— Kementerian Keuangan (Kemenkeu) membantah keras narasi yang beredar di media sosial mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia hanya cukup untuk tiga bulan. Kemenkeu menegaskan bahwa pengelolaan APBN tetap prudent, fleksibel, dan responsif terhadap dinamika yang ada, sehingga kondisi keuangan negara dipastikan sehat.

Narasi menyesatkan ini muncul di berbagai platform, termasuk TikTok, yang mengklaim bahwa APBN RI hanya mampu bertahan selama tiga bulan ke depan dan nilai tukar rupiah berpotensi terdepresiasi hingga Rp 20.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Unggahan tersebut, yang beredar sejak Kamis (23/4/2026), memicu kekhawatiran publik terkait kesehatan fiskal nasional.

Analisis independen yang beredar dalam narasi tersebut menyoroti potensi tekanan likuiditas dalam jangka pendek. Hal ini dikalkulasikan berdasarkan beban belanja program strategis yang menyerap dana masif setiap harinya, serta sinkronisasi antara beban belanja dengan ketersediaan ruang fiskal hingga periode Juli 2026. Kekhawatiran lain yang diangkat adalah potensi tantangan besar dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di kuartal mendatang jika keseimbangan kas tidak segera diperkuat.

Kemenkeu Tegaskan APBN Tetap Sehat

Menanggapi beredarnya informasi tersebut, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Deni Surjantono, secara tegas menyatakan bahwa klaim APBN hanya cukup untuk tiga bulan dan pelemahan rupiah hingga Rp 20.000 per dolar AS adalah tidak benar.

“APBN tetap dikelola secara prudent, fleksibel, dan responsif dalam merespons setiap dinamika, sehingga APBN tetap sehat,” ujar Deni, seperti dilaporkan Kompas.com pada Jumat (24/4/2026).

Pelemahan Rupiah Disebabkan Ketidakpastian Global

Terkait isu pelemahan nilai tukar rupiah, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah memang sempat tertekan ke level Rp 17.300 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/4/2026) pagi. Namun, pelemahan ini bukanlah indikasi masalah fundamental APBN.

Menurut Destry, pelemahan rupiah tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang turut menekan mata uang regional lainnya. Ia menekankan bahwa pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang negara-negara di kawasan yang juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS. “Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen,” ungkapnya dalam keterangan tertulis kepada media, Kamis.

Meskipun demikian, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Destry menyatakan bahwa BI akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan.

“Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tuturnya.

Kesimpulan

Dengan demikian, narasi yang mengklaim APBN hanya cukup untuk tiga bulan dan rupiah akan melemah hingga Rp 20.000 per dolar AS perlu diluruskan. Kemenkeu memastikan pengelolaan APBN berjalan dengan hati-hati dan sehat, sementara Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika global.