Akses.co.id — SALATIGA, KOMPAS.com — Di tengah riuhnya tren kopi kekinian, aroma khas kopi robusta yang pekat menyambut siapa saja yang melangkahkan kaki ke toko sederhana di Jalan Kalinyamat, Salatiga. Aroma itu seolah membawa kembali ingatan pada masa lalu, ketika secangkir kopi bukan hanya pelepas dahaga, melainkan juga penanda kehangatan dan keakraban. Di sinilah Kopi Babah Kacamata, sebuah warisan rasa, bertahan kokoh sejak pertengahan 1960-an hingga kini.
Nama “Babah Kacamata” yang melekat pada kedai kopi legendaris ini bukanlah hasil rekayasa pemasaran, melainkan buah dari kebiasaan sederhana sang penjual tempo dulu. “Dulu orang-orang menyebutnya ‘kopi babahe yang memakai kacamata’. Sebutan itu lebih mudah diingat, dan akhirnya saya mendaftarkan nama Babah Kacamata sebagai merk resmi,” tutur Astono, pemilik Kopi Babah Kacamata, saat ditemui Kompas.com pada Sabtu (25/4/2026).
Dari Gerobak Sederhana Menjadi Penanda Rasa
Perjalanan Kopi Babah Kacamata dimulai dari sebuah gerobak kecil milik orang tua Astono. Di era tersebut, kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. “Awalnya hanya gerobak kecil dan toko sederhana, tapi kopi yang dijual sudah punya rasa tersendiri. Orang tua saya sangat memperhatikan kualitas biji kopi dan cara merosting,” kenangnya.
Perhatian mendalam pada setiap detail proses inilah yang perlahan membangun loyalitas pelanggan. Melalui cerita dari mulut ke mulut, nama Babah Kacamata kian dikenal, tak hanya karena cita rasanya yang unik, tetapi juga karena sosok penjualnya yang berkesan.
Api Kayu Bakar, Tradisi yang Terjaga
Di era modern yang serba cepat, satu tradisi fundamental Kopi Babah Kacamata tetap tak tersentuh: cara menyangrai biji kopi. Hingga kini, api dari kayu bakar masih menjadi sumber panas utama, persis seperti puluhan tahun lalu. “Cara orang tua membuat kopi memang berbeda. Mereka memilih biji petik merah, menyortir sendiri, dan merosting dengan tingkat kematangan tertentu sampai aroma dan rasa benar-benar pas,” jelas Astono.
Biji kopi yang dipilih berasal dari wilayah Temanggung, didatangkan melalui jalur Ambarawa–Magelang. Setelah melalui proses seleksi, sangrai, dan penggilingan, kopi kemudian dikemas dalam berbagai ukuran sesuai permintaan pelanggan. “Saya memilih tetap pakai kayu bakar karena dari dulu itu yang dipakai, dan menghasilkan aroma serta rasa yang sangat khas,” imbuhnya.
Ciri khasnya adalah rasa yang kuat, sedikit pahit, namun kaya aroma—karakteristik robusta yang sangat pas untuk disajikan sebagai kopi tubruk.
Momen Baru di Panggung Gastronomi
Perjalanan panjang Kopi Babah Kacamata menemukan momentum baru ketika kedai ini dilibatkan dalam program Gastronomi Salatiga. “Sejak itu, kopi kami semakin dikenal luas, bukan hanya oleh warga Salatiga, tetapi juga oleh wisatawan dan penikmat kopi dari luar kota,” ujar Astono.
Dari sebuah toko yang semula sederhana, kopi ini kini bertransformasi menjadi salah satu identitas kuliner yang membanggakan bagi kota Salatiga.
Menavigasi Gelombang Kopi Modern
Namun, perjalanan Kopi Babah Kacamata tidak selalu mulus. Munculnya tren kopi modern dengan tawaran harga yang lebih kompetitif dan promosi gencar menjadi tantangan tersendiri. “Kopi modern sering menawarkan harga lebih murah dan promosi masif. Kami unggul di cita rasa yang khas dan mantap,” tegas Astono.
Untuk tetap relevan di mata generasi muda, Astono tak ragu merambah dunia digital dan aktif dalam kegiatan komunitas. “Kami sering jadi sponsor event kalangan muda supaya anak–anak muda bisa lebih mengenal kopi tradisional seperti kami,” katanya.
Di balik kesibukan tersebut, ada upaya krusial yang tak kalah penting: memastikan keberlanjutan usaha keluarga. Astono kini secara aktif melibatkan anak-anaknya dalam setiap tahapan produksi, mulai dari proses sangrai hingga pengemasan. “Kami latih mereka turut merosting, mengemas, dan mengelola usaha. Harapannya, mereka tertarik untuk melanjutkan dan mengembangkan warisan ini,” ucapnya penuh harap.
Di tengah maraknya kedai kopi kekinian, Kopi Babah Kacamata tetap teguh pada prinsipnya—mengandalkan cita rasa otentik, kesabaran dalam proses, dan kekayaan tradisi. Seperti aroma kopinya yang tak pernah berubah, kisah warisan rasa ini terus mengalir, hangat dan akrab, di setiap cangkir yang diseduh.
Ikuti Akses.co.id
