Akses.co.id — SURABAYA, Kompas.com — Suster Yustina Klun Kolo, seorang biarawati asal Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur, berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Ia resmi diwisuda pada Kamis (23/4/2026) dari Program Studi D4 Analisis Kesehatan.
Dengan mengenakan seragam biarawati yang dipadukan dengan jas almamater hitam, Sr. Yustina tampak memancarkan senyum bangga saat namanya dipanggil ke podium.
Pengalaman studinya di UNUSA, sebuah perguruan tinggi yang terafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, diakui Sr. Yustina memberikan kesan mendalam. Ia merasakan langsung atmosfer kampus yang inklusif dan menjunjung tinggi toleransi.
“Saya merasakan langsung suasana kampus yang inklusif dan penuh toleransi. Interaksi dengan dosen maupun teman-teman berlangsung sangat baik, tanpa membedakan latar belakang,” ungkap Sr. Yustina.
Belajar di Lingkungan Mayoritas Muslim
Sebagai seorang penganut Katolik yang taat di lingkungan kampus yang mayoritas mahasiswanya berlatar belakang Islam, Sr. Yustina mengaku tidak pernah merasa terasing. Ia justru merasa diterima dengan baik oleh seluruh civitas akademika UNUSA.
Menurutnya, pengalaman ini telah memperkaya pemahamannya tentang kehidupan sosial yang harmonis dan penuh saling pengertian.
“Saya belajar memahami nilai-nilai keislaman yang moderat, sekaligus pentingnya hidup berdampingan secara harmonis. Dosen dan tenaga pendidikan bersikap adil, profesional, dan tidak membeda-bedakan mahasiswa,” kata Sr. Yustina.
Perbedaan Menjadi Kekuatan
Sr. Yustina, anak keempat dari tujuh bersaudara, memandang keberagaman di lingkungan kampus bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai kekuatan yang justru mempererat persatuan.
Ia meyakini bahwa perbedaan agama, ras, suku, dan budaya seharusnya menjadi sarana untuk saling mengenal dan menghargai satu sama lain.
“Perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang memperkuat persatuan. Perbedaan agama, ras, suku, dan budaya hendaknya menjadi sarana untuk saling mengenal dan menghargai,” ujarnya.
Perempuan kelahiran Dili, Timor Leste, pada tahun 1994 ini telah memutuskan untuk tidak kembali ke kampung halamannya di NTT setelah lulus. Ia memilih untuk mengabdikan ilmunya sebagai tenaga kesehatan di Rumah Sakit Katolik (RSK) Budi Rahayu yang berlokasi di Blitar, Jawa Timur.
Ikuti Akses.co.id
