Akses.co.id — YOGYAKARTA – Kasus dugaan kekerasan terhadap anak kembali mencoreng dunia pendidikan non-formal di Yogyakarta. Sebanyak 53 dari 103 anak yang dititipkan di Daycare Little Aresa diduga menjadi korban penganiayaan oleh para pengasuhnya.
Temuan mengejutkan ini terungkap setelah aparat kepolisian melakukan penggerebekan di lokasi penitipan anak tersebut pada Jumat, 24 April 2026. Ironisnya, para korban mayoritas adalah balita, bahkan ditemukan bayi berusia tiga bulan yang diduga turut mengalami perlakuan kasar.
Pola Luka Seragam dan Dalih Pengelola
Dugaan kekerasan ini mulai terendus ketika sejumlah orang tua menemukan pola luka yang serupa pada tubuh anak-anak mereka. Luka-luka tersebut bervariasi, mulai dari kulit melepuh, bekas cubitan, cakaran, hingga luka di area punggung dan bibir.
Noorman, salah satu orang tua yang telah menitipkan dua anaknya di daycare tersebut sejak 2022, mengaku sempat curiga dengan luka-luka yang muncul. “Ada beberapa luka di bagian badan, tapi kebetulan anak saya juga pernah mengalami luka tersebut. Dan luka tersebut ternyata sama dengan luka anak orang tua lain yang anaknya dititipkan di sana, jadi kita tahu bahwa ternyata lukanya sama,” ungkap Noorman.
Lebih lanjut, Noorman mengungkapkan adanya upaya manipulasi dari pihak pengelola. Ia kerap dituduh bahwa luka tersebut sudah ada sejak dari rumah. “Jadi mereka bilang ini luka dari rumah ya, bun,” ujar Noorman menirukan dalih pihak daycare, padahal ia memastikan anaknya dalam kondisi bersih tanpa luka saat dimandikan di rumah.
Anak-anak Terancam Pneumonia
Selain luka fisik, mayoritas anak yang dititipkan di Daycare Little Aresa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan serius berupa pneumonia atau yang kerap disebut paru-paru basah. Penyakit ini merupakan infeksi akut pada alveoli yang terisi cairan atau nanah.
Choirunisa (34), orang tua korban lainnya, menceritakan kondisi putrinya yang baru berusia 1,5 tahun. Selain mengalami luka melepuh di kedua tangan yang diklaim pihak daycare sebagai cacar air, anaknya juga mengalami penurunan berat badan drastis dan gejala pernapasan akut. “Dia pilek sampai sekarang belum sembuh. Terus batuk, biasanya nggak pernah batuk. Batuknya sampai muntah-muntah terus. Berat badannya juga dari hampir sembilan, jadi turun sampai delapan,” kata Choirunisa sembari menunjukkan bukti foto luka anaknya.
Diduga, kondisi sanitasi yang buruk atau pola asuh yang tidak higienis di lokasi menjadi pemicu penyebaran bakteri, virus, atau jamur penyebab pneumonia di kalangan anak-anak tersebut. Gejala yang dialami para korban meliputi batuk berdahak, demam, menggigil, hingga sesak napas.
Trauma Psikologis dan 13 Tersangka
Dampak kekerasan ini tidak hanya meninggalkan bekas fisik, tetapi juga trauma psikis pada anak-anak. Choirunisa menyebut anaknya kini memiliki kebiasaan tidur di lantai tanpa alas, diduga akibat paksaan saat berada di daycare. “Dia menangis minta tidur di bawah, kebiasaan di daycare ternyata tidurnya di bawah,” terangnya dengan nada cemas.
Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizki Adrian, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam kasus ini. Berdasarkan penyelidikan sementara, aksi keji ini diduga telah berlangsung selama satu tahun.
“Ada yang umur dari 0 sampai 3 bulan itu berbeda-beda. Tapi, kalau jumlah semua kami lihat itu 103 (anak). Tapi kalau untuk yang kita lihat ada dugaan tindakan kekerasannya itu sekitar 53 anak,” tegas Adrian.
Pihak kepolisian masih terus melakukan pendalaman lebih lanjut untuk mengungkap motif dan durasi pasti penganiayaan tersebut. “Untuk informasi detailnya nanti hari Senin kami rilis,” pungkas Adrian.
Ikuti Akses.co.id
