— Suara klakson di jalan raya yang kerap dianggap sepele, ternyata menyimpan potensi besar untuk memicu konflik. Dalam sekejap, ketegangan bisa timbul antar pengemudi, bahkan berujung pada perdebatan sengit. Fenomena ini bukan sekadar emosi sesaat, melainkan cerminan dari kondisi mental pengemudi yang sulit dikendalikan.

Sony Susmana, Director Training di Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang membuat konflik mudah tersulut, bahkan dari hal-hal kecil di jalan.

“Sedikit saja ada distraksi dari pengemudi lain, cuaca, mood, egonya timbul dan pasti mudah tersulut,” ujar Sony kepada Kompas.com, Sabtu (25/4/2026).

Ia menambahkan, ketika distraksi muncul, ego pengemudi dapat dengan cepat mengambil alih kendali. Respons yang seharusnya rasional bisa berubah menjadi emosional, sehingga tindakan seperti membalas klakson, mengejar kendaraan lain, hingga adu argumen di jalan menjadi sulit dihindari.

Pemicu Konflik di Jalan

Menurut Sony, salah satu pemicu utama konflik di jalan raya adalah karakter agresif yang dimiliki sebagian pengemudi.

“Ada beberapa hal yang membuat pengemudi ugal-ugalan di jalan, pertama bisa dari karakternya yang agresif,” katanya.

Tipe pengemudi seperti ini cenderung mudah terpancing dan memandang situasi di jalan sebagai sebuah tantangan. Hal ini membuat mereka lebih reaktif dan cenderung memulai konflik.

Selain karakter, faktor kompetensi juga berperan besar dalam memicu perselisihan.

“Yang kedua kompetensi,” ujar Sony. Pengemudi dengan kemampuan mengemudi yang kurang memadai seringkali tidak siap menghadapi situasi tak terduga. Hal ini membuat mereka lebih mudah panik atau merasa tersinggung ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di jalan.

Faktor ketiga yang tak kalah penting adalah kelelahan atau fatigue.

“Selanjutnya adalah fatigue atau kelelahan,” ucap Sony. Kondisi fisik dan mental yang lelah dapat menurunkan konsentrasi dan membuat emosi menjadi lebih labil. Akibatnya, toleransi terhadap pengguna jalan lain pun ikut berkurang, sehingga potensi konflik meningkat.

Sony mengingatkan bahwa ketiga faktor tersebut, yaitu karakter agresif, kompetensi yang kurang, dan kelelahan, harus dipahami dan dikelola dengan baik oleh setiap pengemudi.

“Jadi tiga hal ini benar-benar harus dijaga dan dipahami risikonya. Memang manusia pasti ada masalah, tapi tugas mereka juga bertanggung jawab terhadap keselamatan,” tutup Sony.