tetapi kami tidak menggunakan playoff,” tutup Bulent Karslioglu.