Akses.co.id — Rasinah, seorang petani asal Bojonegoro, rela menempuh perjalanan sejauh 211 kilometer demi mendampingi cucu pertamanya, Khoirus, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Pusat UTBK Universitas Brawijaya (UB). Tak hanya Rasinah, keluarga besarnya pun turut serta memboyong untuk memberikan dukungan penuh. Demi menghemat biaya dan tetap dekat dengan cucunya, Rasinah memilih untuk menginap dan beristirahat di dalam mobil selama proses ujian berlangsung.
“Kami menginap dan istirahat di mobil saja. Tidak apa-apa, yang penting bisa mendampingi,” ujar Rasinah, seperti dilansir dari laman UB pada Kamis (23/4/2026). Baginya, fleksibilitas waktu yang dimiliki sebagai petani merupakan berkah tersendiri yang memungkinkannya menyaksikan momen penting dalam kehidupan cucunya.
Kisah Perjuangan Orang Tua Mendukung Anak di UTBK
Kisah pengorbanan Rasinah bukan satu-satunya. Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 juga diwarnai berbagai cerita tulus dari orang tua yang berjuang demi masa depan putra-putri mereka.
Zamzam, seorang ayah dari Kediri, menempuh perjalanan puluhan kilometer dengan sepeda motor untuk mengantar putranya, Sultan. Demi momen krusial ini, Zamzam rela mengambil cuti dua hari dan menanggalkan seragam kantornya.
”Saya berangkat dari Kediri kemarin, menginap di daerah Bukit Cemara Tujuh,” kisahnya. Ia meyakini bahwa menempuh jarak jauh dengan roda dua adalah bentuk dukungan paling nyata yang bisa ia berikan. “Ini tentang masa depan anak. Saya hanya ingin dia tahu bahwa ayahnya ada di sini, mendukung mimpinya sampai jadi nyata,” tegas Zamzam.
Di area Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), pasangan suami istri Sulastri dan Sunardi terlihat duduk tenang meski raut wajah mereka tak bisa menyembunyikan kecemasan. Keduanya datang jauh-jauh dari Probolinggo sejak pukul 03.00 dini hari untuk mendampingi putra mereka, Fahat, yang mengikuti UTBK untuk kedua kalinya setelah sempat gagal tahun lalu.
“Karena pernah gagal, sekarang semangatnya harus lebih tinggi. Kami ingin dia merasa yakin bahwa kegagalan kemarin bukan akhir,” tutur Sulastri dengan lembut. Kehadiran mereka menjadi penawar rasa trauma dan pengingat bagi Fahat bahwa ada bahu tempatnya bersandar, apapun hasil ujiannya nanti.
Dukungan tak melulu soal kehadiran fisik atau materi. Ardian, seorang pengemudi ojek daring asal Sawojajar, telah memulai perjuangannya jauh sebelum hari ujian. Di sela-sela waktu mencari penumpang, ia kerap mengirimkan tautan informasi soal-soal UTBK kepada anaknya.
”Saya ajak diskusi, saya amati proses belajarnya. Saya ingin dia siap secara mental,” ujar Ardian. Meski harus mengejar setoran, ia tetap memilih hadir langsung di kampus UB untuk memastikan sang anak tidak merasa berjuang sendirian.
Ikuti Akses.co.id
