Regional

Koster Bantah Penutupan TPA Suwung karena Investor: Bukan untuk Mal

Advertisement

DENPASAR, KOMPAS.com – Gubernur Bali I Wayan Koster membantah keras isu penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung berkaitan dengan kepentingan investor atau pembangunan fasilitas komersial seperti mal. Pernyataan ini disampaikan Koster saat berdialog dengan ratusan mahasiswa Universitas Udayana (Unud) yang menggelar aksi di Kantor DPRD Bali, Denpasar, Rabu (22/4/2026).

Aksi mahasiswa tersebut merupakan bentuk protes atas lambannya penanganan persoalan sampah di Pulau Dewata. Koster menjelaskan bahwa alasan penutupan TPA Suwung adalah untuk mendukung operasional fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang baru saja ditandatangani kerjasamanya.

“Bukan untuk mal atau fasilitas pariwisata lain yang dicurigai pihak lain. No, enggak ada (untuk mal),” tegas Koster di hadapan massa aksi. Ia menambahkan, setelah tumpukan sampah di TPA Suwung berhasil diproses oleh PSEL, kawasan tersebut akan diubah menjadi area terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, termasuk untuk jogging track.

Koster kembali menegaskan, “Tidak ada untuk investor, tidak ada itu.”

Sebelumnya, pada Selasa (21/4/2026), Gubernur Koster telah menandatangani perjanjian kerja sama pembangunan infrastruktur PSEL di Jakarta. Penandatanganan tersebut turut dihadiri oleh Bupati Badung Wayan Adi Arnawa dan Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, serta perwakilan pemerintah pusat.

Advertisement

Protes Mahasiswa atas Krisis Sampah

Ratusan mahasiswa Unud menggelar aksi pada hari itu dengan tuntutan solusi konkret terhadap permasalahan sampah yang kian mengkhawatirkan di Bali. Para mahasiswa membawa spanduk bertuliskan “Bali Pulau Seribu Sampah”, menyuarakan kekecewaan mereka terhadap kondisi lingkungan pulau yang identik dengan pariwisata.

Staf Advokasi dan Jejaring Masyarakat BEM Unud, Kesyawa, dalam orasinya menyoroti perubahan citra Bali. “Dulu Bali dikenal sebagai pulau seribu pura. Namun kini, menjadi pulau seribu sampah,” ujarnya.

Ia mempertanyakan, “Sampai kapan permasalahan yang tidak dituntaskan oleh pemerintah ini akan menyakiti rakyat sendiri?”

Ketua BEM Unud, I Gusti Ngurah Oka Paramahamsa, memperkirakan aksi ini diikuti oleh sekitar 100 hingga 200 mahasiswa. “Kita tidak diberi ruang untuk membicarakan ekonomi, kita tidak diberikan ruang untuk membicarakan pariwisata. Sekarang kita disuguhkan persoalan sampah,” keluh Gung Pram, sapaan akrabnya.

Advertisement