Akses.co.id — MALANG, KOMPAS.com – Verra Kusuma, warga Kota Malang, merasakan penghematan signifikan hingga jutaan rupiah per tahun setelah memutuskan meninggalkan sepeda motor dan beralih sepenuhnya ke sepeda selama dua tahun terakhir. Keputusan ini berawal dari rasa frustrasinya terhadap antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
“Awalnya saya merasa kenapa harus menghabiskan waktu untuk antre BBM. Dari situ kepikiran, ada enggak sih transportasi lain yang enggak perlu antre? Akhirnya saya pilih sepeda,” ujar Verra kepada Kompas.com pada Jumat (24/4/2026).
Kekhawatiran akan ketersediaan bahan bakar dan kenaikan harga BBM non-subsidi semakin memperkuat tekadnya. Kini, Verra mengaku terbebas dari beban pikiran mengenai urusan bahan bakar.
“Sekarang saya sudah enggak mikir lagi bensin masih ada atau enggak. Itu sangat meringankan dan bikin perjalanan lebih nyaman,” katanya.
Secara finansial, Verra merinci pengeluaran rutin yang sebelumnya ia alokasikan untuk kendaraan bermotor. Dalam setahun, ia memperkirakan biaya operasional meliputi:
- BBM: sekitar Rp 2,3 juta
- Servis: Rp 900.000
- Penggantian ban: Rp 628.000
- Sparepart: Rp 700.000
- Parkir harian: lebih dari Rp 1 juta
“Kalau ditotal, itu besar sekali. Sementara kalau pakai sepeda, parkir sering gratis. Jadi penghematan terasa banget,” jelasnya.
Keputusan Verra untuk bersepeda tidak sendirian. Sang suami turut mendukung penuh, bahkan keduanya sepakat untuk tidak lagi menggunakan sepeda motor dan menjadikan sepeda sebagai moda transportasi utama.
“Kami sudah dua tahun ini bersepeda bareng. Motor kami titipkan di rumah orangtua karena merasa belum butuh karena kita lebih nyaman dengan sepeda,” ungkapnya.
Disiplin dan Adaptasi
Meski menawarkan banyak keuntungan, Verra mengakui bahwa transisi ini menuntut kedisiplinan, terutama dalam hal manajemen waktu dan menghadapi kondisi cuaca. Perjalanan menggunakan sepeda memang membutuhkan waktu tempuh yang lebih lama dibandingkan sepeda motor.
“Kalau janji jam satu, harus berangkat lebih awal, bisa setengah jam sebelumnya. Jadi memang harus disiplin,” katanya.
Proses adaptasi ini tidak terjadi seketika. Verra membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan untuk benar-benar terbiasa dengan rutinitas barunya.
“Seminggu pertama itu berat, tapi masuk minggu kedua mulai terasa enak. Kita jadi lebih sadar lingkungan sekitar, bisa lihat hal-hal kecil yang sebelumnya terlewat,” ujarnya.
Selain penghematan biaya, Verra juga merasakan peningkatan kesadaran lingkungan sebagai manfaat tambahan dari kebiasaan bersepedanya.
Ia berharap pemerintah Kota Malang dapat lebih serius dalam membangun infrastruktur yang mendukung pesepeda. Hal ini, menurutnya, akan mendorong lebih banyak masyarakat untuk beralih ke transportasi alternatif.
“Agar efesiensi ini bisa dirasakan oleh masyarakat, ada syarat mutlak yang harus diseriusin pemerintah yakni dengan berbenah soal infrastruktur jalannya,” pungkas Verra.
Ikuti Akses.co.id
