— Komet PanSTARRS (C/2025 R3), sebuah objek langit yang sempat menyita perhatian karena kecerlangannya, kini telah terdeteksi memasuki jangkauan pandang satelit pengamat Matahari, Solar and Heliospheric Observatory (SOHO). Penampakan ini sekaligus menandai akhir perjalanannya di tata surya kita, karena komet yang berasal dari awan Oort ini diprediksi akan meninggalkannya untuk selamanya dan menjadi pengelana di ruang antarbintang.

Kehadiran komet PanSTARRS, yang pertama kali teridentifikasi pada September 2025 melalui fasilitas Pan-STARRS di Hawaii, telah menghidupkan kembali antusiasme di kalangan astronom. Komet ini menunjukkan aktivitas yang cukup signifikan dengan ekor panjangnya yang membentang antara 10 hingga 15 derajat.

Orbit komet ini memiliki karakteristik yang sangat khas. Jarak terdekatnya dengan Matahari, atau perihelion, hanya sekitar 75 juta kilometer, berada di antara orbit Merkurius dan Venus. Sementara itu, titik terjauhnya dari Matahari, aphelion, membentang sangat jauh hingga 942,5 miliar kilometer, atau sekitar 160 kali jarak Matahari ke Pluto.

Asal-usul dari Awan Oort

Menurut astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo dari Ekliptika, jarak aphelion yang ekstrem tersebut mengindikasikan asal-usul komet yang sangat jauh dari pusat tata surya. “Aphelion yang demikian jauh memperlihatkan bahwa komet PanSTARRS berasal dari awan komet Opik-Oort. Kawasan ini adalah reservoir bagi kometisimal di tepi terluar tata surya kita,” ujar Marufin kepada Kompas.com pada Jumat (24/4/2026).

Perubahan Orbit Menjadi Satu Arah

Sebelumnya, komet PanSTARRS membutuhkan waktu sekitar 170.000 tahun untuk menyelesaikan satu kali orbit mengelilingi Matahari. Namun, interaksinya yang dekat dengan Matahari pada periode ini telah mengubah takdir orbitnya secara drastis.

Kombinasi antara orbit yang sangat lonjong, kemiringan orbit yang besar mencapai 124 derajat, dan jarak perihelion yang sangat dekat dengan Matahari, telah membuat orbit komet ini menjadi tidak stabil. Gaya gravitasi Matahari dan planet-planet raksasa di sekitarnya memberikan “dorongan” yang mengubah bentuk lintasannya.

Marufin menjelaskan bahwa setelah melintasi titik perihelion pada 19 April 2026, komet ini tidak lagi memiliki orbit yang tertutup. “Simulasi dinamika orbit menunjukkan bahwa setelah melintasi perihelion, orbit komet PanSTARRS berubah menjadi berbentuk parabola, tidak lagi elips. Maka sang komet kini menempuh perjalanan satu arah: menjauhi Matahari dan Bumi kita untuk kelak keluar dari tata surya kita,” jelas Marufin.

Menuju Ruang Antarbintang

Dengan perubahan orbit menjadi parabola, komet PanSTARRS dipastikan tidak akan lagi tertarik kembali oleh gravitasi Matahari untuk kembali ke bagian dalam tata surya. Setelah teramati oleh satelit SOHO, komet ini akan terus bergerak menembus ruang hampa menuju ruang antarbintang.

Menariknya, sesaat sebelum komet memasuki medan pandang SOHO, sempat terjadi badai Matahari kelas M. Namun, para ilmuwan telah memastikan bahwa aktivitas Matahari tersebut tidak memiliki kaitan langsung dengan penampakan komet yang cukup terang ini.

Bagi masyarakat di Bumi, momen ini merupakan kesempatan terakhir untuk menyaksikan Komet PanSTARRS. Setelah ini, ia akan menghilang dalam kegelapan abadi di luar jangkauan gravitasi Matahari, menjadi pengelana kosmik yang takkan pernah kembali ke lingkungan tata surya kita.